
Hai ... Author mau menyapa lagi, nih! ☺️
Seperti yang Author bilang sebelumnya, ini hanya "Ekstra Part". Kalo Ending ... Ya, cerita ini memang udah selesai dan "Happy Ending" karena Dea dan Alfa sudah bahagia bersama keluarga kecilnya.
Namun, di sini Author cuma ingin memberikan sedikit pelajaran buat Susi Similikiti aja. Jadi, yang ingin lanjut baca, Monggo ... dipersilakan. Buat yang gak mau lanjut, skip aja 🤭☺️
Oke, Readers tersayang 🥰🥰🥰
❤️❤️❤️
"Ada apa, Susi?" Herman bergegas menghampiri Susi yang sejak tadi sudah menunggu kedatangannya.
"Mas Herman, kemari lah!" Susi menarik tangan Herman kemudian membawanya untuk duduk bersama di sofa ruang depan.
"Susi, kamu belum menjawab pertanyaanku. Sebenarnya ada apa ini? Apa Virna sudah ditemukan?" tanya Herman dengan wajah heran.
Susi terisak sembari menyerahkan ponselnya kepada Herman. "Tunggulah sebentar lagi, mereka pasti akan menghubungiku dan Mas bicaralah sama mereka," ucap Susi.
"Mereka? Mereka siapa?!" Herman meraih ponsel tersebut dari tangan Susi sambil menatap istrinya itu tanpa berkedip sedikit pun.
"Mereka, para penculik yang sudah menculik Virna, Mas. Virna diculik dan mereka minta kita memberikan sejumlah uang untuk menebus Virna," jelas Susi sambil terisak menatap Herman.
__ADS_1
"Apa? Virna di culik!" pekik Herman.
Baru saja Susi membuka bibirnya untuk membalas ucapan Herman, tiba-tiba saja ponselnya berdering. Para penculik itu kembali menghubungi nomor ponsel milik Susi.
"Virna?!" pekik Herman sambil memperlihatkan nama Virna yang tertera di layar ponsel milik Susi.
Susi menggelengkan kepalanya pelan. "Bukan, Mas. Itu mereka, para penculik itu," sambung Susi.
Herman bergegas menerima panggilan itu kemudian meletakkan ponsel tersebut ke samping telinganya.
"Hallo?"
"Hallo, Pak Herman! Apa kabar? Saya yakin Bu Susi sudah membicarakan kepada Anda siapa kami sebenarnya, ya 'kan?" sahut lelaki itu.
"Sudah saya bilang sebelumnya kepada istri Anda bahwa Virna baik-baik saja. Tapi, bukan berarti selamanya ia akan seperti itu. Keselamatan Virna ada di tangan kalian. Jika kalian ingin Virna selamat maka berikan kami sejumlah uang," ucap lelaki itu.
"Baiklah. Sebutkan, berapa yang kalian inginkan?" Herman memasang telinganya baik-baik untuk mendengarkan jawaban dari penculik itu.
"Satu milyar kami rasa sudah cukup," sahut pria itu sambil menyeringai tipis.
"Satu milyar! Apa kalian sudah gila? Dari mana kami mendapatkan uang sebanyak itu!" pekik Herman dengan wajah panik.
__ADS_1
Pria itu tergelak. "Oh ayolah, Pak Herman. Uang segitu pasti bukanlah apa-apa buat kalian. Kalian 'kan orang kaya."
"Kalian salah sasaran, Tuan! Kami hanya orang biasa dan uang sejumlah satu milyar itu adalah sesuatu yang mustahil untuk kami dapatkan dalam waktu dekat ini," ucap Herman.
Lagi-lagi lelaki itu tergelak. "Itu bukanlah urusan kami dan kami tidak mau tahu, pokoknya Anda harus menyerahkan uang itu besok pagi. Jika Anda tidak bisa memberikannya, maka bersiap-siaplah menyambut kedatangan mayat putri Anda," jawabnya tanpa beban.
"Apa! Hallo-hallo!" Herman masih ingin bicara dengan lelaki itu. Namun, panggilan itu kembali diputuskan.
"Kamu lihat 'kan, Susi! Ini semua akibat kesombonganmu!" kesal Herman sembari melemparkan ponsel itu ke sofa, tepat di samping Susi yang masih terisak di tempat itu.
Susi mengangkat kepalanya dan ia menatap Herman sambil memelas tanpa bicara sepatah kata pun. Melawan pun tidak ada gunanya karena Herman benar, semua yang terjadi pada Virna adalah akibat dari perbuatannya.
"Seandainya kamu tidak angkuh dengan memamerkan seluruh perhiasanmu, mungkin hal ini tidak akan pernah terjadi! Jika sekali saja kamu mendengarkan omongan suamimu yang tidak berguna ini, mungkin sampai sekarang Virna masih aman bersama kita!" teriak Herman dengan penuh emosi.
"Maafkan aku, Mas! Maafkan aku," lirih Susi sembari menjatuhkan dirinya di hadapan Herman kemudian memeluk kaki suaminya itu.
"Lepaskan kakiku! Semuanya sudah terjadi dan tidak akan pernah kembali seperti semula, Susi! Sekarang kamu pikirkan, dari mana kita mencari uang sebanyak satu milyar untuk diserahkan besok pagi kepada para penculik itu!"
"Sa-satu milyar, Mas?" Susi mengangkat kepalanya dan menatap Herman yang masih terlihat emosi.
"Ya! Satu milyar! Jumlah uang yang begitu mustahil aku dapatkan dalam waktu dekat. Apalagi besok hari!" kesal Herman.
__ADS_1
"Ya, Tuhan!" pekik Susi dan kembali terisak.
***