Benih Sang Pewaris

Benih Sang Pewaris
Bab 63


__ADS_3

"Aku yakin, walaupun aku menjelaskannya secara terperinci padamu, kamu tidak akan pernah ingat, Alfa. Sebaiknya kamu ikut denganku, kita berangkat ke suatu tempat. Siapa tahu setelah ini kamu dapat mengingat semuanya."


Alfa menautkan kedua alisnya heran. "Kemana?"


"Ke suatu tempat di mana semua kejadian itu berasal," jawab Ervan.


Ervan mengajak Alfa keluar dari ruangan itu kemudian berjalan menuju halaman depan rumahnya. Setibanya di tempat itu, Pak Sopir segera membantu Ervan masuk ke dalam mobil kemudian di susul oleh Alfa.


"Sebenarnya kita mau kemana, Ervan? Jangan buat aku semakin bingung," tanya Alfa kepada Ervan yang kini duduk di sampingnya.


Ervan tidak menjawab. Ia malah memerintahkan pak sopirnya untuk segera melajukan mobil tersebut.


"Jalan, Pak."


"Baik, Tuan."


Sementara itu.


Dea akhirnya sadar. Ia mengerjapkan kedua matanya kemudian memperhatikan sekeliling ruangan bernuansa putih tersebut.


"Di mana aku?" gumam Dea sambil mengucek matanya. Setelah melihat sebuah infus menggantung di atas kepalanya serta jarum infus yang kini tertancap di pergelangan tangannya, Dea pun akhirnya sadar bahwa saat itu ia sedang berada di Rumah Sakit.


"Siapa yang membawaku ke sini?"

__ADS_1


"Tuan Alfa, suami Anda."


Tiba-tiba terdengar suara seorang wanita menyahut. Dea segera menoleh dan ternyata suara itu adalah suara perawat yang diminta Alfa untuk menjaganya.


"Tuan Alfa?" Dea menautkan kedua alisnya heran sambil mengingat-ingat kejadian yang terjadi sebelum ia jatuh pingsan.


"Oh, ya, Tuhan!" Akhirnya Dea ingat semuanya. Perlahan ia bangkit dari posisinya kemudian di tepian ranjang.


Menyaksikan hal itu, perawat itu pun bergegas menghampiri Dea. "Nona mau kemana? Sebaiknya Nona istirahat saja dulu. Pulihkan kondisi Nona."


Perawat itu menahan Dea yang ingin beranjak dari bed pasien tersebut. Namun, bukannya menggubris ucapan perawat, Dea malah semakin bertindak nekat. Ia mencabut jarum infus yang tertancap di tangannya dengan kasar.


Tampak darah segar keluar di lubang bekas tusukan jarum infus tersebut, tetapi Dea tidak peduli dan ia terus mencoba kabur dari ruangan itu. Perawat begitu panik, ia bahkan sampai memohon agar Dea tidak pergi.


Dea kembali meradang. Ia menepis tangan wanita itu dari tubuhnya dengan sangat kasar. "Berhentilah menyebut lelaki itu sebagai suamiku! Dia bukan suamiku, dia adalah lelaki bajing*n yang sudah menghancurkan hidupku!"


Dengan tergopoh-gopoh, Dea melangkah keluar dari ruangan tersebut. Sementara perawat itu hanya terdiam sambil menatap Dea yang menjauh dengan wajah heran. Ia tidak mengerti kenapa Dea begitu marah ketika ia menyebut Alfa sebagai suaminya.


Dengan penuh perjuangan, kini Dea berada di halaman depan Rumah Sakit. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri mencari taksi atau apapun yang bisa membawanya kembali ke kontrakan. Hingga selang beberapa saat, ia pun berhasil menemukan ojek online yang tidak sengaja lewat dan bersedia mengantarkannya ke kontrakan.


"Kenapa kesialan ini terus saja menimpaku? Aku sudah berusaha keras melupakan kejadian itu. Dan aku tidak mengerti kenapa Tuhan malah memberiku cobaan dengan kembali menghadirkan lelaki bej*t itu ke kehidupanku," gumam Dea dalam hati.


"Mbak, kita sudah sampai," ucap Tukang Ojek.

__ADS_1


"Hah?" Dea bahkan tidak menyadari bahwa ternyata ia sudah berada tepat di depan kontrakannya.


Setelah menyadari hal itu, Dea pun segera turun dari motor kemudian membayar jasa tukang ojek tersebut.


"Terima kasih, Pak."


"Sama-sama, Mbak."


Ketika ia membuka pintu kontrakan, ternyata Nadia ada di sana. Gadis itu menghampiri Dea dengan wajah cemas kemudian memeluknya.


"Kamu dari mana, Dea? Aku sangat mengkhawatirkanmu," tanya Nadia sembari melerai pelukannya bersama Dea.


Dea memperhatikan ruangan itu, di mana ia dan Alfa sempat bersitegang. Ruangan itu sudah bersih dan seakan tidak terjadi apapun di sana. Kelopak bunga yang tadi berserakan di lantai pun sudah tidak lagi terlihat. Sementara boneka beruang lucu pemberian Alfa ada di atas meja, di salah satu sudut ruangan.


"Sebaiknya kamu buang saja boneka itu, Nad. Aku tidak butuh boneka itu!" ketus Dea.


"Boneka beruang itu? Tapi kenapa?" tanya Nadia heran.


"Boneka itu milik Alfa dan aku tidak butuh apapun dari lelaki itu. Termasuk boneka itu," jawab Dea dengan wajah kesal. Ia menjatuhkan dirinya ke sofa kemudian memeluk kedua kakinya yang sengaja ia tekuk.


Nadia ikut duduk di samping Dea kemudian mengelus lembut rambutnya. "Baiklah, nanti akan aku singkirkan boneka itu."


...***...

__ADS_1


__ADS_2