
Tidak seperti yang dikatakan oleh Alfa sebelumnya, ternyata bukannya semakin rileks, Dea malah semakin ketakutan. Bahkan saking takutnya, ia tidak bisa melepaskan lengan Alfa yang sejak tadi peluk dengan erat.
Karena sadar bahwa hal itu adalah momen langka yang tidak akan terjadi dua kali, Alfa pun memanfaatkannya dengan sangat baik. Ia meraih tubuh Dea kemudian membawanya ke dalam pelukannya.
"Kamu tenang saja, ya. Sebentar lagi kita akan mendarat," ucap Alfa sembari mengelus lembut puncak kepala Dea yang kini bersandar di dadanya.
"Andai tahu akan jadi seperti ini, lebih baik aku memilih pulang dengan naik mobil saja," gumam Dea dalam hati.
Hingga beberapa saat kemudian. Heli yang ditumpangi oleh Alfa dan Dea telah mendarat dengan mulus di halaman rumah megahnya. Dea yang pertama kalinya menginjakkan kaki di bangunan semegah itu, hanya bisa terpelongo dengan mata membesar. Benar-benar di luar ekspektasinya.
Alfa tersenyum melihat reaksi Dea kemudian meraih tangan gadis itu. "Sekarang rumah ini adalah rumahmu juga. Di mana kita akan menghabiskan waktu kita bersama-sama di sini. Aku, kamu dan anak kita."
Tatapan Dea yang tadinya fokus pada bangunan megah yang berdiri di depannya, kini beralih pada Alfa. Ia menatap lekat kedua bola mata indah milik Alfa tanpa bisa berkata apa pun. Namun, ia tahu bahwa saat itu Alfa begitu tulus mengatakannya.
"Ya, sudah. Sebaiknya kita masuk," lanjut Alfa karena Dea tak kunjung menjawab pertanyaan darinya.
"Ehm, sepertinya aku butuh istirahat. Aku sangat lelah dan kepalaku juga masih terasa pusing," ucap Dea kemudian.
Alfa mengangguk pelan sambil tersenyum. "Baiklah, sebaiknya kita langsung ke kamar dan beristirahatlah," sahut Alfa.
Alfa menuntun Dea memasuki rumah megahnya, ruangan demi ruangan hingga akhirnya mereka tiba di dasar tangga. Tiba-tiba Alfa teringat bahwa ada calon buah hatinya di dalam kandungan gadis itu.
__ADS_1
Lelaki itu mengurungkan niatnya menaiki tangga tersebut kemudian kembali menuntun Dea ke salah satu sudut ruangan. Di mana terdapat sebuah lift yang biasa digunakan oleh kedua orang tuanya untuk mencapai lantai atas.
"Kita naik lift saja, lebih aman untukmu dan bayi kita," ucap Alfa.
Hanya dalam waktu sekejap, pasangan itu pun tiba di lantai puncak, di mana kamar milik Alfa berada. Ia mengajak Dea memasuki kamar tersebut kemudian mempersilakannya untuk berbaring di atas tempat tidur mewah berukuran King Size tersebut.
"Istirahat lah. Jika kamu butuh sesuatu, tekan saja tombol itu dan pelayan akan segera datang ke sini," ucap Alfa kepada Dea sambil menunjuk sebuah tombol di dinding yang terletak tak jauh dari tempat tidurnya.
Dea mengangguk pelan kemudian segera membaringkan tubuh lelahnya di atas tempat tidur. Sementara Alfa bergegas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
***
"Di mana, Dea?" tanya Nyonya Kharisma.
"Di kamar, Mom. Dia kelelahan sebab di perjalanan ia begitu ketakutan. Maklum, ini pengalaman pertamanya menaiki heli," ucap Alfa sambil terkekeh pelan.
"Hhh, kamu ini! Apa kamu lupa bagaimana reaksimu ketika naik heli pertama kali? Kamu teriak-teriak seperti orang gila sampai Pak Hendri (pilot) geleng-geleng kepala," sahut Nyonya Kharisma sambil memasang wajah malas.
"Kasihan gadis itu. Sebaiknya Mommy mandi dulu, baru setelah itu menemuinya," lanjut Nyonya Kharisma sambil melenggang pergi.
Satu jam kemudian.
__ADS_1
Setelah selesai mandi dan berpakaian, Nyonya Kharisma segera menuju kamar milik Alfa. Ketika membuka pintu kamar tersebut, ia tidak melihat Dea di atas tempat tidur.
"Dea, kamu di dalam?" panggil Nyonya Kharisma.
Namun, tidak ada sahutan dari dalam ruangan bernuansa maskulin tersebut. Karena penasaran, akhirnya wanita paruh baya itu memilih masuk dan mencari keberadaan Dea.
"Dea sayang, kamu di mana, Nak?" tanyanya.
Masih tidak ada jawaban, hingga Nyonya Kharisma pun berinisiatif untuk mencari keberadaan Dea di ruangan-ruangan yang ada di dalam kamar tersebut. Pertama ruang ganti pakaian, di mana koleksi setelan kemeja serta jas mahal milik Alfa berjejer di sana. Tak ada siapa pun di sana.
"Di mana gadis itu? Apa dia sedang berada di kamar mandi, ya?" gumam Nyonya Kharisma.
Kini tatapan wanita paruh baya itu tertuju pada pintu kamar mandi yang ternyata tidak tertutup rapat. Perlahan Nyonya Kharisma menghampiri ruangan itu kemudian membukanya.
"Dea sayang, kamu di dalam?" panggil Nyonya Kharisma sambil melongokkan kepalanya ke dalam ruangan itu.
Karena masih tidak ada jawaban, akhirnya wanita patuh baya itu memutuskan untuk masuk ke dalam sana dan memeriksa ruangan itu. Tiba-tiba matanya tertuju pada salah satu sudut ruangan itu.
"Dea! Kamu kenapa, Nak!" pekik Nyonya Kharisma.
...***...
__ADS_1