
"Eh, ternyata benar! Mereka orang tua Alfa loh, Mas," pekik Susi sambil menepuk pundak Herman yang masih terbengong-bengong menatap kebersamaan pasangan paruh baya itu bersama Dea dan Alfa di depan pelaminan.
"Alfa-Alfa!" Herman mendengus sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Dia harus menjelaskan ini kepada kita semua."
"Ya, tapi sebelum itu sebaiknya kita nikahkan dulu mereka. Kasihan Pak Penghulu sudah menunggu mereka sejak tadi," ucap Susi sembari mendorong pelan Herman dan meminta lelaki itu menjemput Alfa, Dea serta kedua orang tua lelaki itu.
"Ya, kamu benar."
Herman segera menghampiri mereka dan mengajaknya ke tempat di mana pak penghulu dan yang lainnya sudah menunggu.
"Mari, Tuan, Nyonya," ucap Herman sambil tersenyum hangat.
"Mari-mari." Tuan Harry mengangguk pelan kemudian menuntun sang istri.
Sementara Alfa dan Dea sudah berjalan di depan mereka. Setibanya di ruangan itu, pasangan pengantin itu pun segera duduk tepat di depan penghulu. Sementara Tuan Harry dan istrinya duduk tak jauh dari mereka.
Tepat sebelum acara tersebut dimulai, tiba-tiba Nadia muncul di pesta tersebut sambil mendorong sebuah kursi roda, di mana Ervan duduk di atasnya sambil tersenyum kepada seluruh orang di sana.
Dea tersenyum bahagia saat ia melihat sosok gadis yang selama ini sangat ia rindukan, datang ke pesta pernikahannya. Namun, senyum itu mendadak sirna tatkala ia sadar siapa yang tengah duduk di kursi roda tersebut.
Dea sontak melirik Alfa dengan tatapan sinisnya sementara Alfa hanya bisa cengar-cengir sambil mengelus tengkuknya.
"Aku benci kalian!" seru Dea dengan bahasa bibir.
__ADS_1
Setelah Ervan dan Nadia mengambil posisi mereka, acara pun segera di mulai.
***
"Bagaimana, saksi-saksi, sah?"
"Sah!"
"Hentikan! Acara pernikahan ini tidak sah! Acara pernikahan ini tidak boleh terjadi! Aku tidak terima!"
Tiba-tiba terdengar suara teriakan dari kejauhan. Semua mata pun langsung tertuju pada sosok lelaki yang tadi berteriak lantang. Lelaki itu adalah Julian. Ia masih tidak bisa menerima kenyataan bahwa Dea sudah sah diperistri oleh Alfa.
Beruntung Alfa sudah menugaskan beberapa orang bodyguard untuk menjaga keamanan di pesta pernikahannya tersebut. Julian yang ingin membuat onar di pesta itu, segera di halau dan di amankan oleh para lelaki bertubuh besar itu.
"Baik, Tuan."
Sementara keluarga dari pihak Julian hanya bisa menahan malu. Mereka sudah mencoba menahan Julian agar tidak membuat onar lagi. Namun, pria itu masih saja nekad dan kembali membuat keributan.
Berbeda halnya dengan Ibunda Julian. Wanita itu sudah seminggu penuh mengurung diri di dalam rumah tanpa berani menunjukkan wajahnya kepada seluruh warga desa.
Selain malu akan kelakuan Julian yang sudah tidak terkendali, ia juga malu karena pernikahan Dea benar-benar diselenggarakan secara meriah dan mengalahkan kemeriahan pesta pernikahan Julian dan Reva beberapa waktu yang lalu.
"Lepaskan aku! Dea, aku masih mencintaimu! Sangat," teriak Julian yang kini tengah di seret oleh para Bodyguard ke tempat yang aman, di mana lelaki itu tidak bisa membuat keributan lagi.
__ADS_1
"Baik, sekarang lanjutkan acara yang sempat tertunda. Nak Alfa, sekarang kamu bisa memasangkan cincin ke jari manis istrimu," lanjut Pak Penghulu.
Tuan Harry menepuk lengan Nyonya Kharisma. "Eh, Sayang! Mana cincinnya?!"
"Ah, iya! Astaga, hampir saja aku lupa!"
Nyonya Kharisma bergegas bangkit kemudian menghampiri Alfa. Alfa yang ingin memasangkan cincin berlian pembeliannya ke jari manis Dea, tiba-tiba menghentikan aksinya kemudian menatap sang mommy dengan wajah heran.
"Kenapa, Mom?"
"Ganti cincinnya! Berikan yang ini saja. Cincin ini adalah cincin yang diwariskan secara turun-temurun dan sekarang Mommy ingin Dea yang mewarisinya," sahut Nyonya Kharisma sembari meraih cincin milik Alfa kemudian menggantinya dengan cincin miliknya.
"Wah, kenapa Mommy tidak pernah bercerita soal ini?" Alfa tersenyum semringah menyambut cincin itu.
"Ha, lalu membiarkan kamu memberikan cincin ini kepada wanita sembarangan? Tidak, Alfa! Cincin ini hanya akan Mommy serahkan kepada wanita yang tepat dan Dea adalah wanita itu," sahut Nyonya Kharisma.
"Ayo, cepat! Pasangkan cincin itu ke jari Dea," lanjutnya.
Alfa pun bergegas memasangkan cincin tersebut ke jari manis Dea kemudian bergantian, Dea juga memasangkan cincin silver milik Alfa ke jari manis lelaki itu.
Acara pemasangan cincin pun selesai. Kini tiba saatnya sesi foto-foto bersama. Alfa dan Dea kembali ke pelaminan mereka. Seluruh keluarga, baik itu dari pihak Alfa maupun dari pihak Dea, berbondong-bondong menaiki pelaminan kemudian mengabadikan momen-momen bahagia mereka tersebut di depan kamera seorang fotografer handal.
"Ok, satu ... dua ... tiga ... Cheese!!!"
__ADS_1
...***...