Benih Sang Pewaris

Benih Sang Pewaris
Bab 60


__ADS_3

"Om duluan saja. Nanti aku akan segera menyusul," ucap Alfa kepada David ketika mereka sudah tiba di perusahaannya.


"Baik, Tuan." David pun menurut saja. Ia bergegas pergi dari tempat itu dan meninggalkan Alfa di sana.


Sepeninggal David, Alfa bergegas masuk ke dalam lift menuju lantai 15, di mana ia dan Dea bertemu. Rencananya hari ini Alfa ingin menemui gadis itu sekali lagi kemudian meminta maaf. Bukan hanya itu, karena hari ini adalah hari ulang tahun Dea, ia pun ingin mengucapkan selamat ulang tahun untuknya.


Sementara itu di kontrakan Nadia.


"Serius, kamu tidak ingin masuk kerja hari ini?" tanya Nadia lagi untuk memastikan.


Dea menggelengkan kepalanya perlahan. "Tidak, Nad. Aku sangat yakin bahwa hari ini aku pasti akan mendapatkan surat pemecatan."


Nadia mengembuskan napas berat. "Ya, sudah kalau begitu. Aku berangkat dulu ya, Dea. Soalnya aku sudah terlambat."


"Ya. Hati-hati di jalan, ya!"


"Ya. Bye!"


Nadia bergegas pergi. Ia melangkah dengan cepat menuju perusahaan besar Algra Group. Sementara Dea memilih beristirahat di rumah kontrakan tersebut untuk menenangkan diri.


Kembali ke Alfa yang masih menunggu kehadiran Dea. Terlihat beberapa kali Alfa melirik jam tangan mewahnya kemudian memperhatikan sekeliling ruangan itu.


"Ya ampun, di mana gadis itu? Apa dia tidak masuk kerja hari ini?" gumam Alfa.

__ADS_1


Tiba-tiba salah seorang karyawan di ruangan itu menghampiri Alfa sembari membungkuk hormat. "Ada yang bisa saya bantu, Tuan?"


"Ehm, aku ingin bertanya soal Office Girl yang kemarin tidak sengaja menabrak ku. Di mana dia? Apa dia sudah datang?" tanya Alfa.


"Dea? Sepertinya dia belum datang, Tuan. Tapi tunggu sebentar ...." Karyawan itu memperhatikan Nadia yang berjalan memasuki ruangan itu.


"Nah, itu dia sahabatnya. Sebentar, biar saya tanyakan sama dia," lanjutnya.


Karyawan itu berjalan menghampiri Nadia. "Hei, kamu sahabatnya Dea, 'kan? Apa dia sudah datang?"


Nadia yang masih belum menyadari keberadaan Alfa di ruangan itu, menggelengkan kepalanya pelan.


"Dia tidak masuk kerja hari ini. Katanya dia sedang tidak enak badan," jawab Nadia.


Mendengar penjelasan dari Nadia, Alfa pun segera menghampiri mereka. "Dia sakit? Sakit apa?"


"Kamu belum menjawab pertanyaanku. Sebenarnya Dea sakit apa? Apa ini ada hubungannya dengan kejadian kemarin?" tanya Alfa dengan wajah cemas.


Nadia bingung harus menjawab apa. "Di-dia hanya sedikit pusing, Tuan. Itu saja," jawab Nadia dengan terbata-bata.


Alfa tidak ingin melanjutkan pembicaraannya bersama Nadia atau pun karyawan itu. Ia bergegas pergi dan kembali menuju ruangannya.


David bingung saat ia memperhatikan Alfa yang tampak panik. Alfa duduk di kursi kemudian meraih berkas informasi data diri milik Dea yang ia simpan di laci mejanya kemudian memeriksanya sekali lagi.

__ADS_1


"Maaf, Tuan Alfa? Sebenarnya ada masalah apa? Mungkin saya bisa membantu?"


Alfa menggelengkan kepala kemudian mencatat sesuatu ke dalam ponselnya tanpa menjawab pertanyaan dari David. Setelah selesai mencatat informasi penting tentang Dea, Alfa pun kembali bangkit dan menghampiri David.


"Om, boleh aku pinjam mobilmu?" Alfa mengulurkan tangannya ke hadapan David.


David mengangguk pelan kemudian menyerahkan kunci mobilnya kepada Alfa. "Tentu saja, Tuan Alfa."


Setelah mendapatkan kunci mobil tersebut, Alfa bergegas pergi tanpa pamit kepada David. Sedangkan David hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan melihat kelakuan Alfa.


Kini Alfa tiba di tempat parkir. Ia masuk ke dalam mobil milik David kemudian melajukannya ke alamat kontrakan Dea. Alfa terkekeh pelan setelah menyadari bahwa kontrakan gadis itu sangatlah dekat dengan perusahaannya.


"Ya ampun, padahal dengan jalan kaki pun bisa. Tapi, ya sudahlah. Sekalian saja aku mencari hadiah untuk Dea sebagai permintaan maaf serta kado ulang tahun untuknya."


Beberapa saat kemudian.


Alfa kembali menuju kontrakan yang ditempati oleh Dea dengan membawa buket bunga, boneka beruang berukuran cukup besar serta coklat batangan yang dibungkus dengan sedemikian rupa. Setelah memarkirkan mobilnya di tempat yang aman, Alfa pun segera menghampiri pintu kontrakan Dea dengan benda-benda tersebut di tangannya.


Tok, tok, tok!


Dea tersentak kaget. Ia menautkan kedua alisnya heran setelah mendengar suara ketukan dari luar pintu.


"Siapa, ya? Apa mungkin itu Nadia? Ah, rasanya tidak mungkin. Atau ... jangan-jangan itu pemilik kontrakan yang ingin mengambil uang sewa kontrakan rumah ini? Tapi, ini 'kan belum waktunya," gumam Dea seraya melangkah menuju pintu depan.

__ADS_1


Semakin ia mendekat, semakin kencang pula suara ketukan itu. "Iya, sebentar!" ucap Dea dengan setengah berteriak agar seseorang di luar sana mendengar ucapannya.


...***...


__ADS_2