
"Aduh, tubuhku rasanya sakit samua! Mas Alfa keterlaluan, setelah dikasih izin dia lupa segala-galanya," keluh Dea sembari turun dari tempat tidur mewahnya. Ia melenggang dengan langkah yang tampak aneh menuju kamar mandi.
Antara sadar dan tidak, Alfa mendengar ocehan istrinya itu. Ia membuka sedikit matanya kemudian melirik Dea yang sedang melenggang ke kamar mandi.
"Sayang, kenapa jalanmu seperti itu?" tanya Alfa yang terperanjat melihat gaya jalan Dea pagi itu. Jalannya ngangkang dan tampaknya Dea sangat tidak nyaman dengan area pribadinya.
Alfa bergegas bangkit kemudian menghampiri Dea yang hampir sampai di depan pintu kamar mandi.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Alfa sekali lagi sambil memperhatikan tubuh Dea dari atas kepala hingga ke ujung kaki.
"Tidak apa-apa, Mas. Hanya saja Miss-ku terasa lebih tebal dari sebelumnya setelah dikunjungi oleh Junior-mu tadi malam," sahut Dea sambil memasang wajah masam.
Alfa terkekeh pelan kemudian mengangkat tubuh Dea dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi. "Maafkan juniorku, Sayang. Dia maruk," ucap Alfa.
"Tapi janji, besok malam aku tidak akan minta sebanyak tadi malam. Sumpah!" lanjutnya seraya menurunkan tubuh Dea dengan perlahan.
"Janji ya, Mas."
"Iya, janji. Sini, buka kakimu biar aku bantu membersihkannya." Alfa mencoba menggapai kaki Dea, tetapi segera ditepis oleh gadis itu.
"Jangan, Mas. Aku bisa sendiri," ucap Dea sambil menutup rapat kedua kakinya.
Alfa tersenyum kemudian menatap wajah Dea yang tampak tersipu malu. "Kenapa, Sayang? Jangan malu, aku 'kan suamimu dan aku sudah melihat seluruh tubuhmu tanpa terkecuali. Bahkan aku tahu di mana saja letak tahi lalatmu."
Dea tertawa pelan. "Iya-iya, baiklah."
__ADS_1
Dea duduk di pinggiran bathub kemudian membuka kakinya sedikit. Sementara Alfa berjongkok di hadapan Dea dan memeriksa kondisi area pribadi gadis itu.
"Coba buka lebih lebar lagi, Sayang. Biar aku bisa melihatnya lebih jelas lagi," titah Alfa dengan tatapan fokus ke area pribadi Dea.
Dea pun menurut saja kemudian membuka kakinya lebih lebar. Alfa menggelengkan kepalanya sambil berdecak setelah melihat bagaimana kondisi area pribadi istrinya itu.
"Ck ck ck!"
"Kenapa, Mas?" tanya Dea heran.
Bukannya menjawab ucapan Dea, Alfa malah mengelus perut Dea yang menonjol tersebut dengan sangat lembut.
"Maafin Daddy ya, Nak. Tadi malam Daddy sampai lupa diri setelah sekian purnama gak jengukin kamu," bisik Alfa.
"Baiklah, tunggu sebentar." Alfa bangkit dari tempat duduknya kemudian melenggang pergi.
"Apa itu, Mas?" tanya Dea heran.
"Aku ingin mengompres Miss-mu dengan air hangat. Agar bengkaknya bisa sedikit berkurang," jawab Alfa sambil tersenyum kecut menatap Dea.
"Memangnya bengkak ya, Mas? Pantas saja Miss-ku terasa lebih tebal dari biasanya," sahut Dea tampak kaget.
"Cuma sedikit bengkak, tapi tetap harus dikompres biar bengkaknya berkurang," lanjut Alfa dengan wajah bersalah. Ia sadar miss-nya Dea bengkak akibat dari kerakusannya tadi malam.
Dengan sangat hati-hati Alfa membersihkan serta mengompres area pribadi Dea dengan menggunakan air hangat. Setelah beberapa saat, mereka pun selesai.
__ADS_1
"Sudah beres."
Beberapa jam kemudian.
"Maafkan aku ya, Sayang," lirih Alfa sembari menatap Dea yang kini berdiri di hadapannya sambil mencoba membantu memasangkan dasi di kerah kemeja yang sedang dikenakannya.
Dea tersenyum. Mungkin ini adalah permintaan maaf Alfa yang ke seratus kalinya. Seratus kali Alfa meminta maaf kepadanya, seratus kali pula ia menjawab dengan jawaban yang sama pula.
"Iya, Mas. Aku memaafkanmu," jawab Dea.
"Terima kasih." Alfa membelai lembut kedua pipi Dea. "Oh ya, nanti siang ada dokter yang akan datang ke sini. Aku sengaja memanggilnya untuk memeriksa Miss-mu."
"Dokter? Cowok atau cewek, Mas?" tanya Dea yang tampak cemas.
Alfa terkekeh. "Kamu tenang saja. Aku sengaja memanggil dokter cewek khusus untukmu."
"Oh, syukurlah. Bukan apa-apa, Mas. Hanya saja aku merasa malu kalau dokternya cowok," lanjut Dea.
"Ya, sudah. Sebaiknya kita sarapan. Aku yakin Mommy dan Daddy sudah menunggu kita di sana," jawab Alfa sembari merengkuh pundak Dea dan menuntunnya keluar dari kamar mewah tersebut.
"Sebentar, Mas! Coba lihat cara berjalanku? Apakah sudah terlihat normal?" tanya Dea seraya menghentikan langkah Alfa kemudian berjalan di depannya.
Alfa terkekeh. "Sudah agak mendingan."
"Apa menurutmu Mommy akan menyadarinya?" tanya Dea dengan wajah yang tampak cemas.
__ADS_1
"Sudah. Kamu tidak usah cemas begitu. Mommy dan Daddy pasti mengerti, kok." Alfa kembali merengkuh tubuh Dea dan menuntunnya menuju ruang makan.
...***...