
Beberapa hari kemudian.
"Kamu yakin tidak mau ikut ke acara pernikahan Julian, Dea?" tanya Susi sekali lagi untuk memastikan.
Dea menggelengkan kepalanya dengan mantap. "Tidak, Kak."
"Ya, sudah kalau begitu."
Susi pun melenggang pergi dan meninggalkan Dea yang masih terdiam di sofa ruang depan. Ia memperhatikan penampilan Susi yang terlihat begitu modis, dengan alis yang saling bertaut.
Wanita itu mengenakan dress mahal, satu set perhiasan emas dan sebuah tas jinjing yang melingkar di pergelangan tangannya. Tak lupa high heels mahal yang ia beli beberapa hari yang lalu.
"Mungkin Kak Herman mendapatkan bonus dari hasil kerjanya, makanya Kak Susi bisa beli banyak barang mahal," ucap Dea dalam hati, mencoba berpikir positif.
Hari ini adalah hari pernikahan Julian dan Reva. Pernikahan itu digelar dengan sangat meriah. Melebihi meriahnya acara pernikahan Julian dan Dea dahulu. Suara lantunan nada dan musik bahkan terdengar jelas hingga ke kediaman Susi.
Seluruh warga desa Muara Asri begitu antusias berhadir ke pesta itu. Selain untuk melihat kemeriahan pesta pernikahan Julian yang dirayakan secara besar-besaran, mereka juga ingin menikmati berbagai macam hiburan yang sengaja disuguhkan oleh keluarga besar dari pihak mempelai.
Jarang-jarang pernikahan semeriah itu terjadi di desa mereka. Belum lagi berbagai macam hidangan yang tersaji di atas meja saji. Mereka bisa memilih dan mengambil hidangan itu dengan sesuka hati.
Kini Susi tiba di tempat itu dengan leher sedikit terangkat. Ia melenggang sambil memperlihatkan pakaian serta perhiasan mahal yang ia beli kemarin kepada seluruh keluarga Julian.
Kedatangan Susi ke acara pernikahan Julian bukan karena ingin menikmati berbagai acara atau pun hidangan yang tersaji sama seperti warga lainnya. Namun, ada niat lain di balik itu. Ia menghampiri kedua orang tua Julian yang berdiri di pelaminan sambil menerima para tamu undangan.
Ibu Julian tersenyum sinis melihat Susi yang kini berdiri tepat di hadapannya. Apa lagi saat ini Susi tengah menyodorkan sebuah amplop berisi uang di hadapannya.
"Heh, tidak kusangka ternyata kamu masih punya nyali datang ke pesta ini. Oh ya, sebaliknya tarik kembali amplop ini, karena aku yakin uang yang kamu berikan nilainya tidak seberapa. Lagi pula untuk apa kamu memberikan uang kepada kami, kamu saja masih kekurangan. Lebih baik gunakan uangnya untuk membeli kebutuhan dapurmu," ucapnya sambil tertawa sinis.
__ADS_1
Susi malah membalasnya sambil tersenyum sinis pula. "Sombong sekali Anda. Baiklah kalau Anda tidak ingin menerimanya, sebaiknya saya simpan saja kembali. Lumayan buat nambah koleksi perhiasan emasku lagi."
Susi membuka isi amplop tersebut dan memperlihatkannya di hadapan pasangan itu. Sejumlah uang yang nominalnya cukup menggiurkan dan membuat Ibu dan Ayah Julian mengerutkan alis mereka heran.
"Jadi istri buruh saja, kamu sudah sombong! Bagaimana jika kamu jadi istri juragan kapal sama seperti aku?!" kesal wanita paruh baya itu.
"Eh, ini bukan uang hasil kerja suami saya ya, Bu! Ini adalah uang pemberian calon suami Dea yang kaya raya itu. Bahkan, kekayaan mereka tidak sebanding dengan kekayaan yang kalian bangga-banggakan ini! Kekayaan kalian tidak ada apa-apanya bagi mereka," sahut Susi dengan kedua tangan menyilang di dada.
"Hhh, dasar sombong! Jangan banyak bicara! Buktikan saja nanti ucapanmu itu," kesal Ibunda Julian yang juga tidak mau kalah.
"Baiklah, tunggu saja undangan dari saya. Pastikan Anda datang dan lihat sendiri kemeriahan pernikahan Dea yang akan mengalahkan kemeriahan pernikahan Julian dan istri barunya! Ingat itu, Bu."
Susi melengos pergi sembari memasukkan sejumlah uang yang masih ia pegang, ke dalam tas. Ia terus melangkah hingga menghilang di antara kerumunan para tamu undangan. Sementara Ibunda Julian masih saja menggerutu, ia kesal melihat tingkah polah Susi saat itu.
***
Tak terasa sore pun menjelang. Acara pernikahan meriah itu akhirnya selesai sudah. Jika pasangan pengantin baru tersebut ingin beristirahat untuk melepaskan rasa penat mereka. Namun, berbeda dengan pemain musik di luar sana. Hiburan tersebut masih tetap berlanjut bahkan hingga tiga hari ke depan.
Reva tersenyum manis sambil menatap bayangan Julian di dalam cermin. "Iya, Mas. Aku sangat lelah. Rasanya tubuhku baru saja digebukin oleh seluruh warga desa," celetuknya.
Julian tertawa pelan kemudian kembali melabuhkan ciuman hangat di atas puncak kepala Reva. "Hari ini kamu terlihat cantik sekali, Reva."
"Tentu saja dong, Mas. Siapa dulu, Reva!" ucap wanita itu dengan kepala terangkat.
Julian membantu Reva melepaskan berbagai aksesoris yang masih menempel di kepala istrinya itu. Sesekali Julian menggoda Reva dengan mencium pundak serta tengkuknya.
"Ih, Mas! Geli," pekik Reva sambil bergidik manja.
__ADS_1
"Geli? Bagaimana dengan ini?"
Julian menggelitik bagian pinggang serta perut Reva sambil tertawa riang. Begitu pula Reva, ia tergelak seraya menepis tangan Julian yang terus menggelitik tubuhnya. Hingga akhirnya Reva terjatuh di atas tempat tidur dengan posisi terlentang.
Julian menghentikan aksinya. Ia tersenyum melihat posisi Reva yang terlihat begitu menantang.
"Kamu sudah siap 'kan, Sayang?" tanya Julian dengan tatapan penuh hasrat menatap Reva.
Julian menyingkap gaun pengantin yang masih dikenakan oleh Reva hingga sebatas perut. Kini paha mulus milik Reva terpampang jelas di depan mata lelaki itu. Julian mulai menggerayangi paha putih mulus Reva hingga ke pangkalnya membuat Reva mendesahh dengan manja.
"Ehmmm ... ya, Mas. Aku siap!" jawabnya dengan sangat yakin.
Julian melepaskan gaun pengantin yang melekat di tubuh Reva kemudian melemparnya ke samping tempat tidur. Kini tinggal braa serta cd bermanik yang masih menempel untuk menutupi area pribadi milik wanita itu.
Julian mulai melakukan pemanasan. Ia melepaskan braa serta cd yang masih melekat di tubuh Reva sembari menciumi setiap inci bagian tubuh wanita itu dengan penuh nafsuu. Tubuh polos Reva membuat Julian semakin bersemangat.
Ia bangkit dari posisinya dengan napas yang sudah memburu. Lelaki itu sudah tidak sabar ingin menikmati tubuh Reva yang kini terlihat sangat menantang. Apa lagi wanita itu mulai bergelinjangg manja sambil memainkan miliknya yang sudah basah.
Kini baik tubuh keduanya sudah polos. Julian menghampiri Reva dan membenarkan posisinya. Julian menaiki tubuh Reva kemudian berbisik di samping telinganya.
"Sayang, mungkin kali ini akan terasa menyakitkan, tapi kamu tidak usah khawatir. Aku berjanji akan melakukannya dengan lembut. Jadi, tahan sedikit, ya."
Tiba-tiba Reva terdiam untuk beberapa saat setelah mendengar penuturan dari Julian barusan. Namun, itu hanya sebentar saja. Reva tidak ingin ambil pusing dan ingin tetap fokus pada permainan perdananya bersama lelaki itu.
Julian menggesekkan bagian ujung benda panjang itu ke area pribadi milik Reva yang sudah basah, kemudian mendorongnya dengan perlahan. Julian sempat bingung kenapa permainannya terasa mulus dan tanpa hambatan. Tidak seperti yang dibicarakan oleh teman-temannya bahwa malam pertama itu penuh dengan drama.
Begitu pula Reva. Wanita itu sama sekali tidak meringis kesakitan ataupun menitikkan air mata, seperti cerita orang-orang kebanyakkan. Malah sebaliknya, Reva mendesis keenakan sambil menggigit bibir bawahnya.
__ADS_1
"Akh ... nikmat, Mas!" ujar Reva dengan mata terpejam.
...***...