Benih Sang Pewaris

Benih Sang Pewaris
Bab 71


__ADS_3

"Baiklah, lima menit dan lepaskan tanganku!" Akhirnya Dea mengalah dan memberikan lelaki itu waktu untuk mengutarakan maksudnya.


"Berjanjilah bahwa kamu tidak akan pergi," tegas Alfa.


Dea membuang muka. Ia sama sekali tidak ingin membalas tatapan lelaki itu. Setelah Dea mulai sedikit lebih tenang dari sebelumnya, Alfa pun mulai merenggangkan cengkramannya.


"Dea, sekarang aku sudah ingat semuanya. Semuanya, termasuk kejadian naas yang terjadi pada malam itu." Wajah Alfa kembali kusut.


"Lalu?"


Dea membuang napas kasar. Ia masih membuang muka ke arah lain dan enggan membalas tatapan Alfa.


"Aku mohon maafkan aku. Malam itu aku dan teman-temanku dalam kondisi mabuk dan kami benar-benar tidak sadar ketika melakukan hal itu padamu," lirih Alfa.


Dea tersenyum sinis. "Minta maaf ... memangnya kamu pikir dengan meminta maaf kepadaku, hidupku akan kembali normal sama seperti sebelumnya, begitu? Aku ibarat sebuah piring kaca yang engkau hempaskan ke lantai dengan sangat keras, Tuan Alfa. Aku sudah hancur berkeping-keping! Walaupun kamu bisa memperbaikinya dengan menggunakan lem super kuat yang ada di dunia ini, tetapi bekasnya akan tetap ada."


"Lantas, aku harus bagaimana agar kamu bersedia memaafkan semua kesalahanku dan membiarkan aku bertanggung jawab atas dirimu dan juga bayi itu?" lirih Alfa, yang masih menatap Dea dengan tatapan sedih.


Akhirnya Dea menoleh kemudian membalas tatapan Alfa. "Membusuk lah di penjara! Aku rasa hukuman itu sepadan dengan apa yang telah kamu lakukan kepadaku!"


Alfa mengusap kasar wajahnya. Ia tidak menyangka bahwa ternyata Dea adalah gadis yang sangat keras kepala. Tiba-tiba tangan Alfa kembali mencengkeram tangan Dea.


"Ikutlah denganku!"

__ADS_1


"Lepaskan aku! Lepas!" pekik Dea yang begitu terkejut karena lelaki itu kembali mencengkeram tangannya dengan sangat cepat.


Alfa menarik tangan Dea agar mengikutinya. Namun, gadis itu tetap bersikeras mempertahankan diri. Ia tidak ingin ikut bersama lelaki itu. Melihat hal itu, Nadia pun akhirnya turun tangan.


"Hentikan, Tuan. Jangan sakiti sahabatku!" ucap Nadia sembari mencoba menolong Dea dari cengkraman Alfa.


Alfa menghentikan aksinya. Namun, tangannya masih menggenggam erat pergelanganDea. "Kamu tenang saja. Aku tidak punya niat menyakiti Dea sedikit pun. Malah sebaliknya, aku ingin mengajaknya ke suatu tempat dan membuktikan padanya bahwa aku benar-benar serius ingin bertanggung jawab!" tegas Alfa.


Setelah mendengar penuturan Alfa, perlahan Nadia mundur beberapa langkah ke belakang dan membiarkan kedua orang itu menyelesaikan masalah mereka.


"Jangan percaya kata-katanya, Nadia! Dia bisa saja berbohong! Kumohon, tolong aku!" pinta Dea kepada Nadia yang kini menjauh darinya.


"Maafkan aku, Dea. Bukan aku tidak mau membantumu. Tapi, mungkin kalian memang butuh waktu untuk membicarakan masalah ini berdua," jawab Nadia dengan wajah sendu.


"Tidak, Nad! Kumohon!" Dea masih mencoba melepaskan tangannya dari cengkraman Alfa. Namun, sampai sekarang ia masih belum bisa melepaskannya.


"Tolong! Tolong!" teriak Dea yang semakin ketakutan saat dibopong oleh Alfa. Alfa tidak peduli, setibanya di mobil, Alfa segera memasukkan tubuh Dea.


"Jangan mendekat!" ucap Dea dengan napas yang memburu ketika Alfa menyusulnya masuk dan duduk di sampingnya.


Alfa hanya tersenyum miring kemudian duduk di depan kemudi dengan tatapan tertuju pada gadis itu.


"Tenanglah. Demi Tuhan, aku berjanji tidak akan pernah menyakitimu."

__ADS_1


"Trus, kamu mau apa?"


"Aku akan membawamu kembali ke desa Muara Asri dan menemui kakakmu," ucap Alfa sembari menghidupkan mesin mobilnya.


"Apa kamu sudah gila, Tuan?! Menemui kakakku, tapi untuk apa?" pekik Dea dengan alis bertaut.


"Tidak. Aku tidak gila! Aku ingin mengakui semuanya kepada kakakmu," jawab Alfa yang kini fokus pada kemudinya.


Dea menekuk kedua kakinya ke atas jok, kemudian memeluknya dengan erat. Ia tersenyum sinis sembari membuang pandangannya ke arah luar.


"Apa kamu tidak takut dihajar oleh kakakku?"


Alfa sempat melirik Dea sejenak kemudian kembali fokus pada jalan di hadapannya. "Tidak. Jangankan cuma dihajar oleh kakakmu, Dikeroyok oleh warga kampung pun aku siap."


"Hhh, dasar manusia sombong! Aku heran kenapa Tuhan malah mempertemukan aku dengan manusia sombong dan langkuh seperti dirimu," gumam Dea dengan tatapan yang masih tertuju pada jalan di sampingnya.


Alfa terkekeh pelan. "Mungkin saja Tuhan memang sudah menjodohkan kita berdua. Hanya saja jalannya seperti ini."


Dea mendengus kesal kemudian meraih kotak tissu yang ada di mobil tersebut kemudian melemparkannya ke arah Alfa. "Tutup mulutmu! Aku tidak sudi berjodoh dengan orang sepertimu walaupun kamu adalah laki-laki terakhir di dunia ini."


Bukannya marah, Alfa malah tergelak. "Jangan berkata seperti itu. Bagaimana jika kita memang berjodoh dan itu artinya kamu menjilat ludah sendiri."


"Diam! Atau aku akan melompat ke jalan!" ancam Dea.

__ADS_1


"Iya-iya, baiklah. Aku akan diam," jawab Alfa sambil mengulum senyum.


...***...


__ADS_2