Benih Sang Pewaris

Benih Sang Pewaris
Bab 127


__ADS_3

Hai ... hai ... Readers! Sebelum membaca lanjutan cerita Alfa dan Dea, Author mau menyapa dulu sebentar saja!


Sebenarnya kisah Alfa dan Dea udah tamat dari kemarin. Author tipe orang yang tidak suka ribet, hehe. Dan hari ini Author hanya ingin kasih Ekstra Part untuk kalian semua. Mungkin beberapa bab lagi sebelum cerita mereka benar-benar End.


Author juga ingin berterima kasih banyak atas saran dan dukungan dari kalian. Tanpa kalian semua, apalah artinya karya ini. Terima kasih banyak atas like, komentar, hadiah, vote dan tipsnya.


Semoga kalian semua sehat selalu, banyak rejekinya dan selalu bahagia di manapun berada. Aamiin ....


Ekstra Part


Dea sudah diperbolehkan pulang dan kini ia bersama keluarga besarnya sudah berada di kediaman mewah Tuan Harry.


"Dea sayang, kamu istirahat saja. Untuk Devano, biar Mommy dan Daddy yang urus. Benar 'kan, Sayang?" Nyonya Kharisma melirik Tuan Harry.


"Ya, Mommy-mu benar, Nak. Sebaiknya kamu beristirahat saja. Pulihkan kondisimu dan jangan stress," sahut Tuan Harry.


"Terima kasih, Mom, Dad." Dea pun tersenyum.


Setelah Tuan Harry dan Nyonya Kharisma keluar dari kamar mereka, Susi yang juga berada di dalam ruangan itu, segera menghampiri adik iparnya tersebut dan duduk di samping tempat tidur.


"Kamu beruntung sekali, Dea. Mendapatkan Ayah dan Ibu mertua yang begitu perhatian. Coba aku dulu! Tak ada sesiapa pun yang membantuku setelah melahirkan. Semuanya aku lakukan sendiri, sementara kakakmu sibuk bekerja mencari uang," keluh Susi.


Dea yang sedang bersandar di sandaran tempat tidurnya, tersenyum kecut setelah mendengar penuturan Susi barusan.

__ADS_1


"Ayah dan Ibu 'kan sudah meninggal, Kak. Seandainya mereka masih hidup, mereka pasti akan sangat bahagia melihat cucu pertama mereka dan tidak akan membiarkan Kak Susi melakukan apa-apa sendiri. Dan maafkan aku yang saat itu belum mengerti. Aku yang hanya bisa membantu Kakak semampuku," tutur Dea.


Susi menghela napas berat. "Ya, sudahlah! Mungkin sudah nasibku. Semoga saja Virna tidak bernasib sama sepertiku. Aku harap nasibnya jauh lebih baik dari diriku."


"Amin." Dea mengelus lembut lengan Susi.


Beberapa menit kemudian.


Ceklek! Pintu kamar Dea terbuka.


Dea dan Susi sontak menoleh ke arah pintu. Ternyata Nyonya Kharisma kembali lagi dengan membawa nampan berisi makanan serta minuman untuk Dea.


"Kamu 'kan belum makan siang. Nah, sekarang Mommy bawakan makan siang untukmu. Makanlah," ucap Nyonya Kharisma sembari menghampiri tempat tidur.


"Tidak apa, Sayang. Lagi pula Mommy tidak ada kerjaan. Devano sudah terlelap, sementara Daddy-mu sedang asik berbincang bersama Alfa dan Herman di ruang utama."


Nyonya Kharisma meletakkan nampan tersebut ke atas nakas kemudian menyerahkan piring berisi nasi lengkap dengan lauk pauknya.


"Makanlah, Sayang. Mommy sengaja minta para pelayan memasak sayur katuk buat kamu. Biar asimu semakin lancar," ucap Nyonya Kharisma lagi.


"Ya ampun, Mommy. Terima kasih banyak," sahut Dea.


"Sama-sama. Yuk, makan."

__ADS_1


Dea pun segera menyantap makanan itu dengan lahap.


"Ya ampun, enak sekali hidupnya," gumam Susi. Ada sedikit rasa iri di hatinya melihat kebahagiaan Dea saat ini.


"Oh ya, Kak. Aku sampai lupa. Malam ini kalian masih menginap di sini 'kan?" tanya Dea kepada Susi yang masih terdiam sambil memperhatikan dirinya.


"Tidak, Dea. Kami akan pulang hari ini. Kamu 'kan tahu, Virna harus sekolah besok dan sebentar lagi dia akan melaksanakan ulangan kenaikan kelas, jadi tidak boleh kelamaan libur," jelas Susi.


"Yah, sayang sekali. Padahal aku ingin Kakak menginap di sini barang satu malam lagi," ucap Dea dengan wajah sedih.


"Tidak apa-apa. Lain kali kami bisa berkunjung lagi ke sini," sahut Susi lagi.


Beberapa jam kemudian.


Herman dan keluarga kecilnya pun pamit. Mereka harus pulang hari itu karena keadaan yang tidak memungkinkan mereka untuk kembali menginap di kediaman mewah Tuan Harry.


Di perjalanan.


"Adikmu benar-benar beruntung, Mas. Coba lihat dia! Hidupnya bak putri dari negeri dongeng. Seharusnya Mas Herman itu berterima kasih kepadaku. Kalau bukan karena aku, adikmu tidak mungkin hidup seenak ini," ucap Susi kepada Herman yang saat itu begitu fokus pada kemudinya.


"Hmmm, itu lagi. Ya-ya, aku berterima kasih. Sangat-sangat berterima kasih kepadamu karena sudah ikut andil dalam perjodohan Alfa dan Dea," jawab Herman dengan wajah malas.


***

__ADS_1


__ADS_2