Benih Sang Pewaris

Benih Sang Pewaris
Bab 35


__ADS_3

"Tolong sebutkan nama Anda?" ucap Dokter sambil memeriksa kondisi Alfa.


"Alfa Alexander Graham."


"Usia?" lanjut Dokter.


"29 tahun."


"Bagus." Dokter tersenyum sembari melakukan pekerjaannya.


Alfa memijit pelipisnya. Kepalanya benar-benar terasa sakit. "Sebenarnya apa yang terjadi padaku? Kenapa aku bisa berada di tempat ini?" tanya Alfa dengan wajah bingung menatap Tuan Harry serta Dokter yang berada tak jauh darinya.


Tuan Harry mengerutkan dahinya. "Menurut cerita Ervan, kalian bertiga mengalami kecelakaan setelah pulang dari acara berkemah di desa nelayan Muara Asri. Apa kamu ingat?"


"Berkemah? Desa Muara Asri? Kecelakaan? Maksud Daddy apa?" Alfa benar-benar bingung. Ia sama sekali tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Ayahnya tersebut.


"Kamu benar-benar tidak ingat tentang kecelakaan itu?" tanya Tuan Harry balik, dengan wajah cemas.


Alfa menggelengkan kepalanya. "Tidak. Oh ya, di mana Cecilia? Kenapa dia tidak menemaniku di sini?"


Tuan Harry dan Nyonya kharisma saling tatap dengan wajah heran. Mereka pikir Alfa dan Cecilia sudah putus karena selama beberapa bulan belakangan ini Alfa tidak pernah terlihat jalan bersama wanita itu. Bahkan Cecilia tidak pernah menjenguk Alfa selama ia tergolek di Rumah Sakit.


"Cecilia? Mommy pikir kalian sudah putus," tutur Nyonya Kharisma.


"Putus?" Alfa tertawa pelan sambil memijit kepalanya yang masih terasa sakit. "Sejak kapan kami putus, Mom? Kami bahkan merencanakan ingin segera meresmikan hubungan kami," sahut Alfa dengan penuh keyakinan.


Tuan Harry dan Nyonya Kharisma terlihat semakin bingung. Dokter yang sejak tadi memperhatikan Alfa dengan seksama, akhirnya dapat menyimpulkan bahwa lelaki itu kehilangan memori jangka pendeknya.

__ADS_1


"Tuan Harry, sebaiknya Anda ikut ke ruangan saya. Ada hal penting yang ingin saya bicarakan," ucap Dokter.


Tuan Harry pun mengangguk dan Nyonya Kharisma tentu saja penasaran. Wanita paruh baya itu pun mengikuti suaminya menuju ruangan Dokter.


Sementara Dokter tengah menjelaskan apa yang terjadi kepada Alfa, Alfa malah memilih menghubungi nomor ponsel Cecilia. Ia meminjam ponsel David yang juga kebetulan ada di sana, kemudian menghubungi Cecilia.


Drrrtt ... drrrtt!


Cecilia meraih ponsel yang ia letakkan di atas meja kemudian menatap layarnya. "Nomor siapa ini?" tanya Cecilia kepada Betty.


Betty pun ikut melirik ke layar ponsel milik Cecilia. "Entah! Aku tidak kenal. Terima saja, siapa tahu salah satu temannya Non," jawab Betty.


Cecilia menerima panggilan itu kemudian meletakkan ke samping telinganya. "Ya, Hallo."


"Cecilia. Ini aku, Alfa."


Mata Cecilia membulat sempurna. Ia tersentak kaget setelah tahu siapa yang tengah menghubungi nomor ponselnya. "Alfa!" seru Cecilia kepada Betty dengan berbisik.


Cecilia menggelengkan kepalanya pelan kemudian kembali fokus pada panggilan Alfa. Wajah wanita itu tampak semringah. Ia tidak bisa menutupi kebahagiaan yang ia rasakan saat itu.


"Ya, Alfa. Ada apa?"


"Cecilia, apa kamu marah padaku? Jika itu benar, maka aku minta maaf. Tapi, ku mohon datanglah. Aku butuh kamu," ucap Alfa.


Lagi-lagi mata Cecilia membesar. Ia bingung sekaligus kaget mendengar ucapan Alfa barusan. "Ehm, Alfa. Kamu baik-baik saja?" tanya Cecilia yang semakin bingung.


"Masih sedikit pusing, tapi aku yakin setelah kamu datang, rasa pusing ini akan segera hilang dari kepalaku," goda Alfa sambil terkekeh pelan.

__ADS_1


"Alfa kenapa? Apa dia sudah gila?" gumam Cecilia dengan wajah bingung.


"Sayang? Apa kamu masih di sana?" tanya Alfa karena Cecilia hanya diam dan tidak meresponnya.


"Ehm, ya. Aku masih di sini. Ba-baiklah, aku akan segera ke sana," jawab Cecilia.


"Ok, aku tunggu kedatanganmu. Love you."


"Love you too." Cecilia semakin bingung dengan sikap Alfa barusan. Setelah menyimpan ponselnya ke dalam tas, Cecilia pun bersiap pergi ke Rumah Sakit untuk menemui Alfa.


"Sebenarnya apa yang terjadi pada Alfa? Apa dia sudah lupa bahwa hubungan kami sudah berakhir?" gumam Cecilia.


"Mungkin saja, Non. Kalau benar begitu, itu artinya ini kesempatan Nona Cecil untuk kembali kepada Tuan Alfa dan memperbaiki hubungan kalian," sahut Betty.


"Kamu benar. Semoga saja begitu!" Cecilia bergegas keluar dari ruangan itu kemudian menuju mobilnya. Ia meminta sopir pribadinya untuk mengantarkannya ke Rumah Sakit, di mana Alfa di rawat.


Selang beberapa saat kemudian ia pun tiba di Rumah Sakit tersebut. Cecilia bergegas menuju ruangan Alfa setelah mendapatkan informasinya dari resepsionis. Ketika menuju ruangan Alfa, Cecilia bertemu dengan kedua orang tua lelaki itu.


"Nak Cecil."


Cecilia pun menghentikan langkahnya tepat di hadapan kedua pasangan paruh baya tersebut. "Mommy, Daddy."


"Kemarilah, Nak." Nyonya Kharisma menuntun Cecilia menuju sebuah kursi kemudian mereka pun duduk di sana.


"Sebenarnya apa yang terjadi pada Alfa, Mom?" tanya Cecilia heran.


Tuan Harry dan Nyonya Kharisma saling tatap kemudian menghela napas berat. "Alfa mengalami kecelakaan. Selama dua bulan ini dia dalam keadaan koma dan sekarang ia sudah sadar. Tapi ...." Nyonya Kharisma menghentikan ucapannya.

__ADS_1


"Tapi? Tapi kenapa, Mom?"


***


__ADS_2