
Setelah beberapa hari kemudian, Susi pun diperbolehkan pulang oleh Dokter yang merawatnya. Herman sengaja tidak memberitahukan soal kepulangan mereka dari Rumah Sakit kepada Dea. Seperti keinginan Susi sebelumnya bahwa ia ingin menemui Dea dan meminta maaf kepadanya.
Hari ini Susi mengajak Herman untuk berkunjung ke kediaman Tuan Harry. Herman pun menyetujuinya karena saat itu kondisi Susi memang sudah kembali seperti semula. Mereka bertiga, Herman, Susi dan Virna masuk ke dalam mobil kemudian melaju menuju kediaman mewah Tuan Harry.
Sementara itu.
Alfa mengajak Dea jalan-jalan di sebuah taman kota bersama si kecil Devano untuk mengisi waktu luang mereka. Di saat mereka jalan-jalan, tiba-tiba mereka bertemu dengan Cecilia yang juga sedang jalan-jalan di sana bersama Betrand.
Alfa sempat terdiam beberapa saat dan memperhatikan Cecilia dengan seksama. Ternyata Dea menyadari hal itu dan ia pun ikut-ikutan memperhatikan Cecilia. Dea sangat ingat bahwa wanita berperut buncit itu adalah mantan kekasih Alfa.
Dea menekuk wajahnya. Ada sedikit rasa cemburu di hatinya ketika melihat Alfa yang sedang memperhatikan mantan kekasihnya itu dengan seksama.
"Kenapa Mas melihatnya seperti itu?" tanya Dea.
Alfa tersenyum sambil melirik ke arah Dea. "Memangnya kamu tahu dia siapa?"
"Tahulah. Semua karyawan di perusahaan Mas juga pasti tahu kalau dia adalah mantan kekasihnya Mas. Apa Mas sudah lupa, Mas pernah memperkenalkan dirinya sebagai tunangan di hadapan seluruh karyawan," sahut Dea dengan mantap.
Alfa terkekeh pelan. Ia hampir saja melupakan hal itu. "Iya-ya, kamu benar."
"Apa kamu masih punya perasaan kepadanya?" tanya Dea dengan begitu serius. Tangannya mencengkram erat pegangan kereta bayi Devano.
Alfa mengelus lembut pipi Dea, masih dengan senyuman khasnya. "Sama sekali tidak. Kamu cemburu, ya?"
"Wanita mana pun pasti akan cemburu jika melihat suaminya menatap sang mantan kekasih." Dea membuang muka dengan kesal.
"Sebenarnya bukan seperti itu, Sayang. Aku hanya ikut senang karena Cecilia memilih mempertahankan bayi dalam kandungannya. Padahal sebelumnya aku pernah berpikir bahwa Cecilia pasti akan menyingkirkan bayi itu," tutur Alfa.
"Bayi itu? Memangnya kenapa dengan bayi itu, Mas?" Dea kembali menatap Alfa dengan wajah yang begitu penasaran.
__ADS_1
"Ya, seperti itu lah." Alfa tidak ingin menjelaskannya lebih detail lagi karena itu merupakan aib orang lain dan ia berharap Dea sudah mengerti apa maksudnya.
"Seperti itu bagaimana, Mas?" Dea semakin penasaran.
"Sudahlah, jangan bahas masalah itu lagi. Itu masalah pribadinya. Sebaiknya kita fokus pada keluarga keluarga kecil kita saja," sahut Alfa sembari merangkul pundak Dea.
"Tapi tidak ada hubungannya dengan Mas, 'kan?" Dea kembali menatap Alfa dengan wajah serius.
"Tidak, Sayang. Percayalah padaku," jawab Alfa mencoba meyakinkan Dea.
Sementara itu.
Ternyata Betrand juga melihat pasangan Alfa dan Dea yang tampak begitu mesra bersama bayi mungil mereka.
"Itu Tuan Alfa, bukan?" ucap Betrand.
"Kamu mau ke mana?" Betrand menahan langkah Cecilia dan menolak mengikuti langkah istrinya itu.
"Kita samperin mereka," jawab Cecilia, masih dengan senyuman hangatnya.
"Aku tidak mau karena dia itu mantannya kamu, Cecilia. Aku takut kamu kembali mengharapkannya," tegas Betrand.
Cecilia tertawa pelan sembari menepuk lengan Betrand. "Aku mengharapkannya? Ya ampun, Mas. Aku sudah tidak memiliki nyali seperti itu lagi. Selain memalukan, hal itu juga sangat-sangat tidak mungkin karena aku tahu Alfa itu seperti apa," jawabnya.
"Lalu untuk apa kamu menghampirinya?" tanya Betrand lagi.
"Aku hanya ingin menyapa mereka. Apakah itu salah?" sahut Cecilia yang akhirnya meluluhkan hati Betrand.
"Tapi ...." Betrand menghela napas berat. "Aku malu, Cecilia. Tuan Alfa pasti tahu siapa aku yang sebenarnya," lanjut Betrand.
__ADS_1
"Oh ayolah, Sayang. Tidak apa-apa," bujuk Cecilia sambil menyunggingkan sebuah senyuman hangat.
Betrand pun akhirnya setuju dan mengikuti langkah Cecilia yang menuntunnya menghampiri pasangan Alfa dan Dea.
"Alfa," sapa Cecilia.
Alfa dan Dea sontak menoleh kemudian menatap Cecilia sambil melemparkan senyuman mereka.
"Bagaimana kabar kalian? Oh ya, ini bayi kalian, ya? Ya Tuhan, tampan sekali. Semoga bayiku juga setampan bayi kalian. Ngomong-ngomong, siapa namanya?" Cecilia memperhatikan bayi Devano yang sedang tertidur lelap di dalam keretanya.
"Namanya Devano Alexander Graham dan kabar kami sangat baik. Benar 'kan, Sayang." Alfa kembali melirik Dea sambil menggenggam erat tangannya.
Dea mengangguk pelan, masih dengan senyuman hangatnya menatap pasangan itu.
"Oh ya, aku lupa memperkenalkan suamiku. Kenalkan, ini Betrand, suamiku," ucap Cecilia sembari memperkenalkan Betrand kepada Alfa dan Dea.
Alfa sempat terkejut karena ternyata Cecilia menikah dengan orang lain dan bukan dengan Mateo, sang pemilik bayi tersebut. Betrand tampak ragu-ragu ketika mengulurkan tangannya ke hadapan pasangan itu. Ia yakin Alfa pasti mengenali dirinya sebagai Betty walaupun ia tidak lagi memakai riasan wajah.
"Betrand."
Alfa kembali terdiam dengan wajah bingung setelah menyadari siapa yang sedang berdiri di hadapannya itu.
"Alfa. Maaf, bukankah kamu—"
"Ya, saya Anda benar, Tuan Alfa. Saya Betty, mantan asisten Cecilia," jawabnya mantap walaupun sebenarnya ia merasa sedikit malu mengakui hal itu.
Alfa kembali tersenyum sembari menepuk pundak lelaki itu dengan perasaan bangga. "Senang bisa melihatmu seperti ini, Betrand."
...***...
__ADS_1