Benih Sang Pewaris

Benih Sang Pewaris
Bab 81


__ADS_3

"Dea, di mana Susi?" tanya Herman kepada Dea yang sedang membersihkan rumah sederhana mereka.


Herman yang baru saja pulang bekerja, duduk di sofa ruang depan sembari mengusap wajahnya yang masih berkeringat dengan sebuah handuk kecil.


"Kak Susi sama Virna pergi ke pasar. Mungkin tidak lama lagi mereka akan kembali. Kakak mau minum apa?" tanya Dea seraya meletakkan sapu yang sejak tadi ia pegang kembali ke tempat asalnya.


Herman mengangguk pelan. "Baiklah, kalau begitu buatkan aku kopi saja."


"Baik, Kak."


Dea kembali ke dapur dan membuatkan secangkir kopi untuk Herman. Setelah kopi itu selesai dibuat, Dea pun segera membawanya menuju ruang depan, di mana Herman masih menunggunya di sana.


"Ini kopinya, Kak. Hati-hati, kopinya masih sangat panas." Dea mencoba memperingatkan Herman.


Herman pun mengurungkan niatnya untuk menyeruput kopi tersebut. Ia memperhatikan Dea yang kini duduk tak jauh darinya. Perut Dea yang menonjol menjadi perhatian Herman saat itu. Ia mengusap kepala Dea kemudian tersenyum kecut.


"Dea, jika seandainya lelaki itu benar-benar serius. Apa kamu bersedia menerimanya?" tanya Herman.


Untuk beberapa saat, Dea terdiam dengan tatapan fokus kepada Herman. Wajahnya tampak bimbang dan ragu ketika ia ingin menjawab pertanyaan dari kakak lelakinya itu.


"Sejujurnya aku masih belum bisa memaafkan lelaki itu, Kak. Jangankan menerima lamarannya, melihat wajahnya pun aku masih belum sanggup. Hatiku masih sakit jika aku ingat bagaimana perbuatannya pada malam itu kepadaku. Tapi ... demi bayi ini, aku terpaksa harus mengenyampingkan egoku."

__ADS_1


Herman menghela napas berat. "Kamu bersedia menerimanya?"


"Ya. Jika lelaki itu benar-benar serius ingin mempertanggung jawabkan semua perbuatannya kepadaku. Terutama tanggung jawabnya untuk bayi ini," tegas Dea sembari menunduk, menatap perutnya yang menonjol.


Herman tidak membalas ucapan Dea. Lelaki itu hanya tersenyum kecut sembari membelai lembut rambut Dea yang terurai panjang di punggungnya.


Tepat di saat itu, Susi dan Virna tiba dari pasar. Kedua tangan Susi dan Virna penuh dengan barang belanjaan. Wajah keduanya terlihat semringah dan senyuman itu terus merekah di wajah mereka.


"Itu Kak Susi dan Virna sudah datang," ucap Dea sembari memperhatikan kakak ipar serta keponakannya itu.


Herman pun menoleh dan turut memperhatikan Virna dan Susi yang kini mendekat ke arahnya. Herman mengerutkan alisnya heran. Ia tidak tahu dari mana Susi mendapatkan uang hingga bisa berbelanja sebanyak itu. Sementara dirinya saja masih belum menerima gaji dari sang juragan, pemilik kapal.


"Lihatlah, Ayah! Aku dibelikan boneka yang besar oleh Ibu," ucap Virna dengan wajah yang terlihat begitu senang.


Dea menatap boneka itu dengan tatapan menerawang. Tiba-tiba ia teringat akan boneka teddy bear yang diberikan oleh Alfa beberapa waktu yang lalu. Hampir mirip dengan boneka milik Virna. Hanya saja ukurannya sedikit lebih kecil.


Bukan hanya boneka teddy bear, Virna juga memperlihatkan beberapa lembar baju serta sepatu baru yang dibelikan oleh Susi. Herman tersenyum kemudian mengelus puncak kepala anak perempuannya itu dengan lembut.


"Sekarang bawa barang belanjaanmu ke kamar, ya. Ayah ingin bicara sama Ibu," ucap Herman.


"Baik, Ayah!" Virna bergegas masuk ke dalam kamarnya dengan membawa serta barang belanjaannya.

__ADS_1


Sepeninggal Virna.


Susi tidak kalah semangat dari Virna. Wanita itu membuka kantong belanjaan kemudian menggelarnya di atas meja. Ada satu setel kemeja serta celana untuk Herman, beberapa potong dress cantik untuknya dan tidak lupa selembar dress cantik untuk Dea.


"Ini untukmu, Mas." Susi menyerahkan setelan kemeja itu kepada Herman.


"Dan ini untukmu, Dea. Kenakan dress ini jika kamu ingin hadir di pesta pernikahan Julian nanti." Ia menyerahkan dress cantik itu kepada Dea dan segera di sambut oleh gadis itu.


"Maafkan aku, Kak. Tapi sepertinya aku tidak akan hadir ke pesta pernikahan Julian," sahut Dea.


"Ya, sudah. Itu urusanmu! Aku 'kan hanya memberi saran saja," celetuknya.


Herman yang sejak tadi diam dengan tatapan yang terus tertuju pada Susi, akhirnya membuka suaranya.


"Dari mana kamu mendapatkan uang sebanyak ini, Susi?" Herman mengernyitkan dahi. "Aku bahkan belum gajian," lanjut Herman.


Susi tersenyum semringah sembari menggerak-gerakkan tangannya. Ia ingin memberitahu kepada Dea dan Herman bahwa saat itu tangannya tengah dihiasi oleh cincin serta gelang emas yang baru saja ia beli. Bukan hanya itu, di leher Susi pun tampak melingkar sebuah kalung emas dengan motif yang sama seperti cincin serta gelangnya.


"Dari hasil tabunganku dong, Mas! Aku 'kan suka menyisihkan sebagian dari gajimu untuk ditabung dan sekarang kita bisa menikmati hasilnya," jawab Susi sambil tersenyum lebar.


Namun, tidak semudah itu bagi Herman mempercayai ucapan Susi. Ia yakin bahwa Susi sedang berbohong saat itu.

__ADS_1


...***...


__ADS_2