
Beberapa hari kemudian.
Alfa duduk di tepian tempat tidur sambil mencengkram erat kepalanya. Ia merasakan sakit kepala yang sangat luar biasa. Ia bahkan tidak pernah merasakan sakit yang seperti itu sebelumnya. Keringat dingin bahkan sampai keluar di pori-pori kulit mulus lelaki itu.
"Ya Tuhan, kepalaku!" keluh Alfa dengan wajah yang memucat.
Ketika ia memejamkan matanya, sebuah bayangan yang tampak buram muncul begitu saja di pikirannya. Tidak jelas bayangan apa, tapi yang dapat ia lihat dengan jelas hanya luasnya lautan berwarna gelap dan suara deburan ombak yang menyapu pesisir.
"Ya, Tuhan! Apalagi ini," lanjut Alfa, masih mencengkram erat kepalanya.
Perlahan Alfa melepaskan cengkramannya. Dengan tangan yang bergetar, ia meraih obat yang diberikan oleh Dokter di dalam nakas. Alfa meminum obat itu dengan air putih yang memang sudah di sediakan para pelayan untuknya.
Setelah meminum obatnya, Alfa merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan mencoba beristirahat agar rasa sakit itu reda. Sementara Alfa mencoba beristirahat di dalam kamarnya, di ruang kerja Tuan Harry, lelaki itu tengah duduk termenung di atas kursi kesayangannya. Di hadapan lelaki itu, tampak David sedang memperhatikan majikannya itu dengan seksama.
"Aku rasa akhir-akhir ini kondisi kesehatanku semakin menurun saja. Tubuhku sudah tidak seperti beberapa tahun sebelumnya, David. Aku mudah sekali lelah dan rasanya aku sudah tidak sanggup bolak-balik mengurus perusahaan." Terdengar hembusan napas berat yang keluar dari bibir Tuan Harry.
"Maafkan saya, Tuan Harry. Tapi, bagaimana dengan Tuan Muda Alfa? Mungkin saja sekarang Tuan Muda bersedia menggantikan posisi Anda," ucap David.
Lagi-lagi terdengar suara hembusan napas beratnya. "Entahlah, David. Aku sudah lelah membujuk anak itu untuk segera menggantikan posisiku di perusahaan. Dan kamu lihat sendiri, bukan? Ia lebih memilih bersenang-senang dengan dunianya sendiri," tutur Tuan Harry.
Tuan Harry bangkit dari posisi duduknya. Ia berpegangan di meja dan mencoba melangkahkan kakinya. Namun, baru satu langkah beranjak dari posisinya semula, tiba-tiba Tuan Harry jatuh tersungkur ke lantai ruangan.
David tersentak kaget. Ia bergegas menghampiri Tuan Harry yang tergeletak di lantai ruangan dengan posisi telungkup.
__ADS_1
"Tuan Harry! Anda kenapa, Tuan? Tuan bisa mendengar saya?" Karena Tuan Harry tidak juga menjawab pertanyaannya, David pun segera berteriak meminta pertolongan kepada para penjaga keamanan di rumah megah tersebut.
Selain itu, David juga menghubungi Dokter pribadi Tuan Harry agar bisa memeriksa kondisi lelaki itu. Tidak butuh waktu lama, beberapa orang lelaki bertubuh besar tiba di ruangan tersebut. Mereka segera membantu David membawa Tuan Harry kembali ke kamarnya.
"Ya ampun, Sayang!" pekik Nyonya Kharisma ketika melihat Tuan Harry dibopong oleh para lelaki bertubuh besar itu ke kamar mereka.
Nyonya Kharisma begitu panik. Ia mengikuti para lelaki bertubuh besar itu hingga mereka meletakkan tubuh Tuan Harry yang tidak berdaya ke atas tempat tidur mewah mereka.
"Sebenarnya apa yang terjadi pada suamiku, David? Bukankah tadi ia baik-baik saja?" Nyonya Kharisma menatap lekat lelaki itu dengan wajah heran.
"Sepertinya tekanan darah Tuan Harry kembali meningkat, Nyonya Kharisma."
"Ya, Tuhan! Lalu, apakah kamu sudah memanggil Dokter?"
"Syukur lah kalau begitu," ucap Nyonya Kharisma sambil mengelus dada.
Sementara itu di kamar Alfa.
Setelah beristirahat sejenak, sekarang kepala Alfa sudah mulai membaik dan rasa sakit yang ia rasakan sebelumnya kini sudah menghilang setelah meminum obat pemberian Dokter.
"Tuan Muda!"
Tiba-tiba terdengar suara seorang pelayan memanggilnya dari balik pintu kamar nan megah itu. Suara panggilan itu bergantian dengan suara ketukan di pintu tersebut.
__ADS_1
"Ya, ada apa, Bi?" teriak Alfa dengan malas.
"Tuan Muda, Tuan Harry jatuh pingsan dan sekarang Tuan tidak sadarkan diri di dalam kamarnya," jawab pelayan itu.
"Apa?!" pekik Alfa.
Alfa refleks bangkit dari posisinya. Ia segera menghampiri pintu kamarnya dengan setengah berlari. Alfa membuka pintu tersebut dan kini tampaklah Sang Pelayan yang masih berdiri di sana dengan kepala tertunduk.
"Bagaimana kondisi Daddy sekarang?"
"Dokter baru saja tiba dan Tuan Harry masih di periksa oleh Dokter," jawab pelayan itu.
"Oh ya, Tuhan!"
Tanpa pikir panjang Alfa pun bergegas menuju kamar Mommy dan Daddy-nya. Setibanya di ruangan itu, ternyata Tuan Harry sudah sadar, tetapi wajahnya masih terlihat memucat. Sementara Dokter masih duduk di samping tempat tidur Tuan Harry sambil menuliskan resep obat untuk lelaki itu.
"Alfa. Kemarilah, Nak," panggil Tuan Harry sambil mengulurkan tangannya.
Alfa pun segera menghampiri lelaki tua itu kemudian duduk di tepian tempat tidur. Tepatnya di samping Sang Daddy.
"Ya, Dad."
"Sekarang kamu lihat sendiri 'kan bagaimana kondisi kesehatan Daddy sekarang. Daddy sudah tua, Alfa. Kesehatan Daddy sudah tidak seperti dulu. Jadi, untuk sekali lagi Daddy minta agar kamu bersedia menggantikan posisi Daddy di perusahaan," ucap Tuan Harry.
__ADS_1
...***...