
Dea masih berjalan menelusuri jalan tanpa tahu arah dan tujuan. Panasnya terik matahari saat itu, tidak menyurutkan semangat Dea untuk menelusuri kota tersebut.
"Ya, Tuhan! Aku haus sekali," gumam Dea sembari melirik kiri dan kanan jalan.
Tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah gerobak penjual jus buah yang berada di seberang jalan. Gadis itu beberapa kali menelan salivanya. Entah karena ia memang sangat kehausan atau bawaan jabang bayi yang ada di kandungannya.
Perlahan Dea melangkahkan kakinya menyeberangi jalan raya yang besar itu. Gadis itu sudah memastikan bahwa jalan yang ia lewati sudah aman. Namun, tanpa diduga sebuah mobil melaju dengan sangat cepat menuju ke arahnya.
Tiinnnn!
Terdengar suara klakson yang menggema dari mobil tersebut. Beruntung pak sopir yang mengemudikan mobil tersebut sudah berpengalaman dan dapat menghentikan laju mobilnya di saat yang tepat. Mobil itu berhenti hanya beberapa centimeter dari tubuh Dea yang masih terpaku di tempatnya berdiri.
"Heh! Kalo menyebrang itu lihat-lihat! Matamu masih berfungsi dengan baik, 'kan?" hardik seorang wanita cantik yang tengah duduk di jok belakang. Matanya melotot menatap Dea. Sementara Dea hanya bisa mengangguk pelan sambil meminta maaf.
"Maafkan saya."
"Maaf, maaf! Untung tidak ketabrak!" kesal wanita itu.
"Sudah, Pak! Ayo, jalan!" titah wanita itu kepada Pak Sopir yang ternyata juga masih syok setelah kejadian barusan.
__ADS_1
"Baik, Non."
Lelaki paruh baya itu melongokkan kepalanya, keluar dari kaca pintu mobil kemudian tersenyum kepada Dea. "Maafkan bapak ya, Nak."
"Tidak apa, Pak."
"Hhh, tidak usah minta maaf, Pak! Orang dia yang salah!" kesal wanita itu karena sopir pribadinya malah meminta maaf kepada Dea.
Lelaki paruh baya itu tidak menggubris omelan si wanita cantik dan kembali melajukan mobil tersebut menuju sebuah komplek perumahan elit, di mana wanita cantik itu tinggal.
Setelah mobil itu menghilang dari pandangannya, Dea pun kembali melanjutkan langkahnya menuju gerobak jus buah. Ia memesan sebuah jus buah mangga kepada bapak penjual jus buah tersebut.
"Pemilik mobil itu marah karena saya tidak lihat-lihat ketika menyeberangi jalan. Padahal saya sudah lihat kiri-kanan sebelum menyeberang dan memastikan bahwa jalanan sudah aman. Tapi, entah mata saya ketutupan atau apa, saya tidak lihat ada mobil itu," sahut Dea dengan wajah sendu.
Pak penjual jus buah itu tersenyum. "Orang kaya mah bebas, Neng. Mau mereka benar, mau mereka salah, tidak ada urusan. Pokoknya mereka benar!"
Dea pun ikut tersenyum tipis mendengar penuturan bapak penjual jus buah tersebut. "Bapak benar," sahut Dea.
Setelah mendapatkan jus buah itu, Dea pun segera membayarnya. Ia menikmati jus buah tersebut dengan lahapnya. Padahal sebelum dinyatakan positif hamil, Dea tidak terlalu menyukai jus buah. Apa lagi jus buah mangga dan Dea pun yakin, itu semua bawaan dari janinnya.
__ADS_1
Beberapa jam kemudian.
Tak terasa sore pun menjelang. Jalanan pun semakin padat merayap karena ini adalah saat-saat di mana para pekerja pulang dari tempat kerja mereka. Bukan main padatnya, bahkan Dea sampai kebingungan saat ingin menyeberangi jalan raya tersebut.
"Setelah ini aku harus kemana? Apa kah aku harus mencari kontrakan? Ah, rasanya tidak mungkin. Jika aku menggunakan uang ini untuk mengontrak sebuah tempat tinggal, lalu dari mana aku bisa mendapatkan jatah makanku selama di sini? Aku bahkan tidak tahu apakah aku bisa diterima kerja di kota besar seperti ini dengan hanya mengandalkan ijazah SMA?" gumam Dea sambil melirik isi dompetnya yang memang tidak seberapa itu.
Dea duduk di samping sebuah toko perabot yang baru saja ditutup oleh pemiliknya. Gadis itu termenung di sana sambil memikirkan nasibnya dan juga bayi yang ada di dalam kandungannya.
Hingga malam pun tiba. Cahaya lampu berwarna-warni menghiasi langit di kota itu. Tidak seperti di desa, jika malam tiba maka penduduknya pun akan diam di rumah masing-masing sambil melepas penat setelah seharian bekerja di laut.
Sementara di kota besar, semakin malam, semakin terlihat ramai. Banyak wanita-wanita cantik dengan pakaian terbuka lewat di hadapan gadis itu. Bahkan tidak sedikit laki-laki mata keranjang yang melirik ke arahnya sambil menatap dengan tatapan genit.
Dea ketakutan, sangat-sangat ketakutan. Bahkan bayangan di malam naas itu kembali terlintas di pikirannya. Ia yakin laki-laki yang sudah menghancurkan hidupnya berasal dari kota. Sebab Dea tidak pernah melihat ketiga lelaki itu sebelumnya di desa Muara Asri.
"Ya, Tuhan! Amankah aku berada di sini?" gumamnya.
Dea yang masih berada di teras toko perabot, segera menjauh dari tempat itu. Ia berlari ke samping toko dan berjongkok di sana. Di tempat yang menurutnya cukup aman dari laki-laki mata keranjang. Ia melihat sebuah kardus bekas kemudian mengambilnya. Dea menggelarnya dan duduk di sana sambil terus berdoa agar ia selalu dilindungi dari orang-orang yang berniat jahat kepadanya.
...***...
__ADS_1