Benih Sang Pewaris

Benih Sang Pewaris
Bab 45


__ADS_3

"Apa kamu sudah dengar soal Alfa, Betty?" tanya Cecilia kepada Sang Asistennya.


"Kenapa, Non?" Betty masih asik dengan ponselnya dan tidak menoleh sedikitpun kepada Cecilia yang sedang duduk di sampingnya.


"Akhirnya Alfa bersedia menggantikan posisi Tuan Harry! Itu artinya seluruh harta kekayaan Tuan Harry sudah berada di dalam genggaman Alfa. Jika aku berhasil menikah dengannya, itu artinya aku akan menjadi Nyonya besar, Betty! Aku akan mengundurkan diri dari dunia modeling dan fokus membantu Alfa mengurus harta kekayaan kami," tuturnya dengan wajah semringah.


"Bantu mengurus harta kekayaan Tuan Alfa atau malah membantu menguras harta Tuan Alfa?" celetuk Betty, masih asik dengan ponselnya.


"Hush! Kamu ini kalau ngomong suka benar!" Cecilia memukul lengan Betty dengan tinjunya. Ia tertawa pelan sambil kembali bergumam. "Mengurus dan menguras! Haha, hanya satu huruf yang berbeda. Namun, artinya jelas jauh berbeda."


"Oh ya, Betty. Hari ini aku ingin pergi ke salon. Aku ingin melakukan perawatan wajah dan juga rambut. Kamu tahu kenapa?" ucap Cecilia lagi.


"Loh, bukannya Nona sudah pergi ke salon beberapa hari yang lalu? Kenapa sekarang ke salon lagi?" sahut Betty dengan wajah bingung.


"Sebab besok Alfa akan mengajakku serta dalam acara pergantian posisi jabatan itu! Apa kamu tahu, hal itu merupakan suatu kehormatan untukku dan seluruh karyawan Algra Group akan mengenalku sebagai Nyonya Algra yang baru," tutur Cecilia.


"Hai, Cecilia! Apa kabar? Senang bisa bertemu lagi denganmu di sini."


Tiba-tiba seorang laki-laki berbisik di samping telinga Cecilia yang saat itu sedang menikmati makan siangnya di sebuah cafe bersama Betty. Cecilia segera menoleh dan ia begitu terkejut setelah tahu siapa lelaki itu.


"Mateo? Apa yang kamu lakukan di sini!" pekik Cecilia dengan mata membesar.

__ADS_1


Mateo menjatuhkan dirinya di salah satu kursi kosong di meja yang ditempati oleh Cecilia dan Betty. Ia tidak peduli bagaimana raut wajah kesal Cecilia saat itu ketika menatap dirinya.


"Aku ingin makan siang dan ternyata aku menemukan kalian di sini. Jadi ... sekalian saja aku ke sini dan bergabung bersama kalian. Tidak apa-apa 'kan?" ucapnya dengan santai.


Cecilia memalingkan wajahnya. Ia tidak ingin tersihir oleh wajah nakal lelaki itu untuk kesekian kalinya. "Sebaiknya kamu pergi saja! Aku tidak ingin kamu di sini dan mengganggu makan siangku," ucap Cecilia.


"Oh, ayolah, Cecilia! Janganlah terus menghindar dariku," sahut Mateo dengan wajah malas.


Cecilia yang tidak ingin mencari-cari masalah untuk kesekian kalinya bersama lelaki itu, akhirnya memilih pergi. Ia menarik tangan Betty kemudian meninggalkan tempat itu.


"Mbak, serahkan tagihannya kepada lelaki itu!" ucap Cecilia kepada kasir yang di cafe tersebut.


Wanita yang bertugas sebagai kasir di tempat itu pun mengangguk pelan. Ia menatap Mateo dari kejauhan sambil tersenyum hangat. Sementara Mateo tampak kesal. Ia mengusap wajahnya dengan kasar. Niatnya ingin minta mendapatkan makanan gratis, malah gagal. Dan sebaliknya, ia harus membayar semua makanan yang sudah dipesan oleh Cecilia dan Betty, si wanita setengah pria itu.


Keesokan harinya.


"Ayo, Dea! Berdandan lah yang cantik. Siapa tahu hari ini rejeki kita dan kita bisa melihat dari dekat wajah tampan Tuan Algra Muda," ucap Nadia dengan penuh semangat.


Dea yang sedang merapikan kemeja kerjanya, menatap Nadia dengan alis berkerut. "Tuan Algra muda?"


"Ya, Algra! Alexander Graham, you know!" sahut Nadia.

__ADS_1


"Ish! Ya, sudah. Sebaiknya kita berangkat. Aku sudah selesai ini," ucap Dea sambil meraih tasnya.


"Yuk, lah!"


Kedua gadis itu pun berangkat seperti biasanya. Mereka jalan kaki mulai dari kontrakan milik Nadia hingga ke perusahaan besar tersebut. Di sepanjang perjalanan Dea terus saja menghisap aroma minyak kayu putih yang selalu ia bawa kemana pun ia pergi.


"Dea, aku heran. Kok, kamu doyan banget mencium aroma minyak kayu putih itu?" tanya Nadia tiba-tiba sambil menatap heran kepada Dea.


Dea tersenyum tipis sambil membalas tatapan Nadia. Bukan masalah doyan, tapi Dea terpaksa melakukannya karena indera penciumannya terlalu kuat akhir-akhir ini. Ia tidak bisa mencium bau-bauan dari makanan atau apapun itu yang terlalu menyengat tajam. Seperti aroma daging, bakso, buah duren dan lain sebagainya.


Jika aroma menyengat itu mulai memasuki indera penciumannya, maka bersiaplah untuk pergi ke kamar mandi dan menumpahkan isi perutnya dan Dea tidak ingin itu. Acara menguras isi perut tersebut sudah cukup membuatnya menderita akhir-akhir ini.


"Tidak apa, Nadia. Menurutku wanginya sangat enak. Coba cium," sahut Dea sembari mengulurkan botol minyak kayu putih tersebut ke hadapan Nadia.


"Ish, ogah! Kamu aja, aku gak mau," sahut Nadia sembari terkekeh pelan.


Tidak terasa kedua sahabat itu pun tiba di depan tempat kerja mereka. Ada yang terlihat berbeda di tempat itu. Di halamannya nan luas itu saja sudah berjejer berbagai karangan bunga ucapan selamat dari berbagai rekan bisnis serta kolega Tuan Harry. Begitu pula di bagian dalam gedung nan megah itu. Hampir di setiap ruangan tampak di hias dengan sedemikian rupa.


"Wah, Dea! Keren sekali bukan? Aku jadi tidak sabar menunggu acaranya dimulai dan melihat wajah tampan Tuan Alfa!" pekik Nadia.


"Tuan Alfa?!" Dea sontak terkejut ketika nama nama itu disebutkan.

__ADS_1


...***...


__ADS_2