
Mereka tampak berbincang lama di taman itu. Sesekali terdengar suara tawa renyah yang keluar dari bibir mereka berempat. Hingga akhirnya Dea dan Alfa pun mohon pamit.
"Semoga lahirannya lancar ya, Mbak Cecil." Dea tersenyum kemudian mengelus lembut perut Cecilia yang membesar.
"Terima kasih banyak atas doanya, Dea."
Sepeninggal Alfa dan Dea, Cecilia pun kembali melanjutkan langkahnya bersama Betrand untuk mengelilingi taman itu.
"Selain cantik, ternyata Dea adalah wanita yang sangat baik dan juga sopan. Pantas saja Alfa begitu tergila-gila padanya," ucap Cecilia.
"Oh ya, aku baru sadar! Ternyata Dea adalah gadis yang dulu hampir saja ditabrak oleh sopir pribadiku. Apa kamu ingat, aku pernah bercerita tentang hal itu kepadamu," lanjutnya.
Betrand tampak mengingat-ingat dan ternyata ia pun masih ingat akan cerita itu. "Oh, jadi gadis yang dulu hampir tertabrak oleh mobilmu itu Dea?" pekik Betrand.
Cecilia mengangguk cepat. "Ya. Aku pun baru menyadarinya karena saat itu penampilan Dea tidak seperti sekarang ini. Dulu dia terlihat begitu kampungan," celetuk Cecilia.
"Hush! Kamu itu," sela Betrand sambil menekuk wajahnya.
"Maaf, Sayang. Aku tidak bermaksud menghina Dea, tapi itu benar. Dulu dia terlihat begitu sederhana dan sekarang ia jauh lebih modis dan sangat cantik," jelasnya.
***
Dea dan Alfa tiba di kediaman mereka. Nyonya Kharisma bergegas menghampiri dan meraih bayi Devano dari pelukan Alfa.
"Aduh ... baru sebentar ditinggalkan Devano, rumah ini sudah berasa berbeda," gumam Nyonya Kharisma.
__ADS_1
Alfa tersenyum. "Berbeda bagaimana, Mom?"
"Sepi," sahut Nyonya Kharisma sembari melangkah membawa bayi Devano masuk ke dalam rumah mewahnya.
Tin ... tin ....
Terdengar suara klakson dari arah depan pagar nan menjulang tinggi tersebut. Alfa dan Dea sontak menoleh kemudian menatap sang pemilik mobil yang saat itu melambaikan tangan kepada mereka sambil mendongakkan kepala keluar jendela mobilnya.
"Kak Herman? Loh, kenapa Kak Herman ke sini? Apa Kak Susi sudah diperbolehkan pulang dari Rumah Sakit? Kalau itu benar, lalu kenapa Kak Herman gak kasih tau kita, ya?" tanya Dea sembari melirik Alfa.
Alfa mengangkat kedua bahunya. "Mungkin saja Kak Herman lupa."
"Masa, sih?" Dea mengerutkan alisnya heran.
Herman memarkirkan mobilnya di halaman nan luas itu. Setelah mobilnya terparkir rapi, Herman dan keluarga kecilnya pun segera menghampiri Dea dan Alfa.
"Kami memang sengaja tidak memberitahukan soal ini kepada kalian karena kami ingin memberikan sedikit kejutan," jawab Herman.
"Sebaiknya kita bicara di dalam. Kalian pasti capek," sela Alfa sembari merengkuh pundak Virna kemudian berjalan bersama bocah perempuan itu masuk ke dalam rumah mewahnya. Sementara Dea, Herman dan Susi mengikuti dari belakang hingga mereka tiba di ruang utama.
Alfa mengajak Virna duduk di sofa kemudian disusul oleh Dea dan Kakaknya.
"Dea, sebenarnya kedatangan Kakak ke sini hanya untuk ...." Susi tiba-tiba membuka suaranya, tetapi tidak sampai selesai. Susi kembali terdiam dengan wajah yang tampak sedih.
Dea menatap Susi dengan begitu serius. "Ada apa, Kak?"
__ADS_1
Tiba-tiba Susi memeluk Dea sambil menangis terisak-isak. Dea membalas pelukan kakak iparnya itu walaupun sebenarnya ia tidak mengerti apa yang membuat Susi menangis seperti itu.
"Kak Susi kenapa?" tanya Dea dengan bahasa bibir kepada Herman yang kini tengah menatap mereka dengan wajah sedih.
Bukannya menjawab pertanyaan Dea, Herman malah terdiam dengan bibir yang terpatri.
"Dea, maafkan aku." Susi melerai pelukannya bersama Dea kemudian menatap adik iparnya itu dengan air mata yang masih berderai, membasahi kedua pipinya.
Bukan hanya Dea yang tampak kebingungan dengan sikap Susi saat itu. Alfa pun tidak kalah bingungnya.
"Minta maaf untuk apa, Kak?" tanya Dea.
"Untuk semuanya, Dea. Kejadian itu membuat Kakak menyadari semua kesalahan Kakak selama ini kepadamu," jelas Susi yang masih terisak.
Dea terdiam sejenak sambil memperhatikan Susi yang masih terisak. Alfa yang duduk di samping Dea, menepuk pundak Dea sambil mengangguk pelan.
Dea menghembuskan napas berat. "Aku memang pernah marah kepadamu, Kak. Namun, aku tidak pernah sekali pun menaruh dendam. Apa pun yang Kakak lakukan kepadaku, aku anggap itu sebagai tanda bahwa Kakak peduli dan ingin aku menjadi seseorang yang baik. Karena bagiku, Kak Susi sudah seperti Kakak kandungku sendiri," tutur Dea.
Penuturan Dea membuat tangis Susi semakin menjadi. Wanita itu kembali memeluk Dea dengan erat.
"Jadi ... bersediakah kamu memaafkan semua kesalahan Kakakmu ini?" tanya Susi lagi.
"Tentu saja, Kak. Tentu saja."
"Terima kasih banyak, Dea. Terima kasih banyak karena sudah bersedia memaafkan semua kesalahanku yang sebenarnya tidak pantas untuk dimaafkan ini," ucap Susi di sela isak tangisnya.
__ADS_1
Semua orang di ruangan itu tampak terharu. Begitu pula pasangan Tuan Harry dan Nyonya Kharisma yang baru saja tiba di sana. Mereka tersenyum bahagia karena kini Susi sudah menyadari semua kesalahannya terhadap Dea.
...***...