Benih Sang Pewaris

Benih Sang Pewaris
Bab 80


__ADS_3

Sebelum kembali ke kota, Alfa menyempatkan diri kembali ke kediaman Susi. Ia ingin berpamitan sekaligus menyerahkan mobilnya kepada wanita itu. Atas permintaan Susi, Alfa terpaksa menitipkan mobil mewah tersebut lalu meletakkannya di halaman depan rumah sebagai jaminan bahwa ia tidak akan kabur dari tanggung jawab.


Susi begitu bersemangat menyambut kedatangan Alfa, sementara Herman masih enggan. Ia bahkan tidak berkeinginan menemui lelaki itu.


"Tuan Alfa, maaf karena aku tidak bisa mengajakmu masuk ke dalam rumahku. Herman masih belum bisa menerima kehadiranmu untuk saat ini. Tetapi kamu tidak usah khawatir soal pernikahan kalian, Herman pasti akan merestuinya. Kakak mana, sih, yang tidak akan bahagia saat melihat adik perempuannya menikah dengan seorang lelaki kaya raya seperti kamu," ucap Susi dengan wajah semringah.


Alfa melirik ke dalam rumah sederhana itu, berharap Dea ada di sana. Namun, gadis itu sama sekali tidak berkeinginan menampakkan batang hidungnya. Padahal Alfa sangat berharap bisa bertemu Dea sebelum ia kembali ke kota.


Alfa menghembuskan napas berat kemudian mengangguk pelan. "Baiklah, Mbak. Aku percayakan semuanya kepadamu."


Alfa menyerahkan sebuah kartu nama miliknya kepada Susi agar wanita itu mudah menghubunginya jika membutuhkan sesuatu.


"Ini kartu namaku. Di sini ada nomor ponselku juga. Mbak bisa hubungi nomor tersebut jika butuh sesuatu," ucap Alfa sembari menyerahkan kartu nama serta kunci mobilnya.


"Wah, terima kasih sekali, Tuan Alfa," sahut Susi, dengan secepat kilat meraih kedua benda tersebut.


"Baiklah, saya permisi dulu. Selamat siang!"

__ADS_1


"Selamat siang, Tuan Alfa," jawab Susi.


Sebelum Alfa beranjak dari tempat itu, ia kembali melirik ke dalam rumah Susi. Ia masih berharap Dea muncul di ambang pintu kemudian tersenyum kepadanya. Namun, semua itu sepertinya hanya sebuah angan-angan. Gadis itu masih betah diam di persembunyiannya.


Alfa berbalik lalu masuk ke dalam mobilnya dengan rasa kecewa. Namun, ia sama sekali tidak marah kepada gadis itu. Kedua netra indah milik Alfa masih tertuju pada rumah sederhana milik Susi, bahkan hingga menghilang dari pandangannya.


Di perjalanan.


"Tuan Alfa, apa Anda serius ingin menikahi gadis itu? Kalau tidak salah, gadis itu yang kemarin menabrak Tuan, bukan? Yang bekerja sebagai Office Girl di lantai 15?" tanya David yang kini fokus pada kemudinya.


"Ya. Namanya Dea dan aku serius ingin menikahinya. Tapi ...." Alfa menatap punggung David yang duduk membelakanginya.


"Tolong jangan kasih tahu mommy dan daddy soal rencana pernikahan ini. Aku ingin hal ini hanya menjadi rahasia kita berdua. Aku tidak ingin kedua orang tuaku tahu tentang pernikahanku bersama Dea," tutur Alfa dengan wajah sendu.


"Loh?!" pekik David heran. "Bukan kah sebaiknya kedua orang tua Anda mengetahui hal ini, Tuan Alfa? Saya yakin, mereka pasti sangat senang jika mendengar berita tentang pernikahan Anda."


"Masalahnya ...." Alfa menceritakan semua yang terjadi antara dirinya dan Dea kepada David.

__ADS_1


David mendengarkan cerita Alfa dengan seksama. Lelaki itu tampak syok setelah mengetahui tentang kebenaran itu.


"Itu lah sebabnya aku tidak ingin kedua orang tuaku tahu, Om. Bisa-bisa daddy terkena stroke jika mendengar kisahku ini. Apa lagi mommy, aku yakin sekali dia akan frustrasi dan akhirnya jatuh sakit."


David menghela napas berat. "Kalau memang menurut Anda hal itu adalah jalan yang terbaik, maka saya hanya bisa mendoakan serta mendukung apa pun keputusan yang Anda ambil, Tuan Alfa."


Sementara itu di kediaman Susi.


Susi menghampiri Herman yang masih duduk di sofa ruang depan kemudian duduk di samping suaminya itu. Ia memperhatikan wajah cemberut Herman sambil tersenyum tipis.


"Coba lihat ini!" Susi menenteng kunci mobil milik Alfa di hadapan wajah Herman.


Herman melirik kunci tersebut kemudian mendengus kesal. "Untuk apa kunci itu?"


"Ini kunci mobil milik Tuan Alfa, Mas. Lihatlah, ini adalah bukti bahwa lelaki itu serius ingin bertanggung jawab dan menikahi Dea. Mobil ini ada di halaman rumah kita, sebagai jaminan bahwa dia tidak akan pernah lari dari tanggung jawabnya. Ah, seandainya Mas bisa nyetir, mungkin kita bisa jalan-jalan keliling kampung dengan mobil itu," ucap Susi.


Herman tidak menjawab. Ia menoleh ke arah luar dan mengintip mobil tersebut dari balik kaca rumahnya. Bukan hanya Herman yang sedang asik memperhatikan mobil mewah tersebut, tetapi juga para tetangga sebelah rumah. Mereka heran karena mobil itu masih terparkir di sana, sementara si empunya mobil sudah kembali ke kota.

__ADS_1


...***...


__ADS_2