
Keesokan paginya.
Seperti malam sebelumnya, malam ini pun Dea membiarkan Alfa untuk tidur bersamanya di atas tempat tidur mewah tersebut. Walaupun masih belum melakukan apa-apa, setidaknya guling yang menjadi pembatas mereka, sudah tersingkir.
Alfa berbaring miring dengan posisi saling berhadapan dengan gadis itu.
"Terima kasih karena sudah memberikan aku kesempatan ke-dua, Dea." Alfa tersenyum sembari membelai pipi Dea dengan lembut.
Dea tersenyum tipis. "Ya, Mas. Setelah aku pikir-pikir, Tuhan saja bisa memaafkan kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh umat-Nya, masa aku sebagai umat-Nya tidak bisa memaafkan kesalahanmu kepadaku."
Setelah beberapa saat, mereka pun tertidur dengan pulas.
Keesokan harinya.
"Dea, apa pun yang ingin kamu lakukan di rumah ini, lakukanlah dan tidak usah merasa sungkan. Yang penting tidak membahayakan dirimu dan bayi kita. Ingat! Tidak membahayakan dirimu dan bayi kita, mengerti?"
Sebelum masuk ke dalam mobilnya, Alfa mencoba mengingatkan Dea, sebab hari ini ia harus kembali masuk kerja.
Dea mengangguk pelan sambil tersenyum. "Ya, baiklah. Akan kuingat itu."
"Ok. Aku berangkat dulu. Jaga diri baik-baik, ya! Kalau butuh sesuatu bisa bilang pada para pelayan atau Mommy. Dan jika kamu butuh aku, hubungi saja nomor ponselku," sambung Alfa sambil menepuk pundak Dea.
Alfa berbalik kemudian bersiap melangkah masuk ke dalam mobil yang pintunya sudah terbuka lebar. Namun, sebelum ia mengangkat kakinya memasuki benda itu, tiba-tiba Dea kembali memanggil namanya.
"Mas Alfa," panggil Dea dengan ragu-ragu.
"Ya?" Alfa kembali berbalik kemudian menatap gadis itu.
"Kerah kemejamu berantakan. Boleh aku membantu memperbaikinya?"
Alfa tersenyum lebar. "Tentu saja."
__ADS_1
Alfa kembali menghampiri Dea dan kini dengan cekatan gadis itu memperbaiki kerah kemejanya yang sedikit berantakan. Sementara Dea fokus pada kemeja tersebut, Alfa malah begitu fokus menatap wajah Dea sambil tersenyum simpul.
"Sudah, Mas."
"Ehm, Dea?"
Dea mengangguk kepalanya, mendongak menatap Alfa. "Ya, Mas?"
"Boleh aku mencium keningmu sebelum berangkat?" tanya Alfa tanpa ragu-ragu.
Dea tersenyum dan wajahnya tampak merah merona menahan malu. Ia mengangguk pelan dan menyetujui keinginan Alfa.
"Boleh, Mas. Silakan," jawab Dea malu-malu.
Tentu saja Alfa begitu senang mendengar jawaban dari Dea barusan. Perlahan tapi pasti, begitulah menurut Alfa. Setidaknya hubungannya bersama gadis itu tidak jalan di tempat.
Alfa meletakkan kedua tangannya di pundak Dea. Ia terus mendekatkan wajahnya pada gadis itu hingga akhirnya ia berhasil melabuhkan ciuman hangatnya di kening gadis itu.
"Terima kasih, Dea."
Nyonya Kharisma dan Tuan Harry memperhatikan Alfa dan Dea dari kejauhan. Dan mereka begitu bahagia melihat hubungan anak dan menantunya yang terlihat semakin hangat saja.
"Semoga saja mereka langgeng terus hingga tua seperti kita ya, Sayang," ucap Nyonya Kharisma sambil tersenyum kepada sang suami, Tuan Harry.
"Ya, aku juga berharap begitu."
***
Sementara itu di tempat lain.
"Kamu mau ke mana, Non? Tidakkah ini masih terlalu pagi untuk jalan-jalan?" pekik Betty ketika melihat Cecilia dengan terburu-buru menuju halaman depan, di mana mobilnya sudah menunggu.
__ADS_1
Betty bergegas mengikuti langkah Cecilia yang begitu cepat dan lelaki bertulang lunak itu tampak kewalahan.
"Non! Non tidak menjawab pertanyaan dariku, Non Cecil mau ke mana?"
"Aku ingin menemui Mateo dan mengatakan soal kehamilanku ini kepadanya," sahut Cecilia tanpa menghentikan langkah cepatnya.
"Dan meminta pertanggung jawaban dari lelaki itu?" tanya Betty kemudian.
"Ya, kenapa tidak! Bukankah ini akibat keteledorannya?!" kesal Cecilia.
Betty tidak bisa berkata-kata lagi. Ia menghela napas berat sembari mengikuti Cecilia hingga kini mereka pun tiba di depan halaman rumah wanita itu.
"Jangan lama-lama ya, Non. Hari ini kita masih memiliki job yang belum terselesaikan," ucap Betty yang kembali mencoba mengingatkan wanita itu.
"Ya," jawab Cecilia singkat kemudian masuk ke dalam mobil dan menutup pintunya dengan sedikit kasar.
"Jalan, Pak!" titah Cecilia kepada sopirnya.
"Siap, Nona."
Betty hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan melihat sikap Cecilia yang begitu keras. Ia terdiam di tempat itu dengan tatapan yang masih fokus mobil yang ditumpangi oleh majikannya tersebut.
"Semoga suatu saat nanti Tuhan membuka mata hatimu, Non Cecil. Agar kamu tahu siapa yang tulus dan siapa yang hanya memanfaatkan kebodohanmu," gumam Betty.
Di dalam mobil Cecilia.
"Bodoh!" umpat Cecilia sambil memukul jok yang ia duduki dengan cukup keras.
Wajahnya tampak memerah, pertanda bahwa saat itu Cecilia benar-benar sangat marah.
"Gila! Sebenarnya lelaki ini ke mana? Kenapa nomornya masih tidak aktif. Apa mungkin ia ganti nomor?" gumam Cecilia lagi.
__ADS_1
Cecilia tidak menyerah sampai di situ saja. Ia terus mencoba menghubungi nomor ponsel Mateo, lagi dan lagi.
...***...