
Beberapa bulan kemudian.
Kini kandungan Dea sudah memasuki bulan ke-sembilan. Perkiraan tinggal beberapa minggu lagi Dea pun akan segera melahirkan putra pertamanya.
Semua barang-barang keperluan yang dibutuhkan oleh Dea ketika melahirkan nanti sudah dipersiapkan oleh Alfa dan ibu mertuanya sejak jauh hari.
Di dalam kamar Alfa dan Dea.
"Mas, temanmu sama temanku ini, sama-sama aneh, ya!" gerutu Dea sambil menatap layar ponsel yang ada di genggamannya kemudian meletakkan benda tersebut ke atas nakas.
Alfa yang sedang merapikan kemejanya, tiba-tiba tersenyum menatap sang istri. Ia menghampiri Dea kemudian duduk di samping gadis itu.
"Kenapa lagi sih, Sayang?" Alfa meraih pundak Dea kemudian membawanya ke pelukannya.
"Masa mereka memutuskan menikah di saat aku dalam keadaan genting begini, sih?" lanjut Dea sambil memasang wajah masam menatap Alfa.
"Ya, mau bagaimana lagi? Itu 'kan sudah keputusan mereka. Berdoa saja, semoga kita masih sempat menikmati momen kebahagiaan mereka," sahut Alfa.
Minggu depan Ervan dan Nadia akan merayakan pernikahan mereka setelah beberapa bulan mereka memutuskan untuk berpacaran. Ervan yang merasa sudah cocok bersama Nadia yang sederhana dan apa adanya, memutuskan untuk melamar gadis itu dan berniat menjadikannya sebagai pasangan hidup.
"Oh ya, kamu sudah mempersiapkan hadiah untuk Nadia?" tanya Alfa kepada Dea yang masih saja memasang wajah masam.
Dea mengangguk pelan. "Sudah. Tapi aku takut kita tidak bisa berhadir ke pesta pernikahan mereka, Mas."
Alfa kembali tersenyum kemudian mengelus perut Dea yang sudah membesar. "Sayang, tolong izinkan Mommy dan Daddy menghadiri pernikahan Uncle Ervan dan Aunty Nadia, ya. Kamu yang anteng dulu di sana. Ok?"
__ADS_1
"Ish. Mas apaan, sih!" protes Dea sambil menepuk tangan Alfa yang sedang mengelus perutnya.
"Kan katanya kamu mau menghadiri acara pernikahan Ervan dan Nadia. Jadi, tidak ada salahnya dong kita minta izin dulu sama si Baby," jawab Alfa sambil terkekeh pelan.
Tok ... tok ... tok!
Alfa dan Dea saling tatap.
"Ya?" teriak Alfa.
"Ini saya, Tuan Alfa. Saya diminta oleh Nyonya Kharisma untuk memanggil Anda dan Nona Dea karena di luar sedang ada tamu," jawab seorang pelayan yang berdiri di balik pintu kamar megah itu.
"Tamu? Siapa?" tanya Alfa lagi.
"Kak Herman? Kenapa kak Herman tidak kasih tau aku sebelumnya kalau mereka ingin berkunjung ke sini?" pekik Dea dengan wajah heran.
"Ayo, kita temui mereka mungkin mereka ingin memberikan kejutan kepada kita," ucap Alfa sembari mengulurkan tangannya ke hadapan Dea.
Dea pun menyambutnya kemudian berjalan bersama Alfa menuju ruang utama, di mana Herman dan Susi sudah menunggu mereka di sana.
Setibanya di ruangan itu, ternyata benar. Herman, Susi dan Virna sudah menunggu di sana dan kini mereka tengah asik berbincang bersama Tuan Harry dan Nyonya Kharisma.
"Nah, itu mereka!" pekik Nyonya Kharisma sembari menunjuk ke arah Alfa dan Dea yang sedang berjalan ke arah mereka.
Susi menatap Dea dengan mata membulat sempurna. Ia tidak pernah membayangkan bahwa ternyata Dea benar-benar hidup seperi seorang putri di rumah megah itu. Penampilan adik iparnya itu bahkan terlihat jauh berbeda. 180 derajat berubah jauh lebih cantik dan lebih elegan dari sebelumnya.
__ADS_1
"Wow, Dea! Kamu cantik sekali!" pekik Susi sambil menatap Dea tanpa berkedip sedikitpun.
Dea melepaskan tangan Alfa kemudian berjalan menghampiri Herman. Herman pun segera bangkit dari tempat duduknya dan menyambut kedatangan Dea.
"Kakak, apa kabar?" tanya Dea sembari memeluk Herman dengan mata berkaca-kaca.
"Baik, Dek. Bagaimana denganmu?" sahut Herman yang kini melerai pelukan mereka dan menatap Dea dengan penuh haru.
"Aku baik, Kak."
Setelah selesai saling bersapa, Dea dan Alfa pun duduk di sofa tersebut, berseberangan dengan Susi dan Herman.
"Maafkan Kakak, Dea. Kakak baru sempat berkunjung ke sini karena beberapa bulan terakhir Kakak sibuk merenovasi rumah kita di kampung. Sekarang semuanya sudah beres dan kalian tidak perlu bingung lagi kalau ingin menginap di sana karena Kakak sudah mempersiapkan sebuah kamar khusus untuk kalian," ucap Herman dengan wajah semringah menatap Dea dan Alfa yang duduk di hadapannya.
"Ya ampun, Kakak. Kenapa Kakak sampai repot-repot begitu?" sahut Dea.
"Ish, tidak repot kok, Dek. Kan itu sudah kewajiban kami," sela Susi sambil melemparkan senyuman terbaiknya kepada semua orang yang ada di ruangan itu.
"Ya, kami pasti akan berkunjung ke sana dan menginap untuk beberapa hari. Benar 'kan, Sayang?" sambung Alfa.
"Iya, nanti setelah bayi kita lahir, Mas. Kalau sekarang 'kan masih genting," jawab Dea sambil menggenggam tangan Alfa yang sedang mengelus lututnya.
"Eh, tapi jangan lama-lama ya, Nak! Nanti kami kesepian di sini," protes Nyonya Kharisma sambil menekuk wajahnya kepada Alfa.
...***...
__ADS_1