
"Ayo, makan yang banyak, Vania. Biar kamu cepat besar," ucap Susi kepada anak perempuannya ketika mereka berkumpul di meja makan. Susi memasukkan nasi serta lauk yang banyak ke atas piring milik Vania.
Vania menekuk wajahnya. Ia paling tidak suka jika Susi memintanya makan banyak-banyak. "Sudah, Bu. Cukup! Aku tidak bisa menghabiskan semua makanan ini," kesal Vania.
"Bisa! Pasti bisa," sahut Susi dengan wajah semringah menatap Vania.
Sementara Herman hanya diam sambil memainkan sendok dan garpunya tanpa berkeinginan memasukkan makanan itu ke mulutnya. Susi merasa kesal melihat kelakuan suaminya pagi ini dan ia pun kembali menggerutu.
"Kenapa lagi kamu, Mas? Kenapa makanannya hanya dimain-mainkan saja! Nanti Virna malah ikut-ikutan seperti itu!" kesal Susi sembari duduk di kursinya.
"Maafkan aku." Herman meletakkan sendok dan garpunya kembali kemudian menghembuskan napas berat. "Aku sedang memikirkan Dea. Semoga saja dia baik-baik saja di sana," lanjut Herman.
Susi mendengus kesal. "Dea lagi, Dea lagi! Aku yakin dia baik-baik saja di sana. Lagi pula ngapain kamu memikirkan dia? Setelah dia hidup enak bersama suaminya, aku yakin sekali ia tidak akan pernah mengingatmu sebagai kakaknya," ketus Susi.
"Tidak mungkin seperti itu, Susi. Aku yakin Dea tidak akan pernah melupakan aku sebagai kakaknya," jawab Herman.
Tepat di saat itu, Dea tiba di kediaman mereka. Ia berdiri tepat di depan pintu rumah milik Susi dan kemudian mengucapkan salam sebelum memasuki rumah tersebut.
__ADS_1
"Bukankah itu Dea?" pekik Herman sambil menautkan kedua alisnya menatap Susi. Bukan hanya Herman, Susi pun tidak kalah terkejutnya.
"Ya, kamu benar. Kenapa dia ke sini? Apa mungkin ... oh, tidak!" seru Susi.
Dea tiba di ruangan itu dengan wajah kusut. Penampilan gadis itu terlihat acak-acakan dan matanya pun masih sembab. Menyadari hal itu, Herman pun segera bangkit kemudian menghampiri Dea.
"Kamu kenapa, Dea? Apa kamu baik-baik saja? Lalu di mana suamimu?" Herman memperhatikan sekeliling ruangan di belakang Dea. Ia mencari keberadaan Julian. Namun, sayangnya ia tidak melihat lelaki itu di manapun.
"Julian sudah mengucapkan talak kepadaku, Kak," lirih Dea sambil terisak.
Herman meraih pundak Dea kemudian menuntun gadis itu ke sebuah kursi kosong yang ada di ruangan tersebut.
"Duduklah dulu, Dea. Baru jelaskan kepada kami apa yang sebenarnya terjadi padamu," lanjut Herman.
Dea pun duduk di kursi tersebut sambil menyeka air matanya.
"Kenapa Julian tiba-tiba menceraikanmu? Apakah semua itu ada hubungannya dengan dirimu yang sudah tidak suci lagi, Dea?" tanya Susi yang sudah tidak sabar mendengarkan penjelasan dari gadis itu.
__ADS_1
Dea pun menganggukkan kepalanya perlahan. "Ya, Kak. Mas Julian tidak bisa menerimaku apa adanya. Setelah tahu kebenaran itu, Mas Julian langsung menceraikan aku," lirih Dea.
"Ya, Tuhan!" Susi menepuk keningnya. Ia kesal karena akhirnya gadis itu harus kembali berkumpul bersama keluarga kecilnya. Padahal selama ini ia begitu mengharapkan Dea segera pergi menjauh dan tidak mengganggu kehidupannya bersama Herman dan Virna.
"Pihak Mas Julian akan segera ke sini untuk membicarakan masalah kami, Kak," lirih Dea kepada Herman yang sejak tadi terus menatapnya dengan tatapan sendu.
"Untuk apa? Jangan bilang mereka ingin kami ganti rugi atas biaya pernikahan kalian, ya!" sela Susi dengan mata membulat.
Dea menggelengkan kepalanya pelan. "Aku tidak tahu, Kak. Mereka hanya bilang ingin bertemu dengan kalian dan membereskan masalah kami."
"Ya, Tuhan! Entah kenapa aku merasa yakin bahwa keluarga besar Julian hanya ingin meminta ganti rugi kepada kita! Tapi, semoga saja tidak! Dari mana kita mendapatkan uang sebanyak itu coba?" gerutu Susi dengan tangan menyilang di dada.
"Seketika rasa laparku hilang!" Susi kembali mendengus kesal. "Sekarang kamu sudah membuktikannya, Dea! Tidak ada lelaki yang tulus mencintaimu, termasuk Julian. Lelaki yang selama ini selalu kamu agung-agungkan."
Dea tidak berani menjawab. Ia terdiam sambil menundukkan kepalanya menghadap lantai. Begitu pula Herman, lelaki itu pun tampak pasrah dengan takdir yang akan menghampiri keluarga kecilnya itu.
...***...
__ADS_1