
"Apa yang terjadi pada Dea?"
Ternyata Nadia pun melihat kejadian itu dengan sangat jelas. Di mana Alfa panik dan membawa Dea keluar dari ballroom dengan tergesa-gesa. Pasangan itu bahkan tidak sampai pamit kepada mereka.
"Entahlah. Aku tidak melihatnya. Memang kenapa?" tanya Ervan heran.
"Alfa membawanya pergi dengan tergesa-gesa. Apa Dea akan segera melahirkan sekarang, ya? Tapi, menurut Dea, ia akan melahirkan sekitar dua minggu lagi," sahut Nadia dengan wajah cemas.
"Mungkin saja. Sebentar, aku ingin menghubungi Alfa!"
Ervan meraih ponselnya kemudian berjalan secara perlahan dengan kaki barunya menuju salah satu sudut ruangan. Ia mencoba menghubungi nomor ponsel sahabatnya itu, tetapi sama sekali tidak dijawab oleh Alfa.
"Oh, ayolah, Alfa! Sebenarnya kalian kenapa?" kesal Ervan yang terus mencoba menghubungi nomor ponsel Alfa. Namun, lagi-lagi panggilannya pun tidak digubris.
Setelah puas mencoba menghubungi nomor ponsel Alfa, Ervan pun kembali ke sisi Nadia.
"Bagaimana?" tanya Nadia. Berharap Ervan memberikan berita yang baik untuknya.
Ervan menggelengkan kepalanya perlahan. "Dia tidak menjawab panggilanku."
"Ya, Tuhan! Entah kenapa aku yakin sekali bahwa Dea memang akan segera melahirkan," gumam Nadia yang semakin mencemaskan keadaan sahabatnya itu.
"Kalau benar seperti itu, sebaiknya kita berdoa saja untuk kelancaran proses melahirkannya," sahut Ervan sambil mengelus lembut pundak Nadia.
"Mas, jika benar Dea melahirkan, setelah acara pernikahan kita selesai, kita ke Rumah Sakit, ya! Aku ingin menjenguknya," lirih Nadia dengan penuh harap.
Ervan tersenyum. "Iya, tentu saja."
Sementara itu.
__ADS_1
"Ayo, Pak! Lebih cepat lagi!" titah Alfa kepada sopir pribadinya.
"Ya, Tuan. Tentu saja," jawabnya.
Alfa mengelus lembut puncak kepala Dea yang bersandar di dadanya. "Tahan sebentar ya, Sayang. Sebentar lagi kita akan sampai," ucap Alfa mencoba menenangkan Dea yang semakin kesakitan.
Setelah beberapa saat kemudian, mereka pun tiba di Rumah Sakit bersalin, di mana Dea memang direncanakan akan melahirkan di tempat itu.
Alfa memanggil para tim medis untuk segera menolongnya. Beberapa tim medis pun berdatangan kemudian segera mengambil tindakan cepat kepada Dea.
Sebelum Dea melahirkan, Alfa menyempatkan diri untuk menghubungi nomor ponsel Tuan Harry.
"Apa? Melahirkan!" pekik Tuan Harry sembari bangkit dari posisi duduknya.
"Siapa yang melahirkan, Sayang? Menantu kita?" tanya Nyonya Kharisma yang ikutan panik.
"Siapa, Sayang?" tanya Nyonya Kharisma lagi dengan wajah cemas menatap Tuan Harry.
"Ayo, Sayang! Sebaiknya kita bersiap. Cucu kita akan segera lahir," jawabnya.
"Apa? Oh ya, Tuhan! Semoga proses kelahirannya lancar tanpa ada kendala apa pun. Menantu dan cucuku selamat tanpa kurang apa pun juga," gumam Nyonya Kharisma.
"Ayo, Sayang!" ajak Tuan Harry lagi, yang sudah tidak sabar ingin menyusul Dea dan Alfa ke Rumah Sakit.
"Tapi, Sayang. Apa kamu baik-baik saja? Katanya tadi kamu masih pusing," ucap Nyonya Kharisma kemudian.
"Tidak. Aku sudah sehat sekarang. Coba lihat ini!" Tuan Harry menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat untuk meyakinkan kepada sang istri bahwa dirinya baik-baik saja.
"Baiklah kalau begitu."
__ADS_1
Nyonya Kharisma meraih tangan Tuan Harry kemudian memeluknya dengan erat. Akhirnya pasangan paruh baya itu pun segera berangkat menuju Rumah Sakit bersalin, di mana Dea dan Alfa sudah menunggu kehadiran mereka.
Tidak hanya memberitahu mommy dan daddy-nya, Alfa juga mencoba menghubungi Herman yang kini sudah kembali ke kampung halamannya.
Herman begitu terharu mendengarnya. Namun, sayangnya jarak antara desa Muara Asri dengan kota tempat tinggal Alfa, lumayan jauh dan membutuhkan waktu beberapa jam baru tiba di sana.
"Aku mendoakan yang terbaik untuk adik dan keponakanku. Semoga mereka selamat dan sehat tanpa kurang apa pun," ucap Herman.
"Ya. Terima kasih banyak, Mas Herman. Aku hanya sekedar memberitahu. Mas tidak usah khawatir karena Dea akan baik-baik saja di sini," sahut Alfa.
Setelah selesai memberitahu seluruh keluarganya, Alfa pun kembali memasuki ruang bersalin. Di mana Dea masih meringis kesakitan menjelang detik-detik kelahiran Sang Pewaris.
"Tenanglah, Sayang. Aku ada di sini," ucap Alfa sambil mencium punggung tangan Dea.
"Temani aku terus ya, Mas. Jangan tinggalkan aku," pinta Dea dengan wajah memucat menatap Alfa. Tangannya begitu erat menggenggam tangan lelaki itu.
Alfa mengangguk pelan. "Ya, Sayang. Tentu saja."
Dokter kembali memeriksa pembukaan Dea dan ternyata pembukaannya sudah lengkap. Dokter kembali memberikan instruksi cara melahirkan yang baik dan benar kepada Dea agar proses kelahirannya berjalan mulus dan lancar.
"Ayo, semangat Nak Dea! Kamu pasti bisa," ucap Bu Dokter yang menangani proses kelahiran Dea.
Beberapa menit kemudian.
Oeekkk ... oeeekkk ....
Suara tangisan pertama putra Alfa dan Dea pun terdengar memecah keheningan dan ketegangan di ruangan itu. Alfa tersenyum lega, begitu pula Dea dan Bu Dokter yang menangani kelahiran bayi mungil berjenis kelamin laki-laki tersebut.
...***...
__ADS_1