Benih Sang Pewaris

Benih Sang Pewaris
Bab 42


__ADS_3

Akhirnya rombongan Alfa tiba di kediaman mewah milik Sang Daddy, Tuan Harry. Ternyata Ervan pun hadir di sana. Ia tidak ingin ketinggalan menyambut kedatangan sahabatnya itu. Selama dua bulan lebih Alfa tergolek di Rumah Sakit dengan kondisi kritis dan kini Ervan bisa bertatap mata bersama sahabatnya itu lagi.


"Alfa. Apa kabarmu, Kawan?" Ervan yang duduk di kursi roda mengulurkan tangannya kepada Alfa.


Mata Alfa berkaca-kaca ketika menatap sahabatnya itu. Dengan setengah berlari, Alfa menghampiri Ervan kemudian memeluk sahabatnya itu.


"Ervan!"


Ervan pun membalas pelukan Alfa sambil mengelus lembut punggungnya. "Oh sudahlah, Alfa! Jangan cengeng," ucap Ervan sambil tertawa pelan karena Alfa menangis di saat memeluknya.


Alfa melerai pelukannya kemudian menatap lekat Ervan.


"Bagaimana ini bisa terjadi? Sebenarnya apa yang aku lakukan saat itu? Akhhh!" kesal Alfa sambil mengepalkan tangannya ke udara. Alfa sangat kesal karena ia sama sekali tidak bisa mengingat apapun tentang kejadian itu.


"Sayang, sudahlah!" Cecilia segera menghampiri Alfa kemudian memeluk lelaki itu dengan erat sambil memasang wajah sedih.


"Cecilia, kamu?!" pekik Ervan dengan wajah bingung.


Ervan bingung, bagaimana Cecilia bisa kembali bersama Alfa. Sementara Alfa pernah bercerita kepadanya (sebelum kecelakaan itu terjadi) bahwa ia dan Cecilia tidak akan pernah kembali bersatu, apapun yang terjadi. Ervan tahu Alfa sangat kecewa karena pengkhianatan yang dilakukan oleh wanita itu di belakangnya.

__ADS_1


Alfa tersenyum, begitu pula Cecilia. "Kenapa wajahmu seperti itu, Ervan? Seperti habis melihat hantu saja," ucap Ervan sambil tertawa pelan setelah melihat ekspresi Ervan.


"Ehm, Alfa ... bagaimana kalian--" Belum habis pertanyaan Ervan terucap di bibirnya, tiba-tiba Nyonya Kharisma memanggil mereka dan meminta mereka agar masuk ke dalam rumahnya.


"Alfa, Cecilia, Ervan, sebaiknya kalian ngobrolnya di dalam saja. Sekalian minum-minum! Mommy tahu, kalian pasti haus. Benar 'kan?"


"Ya, Mommy benar. Sebaiknya kita ngobrol di dalam saja," sambung Alfa sembari melerai pelukan Cecilia di tubuhnya.


Alfa menghampiri Ervan kemudian membantu mendorong kursi roda milik sahabatnya itu. "Aku bantu ya, Ervan."


"Terima kasih, Kawan!"


Kini mereka tiba di ruang utama, di mana berbagai makanan ringan serta minuman sudah tertata rapi di atas meja.


"Di sini saja. Tidak apa-apa," jawab Ervan.


"Baiklah kalau begitu. Oh ya, Sayang. Temani Ervan sebentar, ya! Aku ingin ganti pakaian. Boleh 'kan?" tanya Alfa kepada Cecilia yang masih berdiri di sampingnya.


Cecilia pun mengangguk pelan. Setelah Alfa pergi, Cecilia menjatuhkan dirinya di sofa. Ia meraih sebotol minuman bersoda kemudian meminumnya tanpa mempedulikan Ervan yang sejak tadi memperhatikan dirinya.

__ADS_1


"Cecilia, aku tahu apa yang terjadi pada Alfa. Tuan Harry pernah bercerita padaku. Tapi aku heran, bagaimana bisa kamu kembali kepada Alfa setelah kamu berhasil menyakiti hati lelaki itu. Jangan bilang kamu memanfaatkan situasi ini untuk kembali lagi bersamanya," ucap Ervan dengan wajah serius menatap Cecilia yang masih asik dengan botol minumannya.


Cecilia tersenyum kemudian meletakkan kembali botol minuman bersoda itu ke atas meja. Wanita cantik itu membalas tatapan Ervan sambil terus menyunggingkan sebuah senyuman manis.


"Kalau itu benar, memangnya kenapa? Apa itu masalah buatmu, Ervan? Lagi pula ini adalah permintaan dari Mommy dan Daddy langsung. Lalu, haruskah aku menolak permintaan mereka?" sahut Cecilia dengan santainya.


Ervan tersenyum sinis. "Aku yakin, suatu saat nanti ingatan Alfa akan kembali. Dan aku sangat menunggu hari itu, di mana dia akan menendangmu untuk kedua kalinya dari hidupnya, Cecilia."


"Kita lihat saja nanti. Tapi, aku lebih yakin bahwa Alfa akan memilih mempertahankan aku," jawab Cecilia dengan penuh keyakinan.


"Benarkah? Kamu masih yakin dia akan mempertahankan dirimu setelah dia ingat bahwa tubuhmu sudah dikuasai oleh Mateo pada malam itu? Heh, menjijikkan!"


"Diam kamu, Ervan! Apa pun yang aku lakukan itu bukan urusanmu. Memangnya kamu mengalami kerugian besar ya, jika aku kembali pada Alfa?" Cecilia mulai kesal dan meninggikan suaranya.


"Dia sahabatku, Cecilia! Aku tidak ingin kamu memanfaatkan dirinya," jawab Ervan.


"Ehem! Ada apa ini?" Alfa tiba di ruangan itu dengan penampilan yang tampak lebih segar. Ia berjalan mendekati Cecilia kemudian duduk di samping kekasihnya itu.


"Bukan apa-apa, Sayang. Aku hanya kesal saja karena Ervan terus menolak saat aku menawarkan minum kepadanya. Ya, sudah! Aku minum sendiri," jawab Cecilia sembari meraih botol minumannya tadi kemudian meneguknya.

__ADS_1


"Ya, Tuhan, cuma itu? Aku pikir kenapa," ucap Alfa sambil tertawa pelan. Sementara Ervan masih diam dan wajahnya pun masih terlihat kesal.


...***...


__ADS_2