Benih Sang Pewaris

Benih Sang Pewaris
Bab 65


__ADS_3

"De-Dea, gadis itu?!" pekik Alfa dengan napas memburu.


"Aku ingin sekali bertemu dengannya, Alfa. Aku ingin meminta maaf atas perbuatan kita. Apa kamu sadar? Kecelakaan yang menimpa kita pada malam itu, itu adalah karma yang dibayar kontan oleh Tuhan kepada kita. Kamu tidak sadarkan diri selama 3 bulan, aku kehilangan kakiku, dan Arman ...." Ervan mengembuskan napas berat. "Arman harus kehilangan nyawanya di kecelakaan itu," lanjut Ervan dengan wajah sedih.


"Ya, Tuhan!" Alfa menangis lirih di tempat itu. Ia duduk di tepian pantai sambil memeluk kedua lututnya. Tatapannya nanar ke arah lautan nanti luas.


"Pantas saja dia sangat membenciku, Van. Beberapa kali dia mengatakan bahwa aku adalah lelaki bejat yang sudah menghancurkan hidupnya. Kenapa? Kenapa kita bisa bersikap seperti hewan pada malam itu?" gumam Alfa dengan penuh penyesalan.


"Dia? Dia siapa maksudmu? Dan ya, kamu benar. Malam itu kita benar-benar seperti binatang dan itu terjadi karena kita sudah menenggak minuman memabukkan itu!" sahut Ervan. Sama seperti Alfa, terlihat jelas penyesalan yang begitu mendalam di raut wajah Ervan.


"Gadis itu, Van. Aku rasa dia tidak akan pernah memaafkan aku!" Alfa membenamkan wajahnya ke sela kedua kakinya yang menekuk. Tubuh lelaki itu bergetar dan ia kembali terisak di sana, menyesali seluruh perbuatan kejinya terhadap Dea.


Ervan menautkan kedua alisnya sambil menatap punggung Alfa yang masih bergetar. "Gadis itu? Maksudmu, kamu pernah bertemu dengan gadis itu?" pekik Ervan.


Perlahan Alfa mengangkat kepala dan kembali menatap lautan luas dengan tatapan nanar. Ia menyeka air mata yang merembes di kedua pipi sembari menetralkan napasnya yang memburu.


"Ya. Gadis itu bekerja di perusahaanku sebagai Office Girl dan saat ini dia tengah mengandung, Van."


"Me-mengandung?! Jangan-jangan itu--" Ervan menutup mulutnya yang menganga. Ia begitu syok mendengar penuturan Alfa.


Alfa membuang napas berat. "Entahlah, Ervan. Aku tidak tahu, tapi jika itu benar. Maka aku berjanji akan bertanggung jawab kepada bayi itu."

__ADS_1


"Bisa bantu aku bertemu dengannya, Alfa? Aku ingin meminta maaf kepadanya," lirih Ervan.


Alfa mendongak dan menatap Ervan yang masih duduk di atas kursi rodanya. "Aku tidak berani berjanji, Ervan. Gadis itu bahkan sangat membenciku."


"Wajar saja ia membencimu, Alfa. Bukan hanya kamu, tapi kita semua! Dia patut membenci kita karena perbuatan kita sangat bejat dan tidak pantas untuk di maafkan."


Alfa mengangguk pelan. "Ya. Kamu benar."


Di sisi lain tempat itu.


Tampak sebuah kapal nelayan lewat di depan Alfa dan Ervan dengan jarak yang cukup jauh. Orang-orang di dalam kapal tersebut sedang memperhatikan mereka dengan seksama.


"Halah, mungkin hanya orang-orang kota yang ingin menikmati keindahan pantai kita ini." Terdengar seseorang menjawab pertanyaan lelaki itu.


"Apa kamu tahu, aku menunggu salah satu lokasi di desa kita ini dijadikan tempat pariwisata, agar kita bisa memperoleh pendapatan lain, selain mengharap pada hasil laut yang tidak menentu ini," celetuk yang lainnya.


"Ya, kamu benar."


Ketika para lelaki itu sedang asik berbincang, salah satu lelaki di antara mereka masih menatap nanar ke arah Ervan dan Alfa sambil memikirkan sesuatu. Dia adalah Herman, kakak lelaki Dea yang masih terus kepikiran akan nasib adik perempuannya itu.


Setiap kali ada pendatang baru, Herman akan selalu berpikiran buruk. Ia selalu menduga-duga bahwa orang-orang baru itu lah yang sudah tega menghancurkan kehidupan Dea. Sama seperti saat ini, Herman menatap curiga pada Alfa dan Ervan yang sedang berada di tepian pantai.

__ADS_1


"Apakah mereka yang sudah menghancurkan kehidupan Adikku?" gumamnya dengan tatapan fokus ke depan, di mana Alfa dan Ervan berada. Herman baru memalingkan wajah setelah bayangan kedua lelaki itu hilang dari pandangannya.


Setelah puas berbincang, Alfa dan Herman berniat untuk mencari tahu siapa Dea yang sebenarnya. Ia dan Ervan berjalan memasuki perkampungan, di mana Dea besar di sana.


"Bagaimana cara kita bertanya kepada mereka?" tanya Ervan sambil memacu kursi roda yang ia duduki. Beruntung jalan di desa tersebut sudah beraspal mulus hingga Ervan tidak kesulitan memacu benda itu.


"Aku punya foto gadis itu."


Alfa merogoh saku kemejanya yang masih setengah kering, kemudian meraih ponselnya untuk mencari-cari foto Dea yang sengaja ia ambil dari berkas-berkas data diri Dea kemarin. Setelah berhasil menemukan foto tersebut, Alfa pun segera menyerahkannya kepada Ervan.


"Ini foto gadis itu, lihatlah!"


Ervan menyambut benda pipih itu dari tangan Alfa kemudian memperhatikan foto Dea yang terlihat sangat cantik natural.


"Dia gadis yang sangat cantik," gumam Ervan.


"Ya, dan kita dengan teganya menghancurkan kehidupan gadis itu."


"Ya, kamu benar, Alfa."


...***...

__ADS_1


__ADS_2