
"Nadia! Maafkan aku," lirih Dea yang kini berada di pelukan Nadia.
Nadia mengelus punggung Dea dengan lembut dan ia bingung kenapa gadis itu bisa menangis tersedu-sedu.
"Kamu kenapa, Dea? Aku tidak mengerti apa yang kamu maksud," tanya Nadia sembari melerai pelukannya bersama Dea kemudian memperhatikan wajah sendu sahabatnya itu dengan seksama.
"Aku yakin, beberapa saat lagi aku akan dipecat setelah tadi aku menabrak lelaki itu dan memakinya."
"Kamu menabrak Tuan Alfa?" pekik Nadia.
"Aku tidak sengaja, Nad. Pandanganku hanya fokus ke nampan berisi minuman para karyawan dan tepat di saat itu dia lewat dan akhirnya aku pun menabraknya."
"Lalu, bagaimana reaksi lelaki itu? Apa dia mengenalimu?" tanya Nadia dengan mata membulat.
"Itu lah yang paling aku benci darinya! Dia bahkan seolah-olah tidak mengenaliku. Apa kamu tahu, ia malah tersenyum padaku dengan wajah tak bersalahnya!" kesal Dea sembari menyeka air matanya.
"Lalu kamu memakinya?"
"Tuan Asisten itu memintaku untuk meminta maaf kepadanya. Tentu saja aku menolak tegas! Aku tidak sudi meminta maaf kepada lelaki itu, walaupun aku harus dipecat dari perusahaan ini. Aku hanya mengotori pakaian mahalnya dan tidak merusaknya, tapi dia! Dia sudah menghancurkan hidupku hingga sehancur-hancurnya dan aku tidak akan pernah memaafkan lelaki itu. Tidak akan," kesal Dea.
"Iya, sudah-sudah. Aku mengerti bagaimana perasaanmu saat ini." Nadia kembali mengelus punggung Dea dengan lembut.
__ADS_1
Di saat kedua gadis itu tengah berbincang, tiba-tiba saja terdengar suara wanita yang tadi pagi menegurnya. Wanita itu menghampiri Nadia dan Dea dengan wajah cemas.
"Dea, aku baru mendapat informasi tentang masalahmu dengan Tuan Alfa barusan. Aduh, Dea! Bagaimana ini bisa terjadi? Kamu itu pekerja baru di sini, tapi sekarang kamu sudah berani membuat masalah kepada Boss Besar kita! Apa kamu tahu, Tuan David barusan meminta data-data tentangmu dan membawanya ke ruang Tuan Alfa. Aku yakin sebentar lagi kamu akan dipecat dari pekerjaanmu."
Wanita itu mengernyitkan keningnya dan menatap Dea dengan wajah serius. "Kenapa kamu tidak meminta maaf saja, Dea? Lagi pula kata karyawan yang melihat dengan jelas kejadian itu, kamu juga salah. Kamu membawa nampan tersebut dengan kepala tertunduk."
"Maafkan jika saya lancang, Bu. Saya tidak akan pernah sudi meminta maaf kepada lelaki itu dan saya tidak peduli walaupun saya harus di pecat sekalipun!" sahut Dea dengan kesal.
Wanita itu mengembuskan napas berat. "Terserah padamu, kalau dipecat pun itu bukanlah urusanku!"
Sementara itu di ruangan Alfa.
"Ini data diri gadis itu, Tuan Alfa."
Sementara Alfa sedang asik bersama berkas-berkas tersebut, David memilih melanjutkan tugasnya.
"Dea ... nama yang cantik, secantik orangnya." gumam Alfa. "Hmm, sebentar!"
Alfa terkejut melihat tanggal lahir Dea. "Wow, ternyata besok adalah hari ulang tahun gadis itu. Apa sebaiknya aku menemuinya kemudian mengucapkan selamat sekaligus meminta maaf?"
Alfa tersenyum tipis, tiba-tiba saja ia memiliki sebuah ide yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
__ADS_1
"Sebenarnya apa yang terjadi padaku? Apakah ini yang disebut dengan cinta pada pandangan pertama? Lalu ... bagaimana dengan Cecilia?" gumam lelaki itu lagi.
***
Keesokkan harinya.
"Wah, sepertinya anak Mommy sedang berbahagia hari ini," goda Nyonya Kharisma kepada Alfa yang sejak tadi pagi terus menyunggingkan sebuah senyuman di wajahnya.
Alfa terkekeh pelan. "Ah, Mommy bisa saja."
"Tapi Mommy serius, Alfa. Kalau kemarin wajahmu terlihat kusut, berbeda dengan hari ini. Hari ini kamu terlihat sangat bahagia. Ada apa 'sih gerangan? Oh ya, Mommy juga ingin bertanya soal lamaranmu kepada Cecilia. Semuanya berjalan lancar, 'kan?"
Alfa terdiam sejenak dengan tatapan yang masih tertuju pada sang Mommy. Sejak pertemuannya dengan Dea kemarin, ia bahkan lupa akan sosok Cecilia. Apa lagi soal lamaran itu.
"Ehm ...." Alfa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Acara lamaranku berjalan lancar dan Cecilia pun menerima cincin itu dengan senang hati."
"Wah, baguslah kalau begitu. Lalu, kapan rencananya kalian akan menikah? Jangan lama-lama ya, Alfa. Mommy rasa semakin cepat pernikahan kalian dilaksanakan, akan semakin baik."
"Entahlah, Mom. Aku masih belum memikirkan soal itu." Alfa melirik jam tangannya. "Sepertinya aku harus segera berangkat. Om David pasti sudah menungguku di luar."
Nyonya Kharisma menghela napas panjang. "Ya, sudah. Hati-hati di jalan, ya. Ingat, katakan sama David agar tidak ngebut ketika di jalan."
__ADS_1
"Baik, Mom. Bye!" Setelah mencium kedua pipi Nyonya Kharisma, Alfa pun bergegas menuju halaman depan. Di mana David biasa menunggu kedatangannya.
...***...