
"Dea sayang. Mommy sudah tahu semuanya. Semua tentang kejadian itu." Nyonya Kharisma terdiam sesaat. Namun, tangannya masih bergerak memijat kaki gadis itu.
"Maafkan Alfa, Nak."
Wanita paruh baya itu mengangkat kepalanya. Ia menatap Dea dengan mata berkaca-kaca. Cairan bening itu tampak menggenang di pelupuk mata Nyonya Kharisma dan siap merembes kapan saja.
Dea pun ikut terdiam. Dia tidak tahu harus berkata apa. Namun, melihat kesungguhan Nyonya Kharisma saat itu, Dea pun akhirnya menganggukkan kepalanya dengan perlahan.
"Mommy benar-benar malu. Mommy tidak menyangka bahwa Alfa sanggup melakukan hal menjijikkan itu, Dea," lirih Nyonya Kharisma yang akhirnya terisak di ruangan itu.
"Sudahlah, Mom. Sebaiknya jangan bahas itu lagi. Aku sudah berusaha untuk melupakan kejadian itu," ucap Dea.
"Maafkan Mommy, Dea. Ini semua karena kesalahan kami sebagai orang tuanya. Kami tidak bisa mendidiknya dengan baik. Kami terlalu memanjakan Alfa dan membiarkan ia melakukan apa pun yang ia inginkan."
Kepala Nyonya Kharisma tertunduk. Isak tangisnya semakin menjadi hingga membuat seluruh tubuhnya bergetar. Wanita paruh baya itu benar-benar menyesal dan ia merasa bahwa apa yang terjadi kepada Dea, itu semua karena kesalahannya.
Dea memperhatikan Nyonya Kharisma dengan seksama kemudian menghampiri wanita paruh baya itu.
"Mom, kumohon ... jangan menangis lagi."
Nyonya Kharisma mengangkat kepalanya kemudian mengelus wajah Dea. "Semoga dengan ini, Alfa bisa memperbaiki semua kesalahannya kepadamu, Nak. Mommy ingin kamu bahagia karena kamu pantas mendapatkannya."
"Ya, Mom. Terima kasih," jawab Dea.
Tepat di saat itu Alfa kembali ke ruangan itu dengan membawa nampan berisi secangkir teh jahe hangat serta beberapa camilan. Ia membawa nampan tersebut ke samping tempat tidur kemudian meletakkannya di atas nakas.
"Ini untukmu, Dea. Kata Bibi di dapur, minuman ini bagus untukmu," ucap Alfa sembari menyerahkan secangkir teh jahe hangat yang baru saja ia ambil dari dapur.
__ADS_1
Dea memperhatikan cangkir tersebut sebelum menyambutnya. "Terima kasih," ucap Dea.
"Alfa benar, Nak. Minuman ini bisa membuat perutmu menjadi lebih nyaman. Lagi pula Mommy bisa pastikan bahwa minuman ini aman untuk bayimu," sambung Nyonya Kharisma sambil mengelus lembut perut Dea.
Setelah mendengar penuturan Nyonya Kharisma, Dea pun bersedia meminum minuman itu. Padahal sebelumnya ia sempat ragu karena minuman itu pemberian Alfa. Entah kenapa ia masih belum bisa membuka hati sepenuhnya dan mempercayai lelaki itu.
Benar saja, setelah secangkir teh jahe tersebut tandas, Dea merasakan perutnya mulai terasa lebih nyaman.
"Bagaimana, sudah enakkan?" tanya Nyonya Kharisma sambil menatap lekat Dea.
Dea mengangguk. "Ya, Mom."
"Baiklah kalau begitu. Sebaiknya kamu istirahat saja lagi." Nyonya Kharisma bangkit dan sebelum ia keluar dari kamar itu, ia kembali berkata.
"Oh ya, Sayang. Pakaianmu sudah Mommy siapkan, kamu tinggal pilih saja. Semoga kamu menyukainya."
Nyonya Kharisma pun bergegas keluar dan kembali ke kamarnya.
Sementara itu,
Dea masih terdiam di atas tempat tidur sambil memegang erat selimut yang kini menutupi tubuhnya. Ia bingung bagaimana cara mengambil pakaiannya di ruangan ganti, sementara saat itu ia hanya mengenakan braa dan cd.
Beruntung Alfa mengerti dan segera menuju ruang ganti tanpa diminta oleh gadis itu. Setibanya di ruangan tersebut, Alfa tersenyum. Ia baru sadar bahwa ada sebuah lemari pakaian berukuran sangat besar yang berdiri tegak di samping lemari pakaian miliknya.
Alfa menghampiri lemari tersebut kemudian membukanya. Mata Alfa tiba-tiba terbelalak dan tak lama setelah itu, ia pun tersenyum nakal.
"Suuiitt!" Alfa bersiul sambil menenteng salah satu lingerie seksi yang menggantung di lemari pakaian milik Dea.
__ADS_1
"Mommy benar-benar paham!" Alfa terkekeh pelan. "Dea pasti akan sangat cantik jika mengenakan pakaian ini," lanjutnya sambil memperhatikan lingerie tersebut dengan seksama.
"Ah, jangan-jangan! Tidak untuk saat ini. Jika aku berikan lingerie ini kepada Dea, aku yakin Dea pasti akan menolaknya."
Alfa mengembalikan lingerie tersebut ke dalam lemari dan menggantungnya di tempat semula. Alfa mengedarkan pandangannya di sekeliling lemari tersebut hingga ia berhasil menemukan piyama tidur biasa untuk Dea.
"Sebaiknya yang ini saja," gumam Alfa.
Setelah berhasil menemukan piyama tersebut, Alfa bergegas kembali dan menemui Dea yang kini berbaring dengan seluruh tubuh tertutup selimut. Hanya beberapa helai rambut yang tampak menyembul ke luar di puncak kepala gadis itu.
"Dea, ini piyamamu."
Alfa meletakkan piyama tersebut di samping tubuh Dea. Perlahan Dea membuka selimutnya dan meraih piyama tersebut.
"Terima kasih."
Alfa mengangguk kemudian berbalik, dengan posisi membelakangi Dea. Setelah Dea berhasil mengenakan piyama tersebut, Alfa pun kembali ke posisinya semula.
"Alfa." Dea memulai percakapan mereka.
"Ya?"
"Maafkan aku ...." Dea membuang napas berat. "Untuk malam ini aku—" Belum habis Dea berucap, Alfa sudah memangkas ucapan gadis itu sambil tersenyum hangat.
"Tidak apa-apa, Dea. Aku mengerti apa maksudmu."
"Terima kasih karena sudah mengerti," ucap Dea kemudian.
__ADS_1
...***...