Benih Sang Pewaris

Benih Sang Pewaris
Bab 90


__ADS_3

Pintu terbuka dan tampaklah Alfa yang sedang tersenyum menatap Susi dan Herman secara bergantian.


Herman memperhatikan sekeliling Alfa dan ia agak sedikit kecewa karena lelaki itu datang sendirian tanpa ditemani oleh siapa pun, termasuk kedua orang tuanya.


"Kamu sendirian?" tanya Herman dengan alis yang saling bertaut.


"Ehm, ya, Mas," jawab Alfa ragu-ragu.


"Ih, Mas. Kenapa tidak dipersilakan masuk dulu biar ngomongnya enak," protes Susi dengan setengah berbisik kepada Herman.


Herman menghembuskan napas panjang kemudian membuka pintu tersebut lebih lebar lagi. "Silakan masuk," ucap Herman.


Alfa pun tersenyum lebar dan ia begitu senang karena Herman menyambutnya dengan cukup baik. Ya, walaupun terlihat jelas bahwa Herman tampak malas ketika bertatap mata dengannya.


"Terima kasih, Mas."


Perlahan Alfa masuk ke dalam rumah sederhana itu sambil membungkukkan badannya. Setelah Herman memberikan izin kepadanya untuk duduk di sofa, ia pun segera duduk di sana.


"Sebentar ya, Tuan Alfa. Biar saya minta Dea untuk membuatkan minuman untuk Anda," ucap Susi.


"Tidak usah repot-repot, Mbak," tolak Alfa yang merasa tidak enak karena tatapan Herman kepadanya masih terlihat dingin.


"Tidak repot, kok. Sebentar, ya!"


Setelah mengucapkan hal itu, Susi pun segera menuju dapur di mana Dea dan Virna masih duduk di sana.

__ADS_1


"Heh, Dea. Calon suamimu sudah tiba. Dia terlihat keren sekali. Julian sih tidak ada apa-apanya dibandingkan lelaki itu," celetuk Susi sambil tersenyum semringah.


"Tapi setidaknya Julian bukanlah lelaki mesum seperti dia," jawab Dea singkat sembari bangkit dari tempat duduknya.


"Ih, kamu ini!" kesal Susi. "Ya sudah, cepat buatkan minuman untuk Tuan Alfa dan Kakakmu. Jangan lupa untukku juga, ya!"


Setelah mengucapkan hal itu, Susi pun kembali melenggang menuju ruang depan kemudian bergabung bersama Alfa dan Herman.


"Satu teh hangat untukku juga, ya, Tante," sambung Virna.


Dea memutarkan bola matanya. "Bikin sendiri, bukankah kamu sudah besar, Virna!"


"Ayolah, Tante. Sekali ini saja, ya," bujuk Virna, tetapi Dea tetap tidak peduli dengan celotehan keponakannya itu.


Virna tersenyum tipis sambil memperhatikan punggung Dea yang berdiri dengan posisi membelakanginya. Tantenya itu tengah asik menuangkan air panas ke dalam gelas-gelas kosong yang sudah tertata di atas nampan.


"Ehm ... kata ibu, Tante akan menikahi pria kaya. Otomatis Tante pun akan ikut menjadi kaya. Kalau kami terus bersikap buruk kepada Tante, nanti Tante malah melupakan kami dan kami tidak bisa minta uang kepada Tante," celetuk Virna sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Dea membuang napas kasar kemudian berbalik dan menatap keponakannya itu. "Virna ... sebenarnya aku sayang sekali sama kamu. Namun, sayangnya sikap dan sifatmu semakin hari, semakin persis seperti ibumu. Yang ada di pikiran kalian hanyalah uang dan uang," ucap Dea dengan wajah sendu.


Virna sontak terdiam. Bibir gadis kecil itu tiba-tiba membeku. Walaupun masih kecil, ia mengerti apa yang dikatakan oleh Dea barusan.


Setelah mengucapkan hal itu, Dea pun bergegas pergi dari ruangan tersebut dengan membawa nampan berisi minuman untuk Alfa, Herman dan Susi.


"Nah, itu Dea!"

__ADS_1


Susi memanggil Dea agar gadis itu datang mendekat. Alfa yang sudah merindukan sosok cantik itu, tersenyum semringah ketika Dea berjongkok di depan meja sembari menata gelas berisi minuman itu.


"Duduklah di sini, Dea," ajak Susi sembari menepuk ruang kosong yang ada di samping tubuhnya.


Sebenarnya Dea ingin menolak. Ia ingin kembali ke dapur dan duduk di sana. Namun, ketika ia menatap Herman, kakak lelakinya itu mengangguk pelan dan setuju dengan permintaan Susi barusan.


Mau tidak mau, Dea pun terpaksa duduk di sana, di samping Susi. Sesekali Alfa mencuri pandang kepada Dea. Sementara gadis itu terus membuang muka dan mencoba menghindari pertemuan antara kedua bola matanya dengan kedua bola mata milik Alfa.


"Hari ini aku sebagai Kakaknya Dea, ingin bertanya soal keseriusanmu terhadap Adikku dan juga bayi dalam kandungannya. Apakah kamu serius ingin bertanggung jawab terhadap Dea?" tanya Herman di tengah-tengah keheningan yang tercipta di ruangan tersebut.


Herman menatap lekat Alfa dan memperhatikan ekspresi wajah lelaki itu. Alfa yang sejak tadi sudah menunggu pertanyaan itu, tentu saja menjawabnya dengan sangat antusias.


"Ya, Mas. Saya sangat serius. Bahkan saya siap menikahi Dea kapan saja," ucap Alfa mantap.


"Benar 'kan kataku, Mas! Tuan Alfa itu serius ingin bertanggung jawab kepada Dea dan bayinya," ucap Susi dengan setengah berbisik di samping telinga Herman.


Tanpa menggubris omongan Susi, Herman pun kembali membuka suaranya. "Bagaimana denganmu, Dea? Apa kamu bersedia menerima lelaki ini?" tanya Herman kemudian.


Alfa menatap lekat Dea sambil tersenyum penuh harap. Dea mengangkat kepalanya dan sempat membalas tatapan Alfa untuk beberapa detik. Setelah itu, ia pun kembali fokus pada Herman yang kini tengah menunggu jawaban darinya.


"Ya, Kak. Aku bersedia."


Jika Alfa dan Susi tampak begitu bahagia dengan jawaban yang keluar dari bibir gadis itu. Berbeda dengan Herman dan Dea sendiri. Mereka tampak pasrah karena tidak ada pilihan lain lagi.


...***...

__ADS_1


__ADS_2