
Julian berdiri di pinggir pantai sambil menangisi nasibnya. Ia menatap pekatnya malam dengan air mata yang terus mengucur di kedua pipinya.
"Ya Tuhan, kenapa kamu berikan cobaan yang seperti ini untuk ke dua kalinya kepadaku? Kenapa?!" teriaknya, mencoba mengeluarkan seluruh kekesalan dan kekecewaannya di tempat itu.
Julian mengacak-acak rambut dengan kasar kemudian menjatuhkan dirinya di antara deburan ombak. Ia kembali terisak dan terus memaki-maki tidak jelas di tempat itu.
Keesokan harinya, di kediaman Susi.
Seperti biasa, hari ini Dea bangun pagi-pagi sekali. Setelah menyelesaikan tugasnya di dapur, Dea pun bergegas membuka jendela karena sinar matahari sudah mulai menampakkan cahayanya.
Ketika membuka gorden kaca di depan rumah dan Dea tersentak kaget ketika kedua netranya melihat seseorang dengan penampilan kusut sedang berdiri di teras rumah.
"Bukan kah itu Julian? Apa yang sebenarnya terjadi padanya dan kenapa dia di sini?" gumam Dea sembari menautkan kedua alisnya heran.
Cukup lama Dea terdiam di depan kaca sambil memperhatikan penampilan Julian yang tampak menyedihkan sambil berpikir keras. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk menghampiri lelaki itu.
Perlahan Dea membuka pintu utama kemudian berjalan beberapa langkah ke luar dan berhenti di jarak yang cukup aman. Julian yang kini menyadari keberadaan Dea di tempat itu, menyunggingkan sebuah senyuman, walaupun wajahnya masih terlihat kusut dan menyedihkan.
"De-Dea ...."
"Kamu kenapa, Mas? Apa ada masalah?" tanya Dea dengan waspada.
Ia tetap mencoba menjaga jarak aman dari Julian. Ia takut lelaki itu mabuk kemudian melakukan hal yang tidak-tidak kepadanya. Julian mencoba maju satu langkah ke depan sementara Dea mundur dua langkah ke belakang.
__ADS_1
"Ja-jangan takut, Dea. Aku tidak akan menyakitimu, percayalah padaku," lirih Julian sambil mengiba.
Walaupun Julian sudah menyakinkan bahwa lelaki itu tidak akan menyakiti dirinya, tetapi tidak semudah itu Dea percaya.
"Jangan mendekat, Mas! Aku bisa saja berteriak dan membangunkan warga sekitar," tegas Dea.
"Percayalah padaku, Dea. Aku tidak punya niatan jahat kepadamu. Aku hanya ingin meminta maaf, itu saja." Julian menangkupkan kedua tangannya di dada dengan wajah memelas menatap Dea.
Kini Dea sudah berada di ambang pintu utama dan siap untuk masuk dan meninggalkan Julian di tempat itu. Namun, belum sempat Dea masuk, Julian nekat berlari kemudian memeluk Dea dengan erat.
"Maafkan aku, Dea! Aku menyesal! Sangat-sangat menyesal!"
Dea tersentak kaget dan tidak bisa menghindar dari Julian yang memeluknya secara tiba-tiba. Dea mengumpulkan seluruh kekuatannya dan mencoba melepaskan diri dari pelukan lelaki itu.
Tubuh Julian yang kotor, penuh pasir dan berbau alkohol tersebut, membuat Dea sangat tidak nyaman. Perut gadis itu kembali bergejolak dan kepalanya tiba-tiba saja pusing.
Mendengar suara keributan di luar, Susi dan Herman pun bergegas bangkit dari tempat tidur mereka. Pasangan itu berlari kecil menuju teras depan rumah kemudian menyaksikan sesuatu yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.
"Heh, lepaskan Adikku!" teriak Herman sembari menghampiri Dea dan Julian.
Herman sudah tidak bisa menahan emosinya ketika melihat Dea yang begitu ketakutan dalam pelukan Julian. Ia mencengkram erat kerah kemeja Julian yang kotor kemudian memukul wajah lelaki itu dengan keras.
Bugkhhh!
__ADS_1
"Akh!" pekik Julian yang akhirnya melerai pelukannya.
Herman menarik tubuh Julian dan membawanya ke halaman depan rumah, di mana posisi Dea aman dari jangkauan lelaki itu.
"Brengs*k kamu, Julian! Apa kamu masih belum cukup puas menyakiti hati Adikku, ha?!"
"Tidak, Mas Herman. Mas salah paham, saya hanya ingin minta maaf sama Dea," lirih Julian sembari menahan tangan Herman yang ingin meluncur ke wajahnya.
Sementara itu, Susi menghampiri Dea yang masih ketakutan kemudian berdiri di sampingnya. Wanita itu tersenyum sinis sambil menatap Julian yang kini tengah mengiba kepada Herman.
"Apa yang terjadi pada lelaki angkuh itu? Dan di mana istrinya, yang begitu ia sanjung-sanjung?" Susi melemparkan pandangannya ke sekeliling tempat itu dan mencari keberadaan Reva atau pun keluarganya yang lain.
"Eh, Dea, Julian bilang apa sama kamu?" tanya Susi kemudian.
"Di-dia bilang menyesal dan ingin minta maaf. Itu saja, Kak," jawab Dea dengan terbata-bata.
Susi kembali tersenyum sinis. "Menyesal? Tapi, kenapa? Bukan kah dia baru saja menikah? Seharusnya tadi malam adalah malam terindah untuk dia dan istri barunya. Benar, 'kan?"
Dea menggeleng pelan. "Aku tidak tahu, Kak."
Tepat di saat itu segerombolan keluarga Julian tiba di sana dengan wajah panik. Sang Ibu yang sombongnya selangit itu segera menghampiri Herman dan Julian, kemudian melerai mereka.
"Julian! Sebenarnya ada apa ini?! Kenapa kamu malah ada di sini dan meninggalkan istrimu sendirian?" pekik Ibunda Julian dengan wajah kesal menatap anak lelakinya itu.
__ADS_1
Kepala Julian tertunduk menghadap tanah dan bibirnya pun masih terkunci rapat. Sementara Reva, ia juga ikut menyusul ke tempat itu dan terisak di pelukan salah satu saudara sepupu Julian.
...***...