Benih Sang Pewaris

Benih Sang Pewaris
Bab 78


__ADS_3

Karena Herman masih enggan menanggapi soal permintaan maaf Alfa, Susi pun berinisiatif sendiri untuk menemui lelaki itu. Tanpa sepengetahuan Herman, Susi bergegas menuju Puskesmas Desa untuk menemui Alfa.


"Semoga lelaki itu masih ada di sana!" gumam Susi sambil melangkahkan kakinya dengan cepat menelusuri jalan menuju Puskesmas Desa.


Setibanya di sana, Susi langsung menyapa seorang perawat yang bertugas di tempat itu. "Sus, apa pasien luka-luka yang dibawa oleh Pak RT tadi masih ada di sini?"


Perawat itu pun menganggukkan kepalanya. "Ya. Dia masih di dalam bersama Mbak Dea."


"Oh, ya. Terima kasih banyak." Susi kembali melangkahkan kakinya dengan cepat menuju ruangan itu. Ruangan di mana Alfa masih terbarinh di atas tempat tidurnya.


Ceklek!


Pintu terbuka dan kehadiran Susi di ruangan itu membuat Dea dan Alfa terkejut.


"Kak Susi?" pekik Dea sembari bangun dari tempat duduknya.


Dea menghampiri Susi yang berdiri di ambang pintu sambil tersenyum semringah ke arahnya. "Ada apa, Kak?" tanya Dea heran.


"Aku ingin berbicara dengan Tuan Alfa. Hanya berdua dengannya, bisa 'kan?" Susi melirik Alfa yang masih terbaring di atas bed pasien dengan wajah penuh luka lebam.


"Apa yang ingin Kakak bicarakan?" Dea mengernyitkan dahi, ia mulai curiga melihat gelagat Susi saat itu.


Susi sedikit kesal. Ia menarik tangan Dea dan membawanya ke salah satu sudut ruangan. "Sudah aku bilang, aku ingin bicara dengan lelaki itu berdua saja. Sekarang keluar lah! Kamu ingin masalah ini cepat selesai atau tidak, ha?" ucap Susi dengan berbisik kepada Dea.


Susi mendorong pelan tubuh Dea hingga ia keluar dari ruangan itu.


"Sebenarnya apa yang ingin Kakak bicarakan kepada Tuan Alfa? Jangan macam-macam, Kak! Kakak sudah pernah membuat diriku jatuh ke dalam sebuah masalah besar dan aku tidak ingin hal itu terjadi lagi," ketus Dea.

__ADS_1


Namun, Susi tidak mempedulikan ucapan Dea saat itu. Setelah berhasil mengeluarkan Dea, Susi pun segera menutup pintu ruangan itu rapat-rapat. Susi tidak ingin percakapannya dengan Alfa terdengar oleh siapa pun, termasuk Dea.


Dea mendengus kesal dan dengan terpaksa ia pun menunggu di luar ruangan.


Sementara itu, di dalam ruangan.


"Apa yang ingin Anda bicarakan, Mbak?" tanya Alfa dengan alis yang saling bertaut.


Susi berjalan menghampiri Alfa kemudian duduk di samping tempat tidur lelaki itu sambil tersenyum hangat.


"Apa kamu serius dengan permintaan maafmu, Tuan Alfa?" tanya Susi sambil menyeringai.


"Tentu saja, Mbak. Aku sangat serius. Aku ingin bertanggung jawab terhadap Dea dan juga bayi yang ada di dalam kandungannya," jawab Alfa dengan mantap.


"Kalau benar begitu, aku bisa membantumu meyakinkan Herman. Herman akan selalu menuruti apa pun yang aku katakan, tapi ... ada syaratnya!" Susi tersenyum licik.


"Apa syaratnya, Mbak?"


"Kamu harus memberikan mahar yang besar untuk Dea. Buat pesta pernikahan yang megah serta meriah, mengalahkan pernikahan termewah yang pernah terjadi di desa ini dan satu lagi! Jangan lupakan imbalan untukku," jawab Susi.


Alfa terdiam sejenak sambil terus menatap wanita itu lekat. Bukan karena ia merasa keberatan atas permintaan wanita itu. Namun, sekarang ia tahu bagaimana sifat Susi yang sebenarnya.


"Ayolah, Tuan Alfa! Katanya kamu orang kaya, masa persyaratan yang seperti itu saja kamu tidak mampu?" celetuk Susi dengan wajah menekuk.


"Baiklah, aku setuju." Alfa pun mengangguk dan menyetujui syarat yang diberikan oleh Susi kepadanya.


"Bagus. Begitu, dong! Ingat ya, Tuan Alfa, pernikahan ini harus benar-benar meriah dan mengalahkan kemeriahan pernikahan Julian yang akan diadakan minggu depan," ucap Susi kemudian.

__ADS_1


"Julian?" Alfa mengernyitkan dahinya.


"Ya, Julian. Mantan suami Dea yang sudah tega menceraikannya di malam pertama mereka. Dan bukan hanya itu, keluarga Julian yang termasuk keluarga terpandang di desa ini, bahkan tega menyebarkan aib Dea hingga seluruh warga desa tahu," tutur Susi sambil mendengus kesal.


Alfa kembali merasa tertampar setelah mendengar penuturan Susi. Dea tidak akan pernah mengalami nasib se'sial itu jika seandainya malam itu Alfa tidak memperkosanya.


"Ini semua salahku," lirih Alfa sambil membuang napas berat.


Susi tersenyum sinis. "Sekarang kamu sadar, 'kan? Akibat perbuatanmu, kami semua mengalami kesialan yang bertubi-tubi. Jadi, untuk memperbaiki kesalahanmu, tidak ada salahnya kamu berkorban banyak sekarang ini."


Alfa mengangguk pelan dan wajahnya terlihat sendu.


"Oh, ya!" Susi mengulurkan tangannya ke hadapan Alfa sambil tersenyum. "Kamu mengerti, 'kan?"


Alfa merogoh saku celana yang ia kenalan kemudian meraih dompet miliknya. Ia mengeluarkan sejumlah uang lalu menyerahkannya kepada Susi.


"Segini cukup?"


Susi menghitung lembaran demi lembaran uang yang diserahkan oleh Alfa kepadanya. Ia pun tersenyum puas sembari memasukkan uang-uang itu ke dalam tasnya.


"Terima kasih, Tuan Alfa. Tapi ini tidak termasuk hitungan, ya. Anggap saja ini adalah bonus untukku," ucap Susi dengan wajah semringah.


Alfa mengibas-ngibaskan tangannya agar Susi segera pergi dari ruangan itu. Susi pun bergegas pergi karena ia sudah mendapatkan keinginannya.


"Terima kasih, Tuan Alfa."


...***...

__ADS_1


__ADS_2