Benih Sang Pewaris

Benih Sang Pewaris
Bab 101


__ADS_3

"Bagaimana? Apa kamu bersedia memaafkan aku?" lirih Ervan dengan penuh harap menatap Dea.


Dea bangkit dari posisinya kemudian melenggang dengan wajah acuh tak acuh. "Kita lihat saja nanti."


Alfa dan Ervan saling tatap sambil membuang napas berat mereka.


"Sabar, Ervan. Dan itu juga berlaku untukku," ucap Alfa sembari menepuk pelan pundak Ervan.


"Ya, aku mengerti," sahut Ervan sambil tersenyum kecut.


"Bersyukurlah karena aku tidak akan memperpanjang masalah kalian ini hingga ke jalur hukum, Tuan-tuan!" celetuk Dea yang ternyata mendengar celotehan kedua lelaki itu.


"Iya-iya, Nyonya. Terima kasih banyak," sahut Alfa sambil tersenyum kecut.


***


Karena kondisi kamar Dea di rumah Susi tidak memungkinkan untuk pasangan itu tidur bersama. Alfa memutuskan untuk membawa Dea pulang bersamanya hari itu juga. Susi tidak terlalu mempermasalahkan hal itu. Hanya Herman yang tampak berat melepaskan Dea.


"Alfa, aku percayakan Dea kepadamu. Aku mohon jaga dia baik-baik." Herman bahkan sampai menitikkan air matanya.


"Aku akan jaga Dea dengan seluruh jiwa ragaku, Mas. Mas tenang saja," sahut Alfa mantap.


Bukan hanya kepada Alfa, Herman juga mengatakan hal yang sama kepada Nyonya Kharisma.


"Nyonya Kharisma, saya titip Adik saya. Saya harap Anda bisa menerima kehadirannya dengan baik," ucap Herman dengan tangan yang menangkup.


"Tentu saja, Herman. Aku berjanji akan menyayangi Dea sebagaimana aku menyayangi anakku sendiri. Dia akan aman bersama kami, percayalah." Nyonya Kharisma mencoba meyakinkan Herman.

__ADS_1


Herman mengangguk pelan. "Ya, Nyonya. Saya percaya."


"Oh ya, Mas. Mobilku yang masih ada di sini, aku berikan untuk Mas. Biar Mas bisa mengunjungi Dea kapan pun Mas mau. Pintu rumah kami selalu terbuka lebar untuk kalian," ucap Alfa sembari menyerahkan surat-menyurat mobil miliknya yang sempat ditahan oleh Susi sebagai jaminan beberapa waktu yang lalu.


Herman menyambut surat- menyurat itu dengan tangan gemetar. Ia tidak pernah membayangkan bisa memiliki sebuah mobil. Jangankan membayangkan benda itu, sempat terlintas pun tidak.


"I-ini untukku, Alfa?" tanya Herman dengan terbata-bata.


"Ya, Mas. Mobil itu untuk Mas." Alfa menepuk pelan pundak Herman.


Susi begitu bersemangat. Ia bergegas menghampiri Herman kemudian meraih surat-menyurat mobil tersebut dari tangan lelaki itu.


"Ya Tuhan! Terima kasih banyak, Tuan Alfa!" pekik Susi.


Tuan Harry dan Nyonya Kharisma tersenyum. Lelaki paruh baya itu menghampiri Herman kemudian menyerahkan sebuah cek.


"Maafkan aku, Herman. Bukan maksudku menyinggung perasaanmu," lanjut lelaki paruh baya itu sambil menepuk pundak Herman.


"Ah, tidak-tidak! Saya tidak tersinggung, Tuan. Malah sebaliknya, saya merasa sangat tidak enak dengan semua pemberian kalian ini. Saya rasa ini sangatlah berlebihan. Dengan kalian bersedia menerima kehadiran Dea saja, itu sudah cukup bagi kami," ucap Herman dengan mata berkaca-kaca.


"Tidak apa, Nak Herman. Terima saja, anggaplah itu sebagai tanda terima kasih kami karena sudah memberikan Alfa kesempatan untuk memperbaiki kesalahan besarnya terhadap keluarga kalian," sambung Nyonya Kharisma.


"Iya, Mas! Terima saja. Dengan uang itu kita bisa memperbaiki rumah ini dan manambah satu ruangan khusus untuk Dea dan Alfa. Apalagi nanti kita akan kedatangan sosok mungil itu, 'kan? Masa rumah kita segini-segini aja, kasihan nanti dia. Sudah rumahnya sempit, pengap pula," celetuk Susi sembari meraih cek tersebut dengan secepat kilat.


"Ya, itu benar," lanjut Tuan Harry.


Herman mengulurkan tangannya kepada Tuan Harry kemudian berterima masih kepada lelaki paruh baya itu dengan setulus hatinya.

__ADS_1


"Terima kasih banyak, Tuan. Terima kasih," ucap Herman.


Setelah berpamitan, Alfa dan Dea bersiap menuju mobilnya. Begitu pula Nadia dan Ervan. Namun, baru saja Dea ingin masuk ke dalam mobil tersebut, Tuan Harry memanggil mereka.


"Hei, kalian pulang naik heli saja, biar cepat! Biar kami yang pulang dengan mobil kalian."


Alfa menoleh ke arah Dea. "Bagaimana, Dea?"


"Terserah saja," jawab Dea.


"Ok, Dad!"


Pasangan pengantin baru itu segera masuk ke dalam mobil yang dikemudikan oleh David. Mereka menuju sebuah tanah lapang, di mana helikopter milik Tuan Harry berada.


Setibanya di sana, Alfa segera menuntun Dea menaiki helikopter tersebut dengan sangat hati-hati. Dea yang sama sekali tidak pernah menaiki benda itu, tentu saja merasa sangat gugup dan takut. Tubuhnya bergetar dan tangannya pun terasa sangat dingin.


"Jangan takut, Dea. Setelah di atas nanti, kamu pasti akan merasa lebih rileks," ucap Alfa mencoba menenangkan Dea.


Dea yang masih ketakutan, tidak bisa berkata apa-apa. Ia terus menggenggam tangan Alfa dengan erat hingga ia berhasil duduk di kursi penumpang.


"Pakai ini, biar kita bisa berkomunikasi," ucap Alfa sembari memasangkan sebuah headset khusus ke kepala Dea. Tidak lupa, ia juga memasangkan sabuk pengaman untuk istrinya itu.


Setelah semuanya siap, pilot pun segera menjalankan helikopter tersebut.


Tanpa disadari oleh Alfa dan Dea, Julian memantau mereka dari kejauhan dengan wajah yang tampak kacau.


"Beruntung sekali kamu, Dea." Julian tertawa lantang dan sesaat kemudian ia menangis histeris sambil berteriak-teriak tidak jelas. Sementara Alfa dan Dea tidak mendengarnya, karena mereka sudah terbang menjauh.

__ADS_1


...***...


__ADS_2