Benih Sang Pewaris

Benih Sang Pewaris
Bab 123


__ADS_3

Hari ini adalah hari yang paling ditunggu-tunggu oleh pasangan Ervan dan Nadia. Pernikahan mereka akan dilaksanakan secara meriah di sebuah hotel ternama di pusat kota.


Dea dan Alfa pun tidak mau ketinggalan di acara tersebut. Kini pasangan itu tampak sibuk di dalam kamar, berdandan dan mempersiapkan penampilan terbaik mereka.


"Ayo, Sayang. Jangan diam saja, pilih salah satu dress yang menurutmu paling bagus dan yang pasti nyaman saat dikenakan," titah Alfa kepada Dea.


Dea masih terdiam di depan tempat tidur sambil memandangi jejeran dress mahal yang dibelikan oleh Alfa untuknya, sementara Alfa sudah beres dan siap berangkat kapan saja.


"Aku bingung, Mas. Semua dress-nya bagus dan bahannya juga nyaman saat dikenakan," ungkap Dea.


"Ya, sudah. Kalau begitu biar aku yang pilihkan untukmu. Bagaimana?" Alfa mencoba menawarkan jasanya.


"Ya, baiklah. Pilih salah satu dan aku akan mengenakannya," jawab Dea yang sudah tampak pasrah.


Tanpa banyak pikir, Alfa meraih salah satu dress itu kemudian menyerahkannya kepada Dea. "Yang ini saja. Aku yakin kamu pasti akan terlihat semakin cantik dengan menggunakan dress ini," ucap Alfa sambil tersenyum hangat.


"Benarkah?" Dea meraih dress tersebut kemudian menentengnya.


"Ya. Coba saja," ucap Alfa lagi.


"Baiklah kalau begitu." Dea pun bergegas mengenakan dress panjang berwarna pastel tersebut dan memperlihatkannya kepada Alfa.


"Bagaimana menurutmu?" Dea melenggak-lenggokkan badannya di hadapan Alfa.


"Perfect! Sebaiknya kita berangkat sekarang, Sayang. Nanti kita terlambat."


"Ok, sebentar lagi." Dea meraih plat shoes dengan warna senada kemudian mengenakannya. Tak lupa, sebuah tas jinjing berukuran mini yang akan melengkapi penampilannya hari ini.


"Sudah selesai?" tanya Alfa kepada Dea yang kini tersenyum kepadanya.

__ADS_1


"Ya." Dea mengangguk pelan.


"Mari!"


Alfa meraih tangan Dea kemudian meletakkannya di sela lengan kekarnya. Ia menuntun istrinya itu dengan sangat hati-hati sekali.


Setibanya di ruang utama, langkah Alfa dan Dea tiba-tiba terhenti karena Nyonya Kharisma memanggil mereka.


"Ada apa, Mom? Apa Mommy dan Daddy tidak ikut hadir ke acara pernikahannya Ervan?" tanya Alfa dengan wajah heran menatap mommy dan daddy-nya yang saat itu hanya mengenakan pakaian biasa.


"Daddy-mu lagi pusing, Alfa. Mungkin tekanan darahnya naik lagi. Tidak mungkin 'kan Mommy pergi ke acara pernikahan Ervan dan meninggalkan Daddy-mu di sini sendirian," sahut Nyonya Kharisma.


"Sudahkah memanggil dokter?"


"Sudah. Kamu tenang saja, Alfa. Kalian berangkatlah. Lagi pula dokternya sudah di perjalanan menuju ke sini," jawab Nyonya Kharisma.


Setelah berpamitan kepada kedua orang tuanya, Alfa dan Dea pun segera melanjutkan langkah mereka menuju halaman depan.


"Mari, Sayang."


Alfa membukakan pintu mobilnya untuk Dea dan membiarkannya masuk terlebih dahulu. Setelah Dea duduk di dalam sana dengan santai, ia pun segera menyusul.


Baru saja mobil yang ditumpangi oleh Alfa dan Dea melewati pagar nan menjulang tinggi tersebut, mereka berpapasan dengan sebuah mobil yang ternyata milik dokter langganan keluarga besarnya.


Alfa membuka sebagian kaca mobilnya kemudian tersenyum kepada dokter itu.


"Bukankah itu dokter yang sering mengobati Daddy?" tanya Dea kepada Alfa.


"Ya. Sekarang aku sedikit lebih tenang karena dokter itu sudah tiba."

__ADS_1


"Ya, kamu benar, Mas."


Selang beberapa saat kemudian. Dea dan Alfa pun tiba di depan hotel, di mana acara pernikahan Ervan dan Nadia di laksanakan. Mereka bergegas menuju ballroom dan beruntung mereka tiba tepat waktu.


Ruangan itu tampak penuh dengan tamu undangan yang berasal dari keluarga, kerabat serta rekan kerja Ervan. Tidak lupa, para tamu undangan yang berasal dari desa kelahiran Nadia.


Ruangan yang didominasi warna gold-silver itu tampak indah dipandang mata siapa pun yang melihatnya. Di beberapa sudut ruangan terdapat spot cantik untuk berselfie ria yang sengaja disediakan untuk para tamu undangan yang ingin mengabadikan momen mereka.


"Wah, pernikahan Nadia meriah sekali ya, Mas." Dea tak hentinya memperhatikan sekeliling tempat itu sambil berdecak kagum.


"Kemarin Mommy dan Daddy menawarkan pernikahan mewah untuk kita. Tapi kenapa kamu tolak? Aku yakin, pernikahan kita pun tidak akan kalah mewah dari pernikahan mereka," jawab Alfa sambil tersenyum menatap Dea yang kini sedang memeluk lengannya dengan erat.


"Aku malu, Mas. Apa kamu tidak lihat perutku sudah membesar saat itu. Lagi pula, pernikahan kita pun sudah sangat mewah. Di desa, belum ada yang pernah mengadakan acara hingga tujuh hari tujuh malam, hanya kita dan kita boleh berbangga soal itu," jawab Dea sambil terkekeh pelan.


"Tidak apa 'kan aku sombong sedikit," lanjut Dea lagi.


Alfa mengelus punggung Dea dengan lembut. "Ya, siapa yang melarang. Asal sombongnya jangan keterusan, tidak baik."


"Sebaiknya kita menghampiri pasangan itu dan memberikan selamat untuk mereka," ajak Alfa sembari menuntun Dea menuju pelaminan. Namun, baru satu langkah, Dea kembali menghentikan langkahnya.


Alfa ikut menghentikan langkahnya dan menoleh kepada Dea yang kini sedang memegang perutnya yang besar. "Kamu kenapa, Sayang?"


Wajah Dea tampak sedikit memucat. "Entahlah, tiba-tiba aku merasakan posisi bayi ini semakin turun," sahut Dea.


"Benarkah? Apakah kamu akan melahirkan sekarang?" Alfa yang tampak panik segera menuntun Dea ke sebuah kursi dan mendudukkannya di sana.


"Entahlah, tapi aku belum merasakan apa-apa, Mas."


...***...

__ADS_1


__ADS_2