Benih Sang Pewaris

Benih Sang Pewaris
Bab 41


__ADS_3

Dea menatap bayangan dirinya di depan cermin milik Nadia dengan seksama. Ada yang berbeda dari gadis itu hari ini. Ia terlihat cantik dengan balutan kemeja ketat berwarna biru elektrik. Di bagian dada sebelah kirinya terdapat sebuah bordiran yang bertuliskan 'Algra Group'. Ya, sekarang Dea resmi menjadi bagian dari perusahaan besar Algra Group.


Suittt! Suittt!


Nadia bersiul sambil memperhatikan penampilan Dea. Ia menghampiri gadis itu kemudian berdiri di sampingnya.


"Wah, kamu terlihat cantik sekali, Dea!"


Dea terkekeh pelan kemudian menatap Nadia dengan lekat. "Terima kasih, Nadia. Seandainya aku tidak bertemu denganmu, aku tidak tahu bagaimana nasibku di kota besar ini," ucap Dea.


"Sama-sama." Nadia tersenyum. "Sebaiknya kita berangkat. Kamu tidak ingin 'kan terlambat di hari pertamamu," lanjut Nadia.


"Ya, kamu benar."


Kedua gadis itu pun segera berangkat menuju perusahaan di mana mereka bekerja.


Sementara itu.


Di Rumah Sakit, di mana Alfa masih dirawat. Lelaki itu bersandar di sandaran tempat tidur sambil menekuk wajahnya.


"Kamu kenapa, Alfa? Kamu baik-baik saja, 'kan?" tanya Nyonya Kharisma sembari duduk di samping tempat tidur Alfa kemudian mengelus lembut tangan anak lelakinya itu.

__ADS_1


"Aku ingin pulang, Mom. Aku sudah lelah di sini! Lagi pula aku sudah sehat dan kini aku baik-baik saja!" protes Alfa.


"Tapi Dokter masih belum mengizinkanmu pulang, Nak. Katanya kamu harus tetap di sini, setidaknya satu minggu lagi. Mereka ingin memastikan bahwa dirimu baik-baik saja," sahut Nyonya Kharisma.


"Apa lagi yang ingin mereka lihat? Aku sudah sehat, Mom. Apa mereka ingin melihat aku berlari untuk membuktikan bahwa aku sudah sehat? Boleh, aku bisa berlari," celetuk Alfa dengan wajah kesal.


Nyonya Kharisma terkekeh pelan. "Baiklah. Nanti Mommy bicarakan masalah ini kepada Daddy-mu. Jika Daddy-mu bersedia mengijinkanmu pulang, maka Dokter pun tidak bisa memaksamu untuk tetap tinggal di sini."


"Sebaiknya cepat, Mom. Aku benar-benar sudah bosan berada di sini."


"Ya, ya! Baiklah," sahut Nyonya Kharisma.


Tepat di saat itu Tuan Harry tiba bersama David, Sang Asisten yang selalu setia menemaninya. Tuan Harry menghampiri Nyonya Kharisma kemudian mengecup puncak kepala istrinya itu.


"Tidak masalah. Tapi ... cobalah lihat wajah putra kesayanganmu," sahut Nyonya Kharisma sambil tertawa pelan melihat wajah tampan Alfa yang menekuk.


Tuan Harry segera menoleh ke arah Alfa. Ia memperhatikan wajah anak lelakinya itu dengan seksama. Pemuda itu tampak kesal dan Tuan Harry tidak tahu apa sebabnya.


"Wajahmu kenapa ditekuk seperti itu, Al? Apakah ada yang salah sama Daddy?" tanya Tuan Harry penasaran.


"Daddy, aku ingin pulang. Aku sudah tidak sanggup berlama-lama di tempat ini. Aku bosan, Dad!" rengek Alfa seperti bayi besar.

__ADS_1


"Oh, jadi soal itu." Tuan Harry berpikir sejenak sambil terus menatap Alfa tanpa berkedip sedikit pun. "Tapi Dokter bilang--"


"Aku tidak peduli Dokter mau bilang apa, Dad! Aku sudah sehat dan sekarang aku baik-baik saja. Jika Daddy tidak percaya, aku bisa buktikan bahwa aku sudah bisa berlari!" jawab Alfa mantap.


Tuan Harry tertawa pelan. "Baiklah kalau itu maumu. Nanti Daddy sendiri yang bilang ke Dokter dan menyampaikan keinginanmu."


Hari itu juga, Tuan Harry segera menyampaikan keinginan Alfa bahwa anak lelakinya itu ingin segera pulang. Awalnya Dokter ragu, tetapi setelah memastikan bahwa Alfa baik-baik saja, Dokter pun memperbolehkannya pulang.


Tak terasa sore pun menjelang.


Setelah membayar seluruh biaya Rumah Sakit, mereka pun bersiap untuk pulang. Sebelum pulang, Alfa sempat menghubungi Cecilia. Ia ingin kekasihnya itu ikut bersamanya.


Benar saja, beberapa menit sebelum mobil yang membawa Alfa meluncur meninggalkan Rumah Sakit tersebut, Cecilia tiba di sana dengan wajah semringah. Cecilia menghampiri Alfa kemudian memberikan ciuman hangat di pipi kanan serta kirinya.


"Maafkan aku, Sayang. Aku terlambat. Hari ini aku ada job dan aku harus menyelesaikan pekerjaanku sebelum ke sini. Kamu tidak marah, 'kan sama aku?" ucap Cecilia dengan manja.


Alfa tersenyum sembari mencubit pipi Cecilia dengan lembut. "Kenapa aku harus marah, Sayang? Apakah selama ini aku pernah marah kepadamu? Tidak 'kan?"


"Pernah. Dan aku bisa pastikan bahwa kamu akan kembali marah padaku jika kamu sudah ingat akan kejadian di malam itu," gumam Cecilia dalam hati.


Cecilia memeluk lengan kekar Alfa kemudian menyandarkan kepalanya. "Tidak. Kamu tidak pernah marah padaku," sahut Cecilia.

__ADS_1


...***...


__ADS_2