
Setelah kepalanya sudah mulai membaik, Alfa segera memilih salah satu mobil kemudian melanjukannya menuju kediaman Cecilia.
Di sepanjang perjalanan, Alfa terus saja kepikiran tentang kecelakaan yang terjadi pada malam itu. Ia benar-benar lupa, apa yang sudah ia dan dua sahabatnya lakukan sebelumnya, hingga ia berani melajukan mobilnya dengan kecepatan di luar batas.
"Sebenarnya apa yang kami lakukan pada saat itu?" gumam Alfa sambil mengacak pelan rambutnya yang sudah tersisir rapih.
Tak terasa, ia pun akhirnya tiba di depan rumah milik Cecilia. Betty yang sejak tadi ditugaskan oleh Cecilia untuk menunggu kedatangan Alfa, bergegas menghampiri lelaki itu.
"Selamat malam, Tuan Alfa. Senang bisa berjumpa lagi dengan Anda," sapa Betty dengan gaya centilnya.
Betty mengulurkan tangannya ke hadapan Alfa, tetapi Alfa enggan menyambutnya. Ia hanya tersenyum sambil menatap jari-jemari lentik betty yang terulur di hadapannya.
"Selamat malam juga, Betty. Ngomong-ngomong di mana Cecilia?"
"Nona Cecilia ada di dalam, Tuan Alfa. Mari, silakan masuk."
Betty mempersilakan Alfa untuk masuk ke dalam rumah megah milik Cecilia. Ia menuntun Alfa hingga menuju ruang utama dan mempersilakan lelaki itu untuk duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut.
"Tunggu sebentar ya, Tuan Alfa. Biar saya panggilkan Nona Cecilia-nya," ucap Betty sembari melangkah pergi dari ruangan itu.
"Baiklah."
__ADS_1
Betty pun bergegas menemui Cecilia yang masih berdandan di dalam kamarnya.
"Non Cecil. Cepat, Non! Tuan Alfa sudah datang dan penampilannya, wow! Bikin hidung saya kembang-kempis. Eh, bukan hidung, tapi hati. Hati saya kembang-kempis!" tutur Betty dengan gaya centilnya yang tidak ketulungan.
"Benarkah? Baiklah, aku akan segera ke sana. Kamu bilang tunggu saja sebentar," sahut Cecilia sambil tersenyum lebar.
"Ok, Non!"
Baru saja Betty ingin beranjak dari kamarnya, Cecilia kembali memanggilnya.
"Eh, sebentar, Bet! Coba lihat aku, aku terlihat cantik 'kan?" tanya Cecilia sembari memperlihatkan penampilannya kepada Betty.
Betty memperhatikan penampilan Cecilia dari ujung kepala hingga ke ujung kaki, kemudian tersenyum puas. "Perfecto, Miss!"
Alfa tampak gelisah, tatapan genit Betty benar-benar membuatnya sangat tidak nyaman. Ya, wanita setengah pria itu terus menatapnya dengan tatapan genit. Bahkan beberapa kali mahluk itu menelan salivanya ketika menatap tubuh kekar Alfa.
"Berhentilah menatapku seperti itu, Betty. Kamu benar-benar membuat aku tidak nyaman," ucap Alfa kemudian dengan wajah serius.
"Oh, maafkan saya, Tuan Alfa. Sebagai wanita, saya tidak bisa menolak untuk menatap keindahan ciptaan Tuhan yang terpampang di depan mata saya," jawab Betty sambil tersenyum nakal.
Alfa mendengus kesal sembari membuang muka. "Wanita, gundulmu!" gerutu Alfa tanpa kedengaran wanita setengah pria tersebut.
__ADS_1
Tidak berselang lama, Cecilia pun tiba di ruangan itu. Cecilia terlihat begitu cantik dan siapapun yang melihatnya, pasti akan terpesona. Begitu pula Alfa, lelaki itu bahkan tidak dapat mengedipkan matanya ketika menatap Cecilia.
"Selamat malam, Sayang! Apa kabar?" Cecilia menghampiri Alfa kemudian memeluk lelaki itu dengan erat.
Alfa pun membalas pelukan wanita itu. "Kabarku tidak baik, Sayang. Setiap hari, setiap detik, setiap menit ku selalu teringat kamu, kamu dan kamu. Dan hal itu benar-benar membuat aku hampir gila," jawab Alfa sambil menatap kedua bola mata Cecilia yang indah.
Mendengar jawaban Alfa, Cecilia pun tertawa pelan. "Ah, kamu bisa saja, Sayang. Oh ya, sebenarnya apa yang ingin kamu bicarakan padaku malam ini? Sepertinya serius sekali. Apaan, sih? Jangan bikin aku penasaran dong, Sayang."
Alfa tersenyum. "Kan, hampir saja aku melupakan tujuanku datang ke sini."
Alfa meraih kotak perhiasan yang ia simpan di saku celananya kemudian memperlihatkannya ke hadapan Cecilia.
"Mau kah kamu menikah denganku, Cecilia?"
Alfa membuka kotak perhiasan berwarna merah tersebut dan tampaklah cincin itu di depan mata kepala Cecilia. Cecilia membulatkan matanya dengan sempurna. Ia seakan tidak percaya dengan apa yang ia lihat di depan matanya saat ini.
"Me-menikah?!" tanya Cecilia balik dengan mata berkaca-kaca.
"Ya."
"Ya, Tuhan! Tentu saja, Alfa! Tentu saja! Aku mau, aku mau menikah denganmu," jawab Cecilia dengan cepat.
__ADS_1
Alfa begitu puas mendengar jawaban dari Cecilia dan ia pun segera memeluk dan mencium puncak kepala wanita itu. "Terima kasih, Cecilia. Aku sangat bahagia mendengar jawaban darimu."
...***...