
Setelah ketiga tamunya pulang, Dea bergegas ke kamarnya sambil berlari kecil. Ia bahkan tidak sadar bahwa ia tengah melewati kakak ipar dan keponakannya yang masih memantau di salah satu ruangan.
Setelah masuk ke dalam kamar, Dea duduk di tepian tempat tidur sambil menatap surat undangan yang diberikan oleh Julian kepadanya. Sakit? Tentu saja. Hati siapapun pasti akan tercabik-cabik saat berada di posisi Dea.
Surat perceraian dan kartu undangan datang secara bersamaan. Dan anehnya, lelaki itu sengaja melakukannya hanya untuk membuatnya sakit hati. Tak terasa air mata Dea kembali merembes. Gadis itu terisak di dalam kamarnya sambil menatap kartu undangan pernikahan mantan suaminya itu.
Ternyata tanpa Dea sadari, Susi mengikutinya. Susi membuka pintu kamar Dea kemudian menatap lekat ke arahnya yang masih terisak.
"Apa yang kamu tangisi, Dea? Pernikahan mereka? Perceraianmu?" Susi menghampiri Dea dan kini berdiri tepat di hadapan gadis itu.
Dea mengangkat kepalanya dan menatap Susi. "Keluar lah, Kak. Biarkan aku sendiri," sahut Dea.
Susi mencebikkan bibirnya dengan kesal. "Memangnya dengan menangis semua masalahmu akan selesai begitu?" ejek Susi yang tampak senang melihat kesedihan yang dirasakan oleh Dea saat itu.
Dea bangkit dari posisinya kemudian menghampiri pintu kamarnya. "Sekarang pergilah, Kak. Kumohon, biarkan aku sendiri," pinta Dea, masih dengan lembut. Bagaimana kesalnya ia terhadap wanita itu, ia tetap menghormatinya karena selama ini Susi sudah bersedia merawatnya sejak ia masih kanak-kanak.
"Eh, kamu sudah berani mengusir aku ya, sekarang! Apa kamu sudah lupa di mana kamu tinggal selama ini?" kesal Susi dengan mata melotot menatap Dea.
__ADS_1
"Iya, Kak. Aku tahu. Dan aku tidak bermaksud mengusir Kakak. Aku hanya ingin sendiri saat ini. Aku butuh waktu untuk menenangkan pikiranku," sahut Dea, mencoba membuat wanita itu mengerti dengan keadaannya saat itu.
Baru saja Dea mengucapkan hal itu, tiba-tiba saja perutnya bergejolak. Ya, dia memang merasakan ada yang tidak beres dengan perutnya beberapa hari ini. Namun, ia tidak menyangka bahwa ternyata kondisi perutnya semakin memburuk.
Hoeek! Dea ingin muntah saat itu. Namun, beruntung ia masih bisa menahannya. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan kemudian berlari menuju kamar mandi yang memang terletak di samping kamarnya.
Susi mengkerutkan alisnya. Tiba-tiba terlintas di kepalanya sesuatu yang selama ini terus saja menghantui pikirannya. Susi mengikuti Dea hingga ke kamar mandi dan terus memperhatikan gerak-gerik gadis itu tanpa berkedip sedikit pun.
Dea berjongkok tepat di depan toilet duduk dan memuntahkan isi perutnya di sana. "Hoeekk! Hoeekkk ...!"
Dea terus menguras isi perutnya hingga gadis itu kewalahan dan hampir kehabisan tenaganya. Ia tampak lemah dan kini wajahnya pun ikut memucat. Setelah perutnya agak mendingan, Dea menyandarkan tubuhnya di dinding ruangan dengan mata tertutup. Gadis itu masih merasakan sensasi yang tidak biasa dari perutnya tersebut.
Dea membuka matanya untuk beberapa detik dan melihat ke arah Susi kemudian kembali menutup matanya. Kedua tangannya masih memeluk perutnya yang masih bergejolak tersebut dengan erat.
"Entahlah, Kak. Tapi beberapa hari ini aku memang merasa ada yang tidak beres pada perutku. Sepertinya maag-ku kambuh, atau hanya masuk angin saja," jawab Dea.
"Masuk angin?" gumam Susi yang merasa ragu dengan penjelasan gadis itu. "Apa bulan ini kamu sudah mendapat tamu bulanan?" tanya Susi kemudian.
__ADS_1
Dea kembali membuka matanya. "Mens maksud Kakak?"
"Ya, apa lagi?!" ketua Susi.
Dea terdiam sejenak sambil mengingat-ngingat apakah bulan ini ia sudah mendapatkan tamu bulanannya. "Sepertinya bulan kemarin aku telat, Kak. Dan sampai sekarang aku belum juga mens. Memangnya kenapa, Kak?" tanya Dea yang masih belum mengerti dengan maksud Susi melemparkan pertanyaan itu padanya.
Susi membulatkan matanya dengan sempurna. Jantungnya tiba-tiba berdetak dengan sangat cepat setelah mendengar jawaban dari adik iparnya tersebut, bahkan lututnya pun ikut melemas.
"Ya, Tuhan! Apa lagi ini," gumam Susi dengan wajah panik.
Tepat di saat itu Herman datang. Lelaki itu baru saja datang dari melaut. Tubuhnya tampak dekil dan wajahnya pun tampak lesu karena kelelahan. Walaupun begitu, Herman masih bisa menyunggingkan sebuah senyuman hangat untuk Susi yang masih berdiri di depan pintu kamar mandi.
"Kenapa kamu berdiri di sana, Sayang?" Herman menghampiri Susi kemudian berdiri di samping istrinya itu.
Kini mata Herman tertuju pada Dea yang masih tersandar di dinding kamar mandi dengan wajah memucat. Gadis itu tampak meringis sambil memeluk perutnya.
"Dea!" pekik Herman dengan wajah panik. "Kamu kenapa, Dea?"
__ADS_1
Susi menatap Herman dengan begitu serius. "Kami butuh test pack!" ucap Susi kepada suaminya itu.
...***...