Benih Sang Pewaris

Benih Sang Pewaris
Bab 36


__ADS_3

"Alfa kehilangan memori beberapa bulan sebelum kecelakaan itu terjadi. Ia bahkan tidak ingat dengan kecelakaan yang sudah menimpanya saat ini." Nyonya Kharisma menatap wajah Cecilia lekat. Tampak jelas kesedihan mendalam di raut wajah wanita paruh baya itu.


Sekarang Cecilia mengerti kenapa Alfa bersikap aneh. Dalam ingatan Alfa mereka belum putus dan masih berhubungan. Bahkan saat itu Alfa berencana melamar Cecilia untuk menjadi istrinya.


"Mommy tidak tahu apa yang terjadi pada hubungan kalian beberapa bulan terakhir karena Alfa tidak pernah bercerita. Tapi, untuk saat ini Mommy minta padamu jika Alfa masih menganggapmu sebagai kekasihnya, maka jadilah seperti itu hingga ingatannya kembali pulih seperti sedia kala," sambung Nyonya Kharisma.


Tentu saja Cecilia setuju karena itu memang keinginannya. Ia memang ingin kembali ke sisi lelaki itu dan ini merupakan kesempatan emas untuknya. Tidak mungkin Cecilia menyia-nyiakan kesempatan itu. Bahkan ia berharap ingatan Alfa tidak akan pernah kembali agar ia dan lelaki itu bisa tetap bersama.


"Tentu saja, Mom. Aku sangat senang. Aku akan menjadi kekasihnya sama seperti dulu," jawab Cecilia.


Nyonya Kharisma dan Tuan Harry pun tersenyum lega. Kini pasangan paruh baya itu mengajak Cecilia untuk menemui Alfa di ruangannya.


Alfa sangat senang karena ia begitu merindukan sosok cantik itu. "Cecilia! Kemarilah," ucap Alfa dengan wajah semringah sambil mengulurkan tangannya ke hadapan Cecilia.


"Aku merindukanmu, Alfa." Cecilia menyambut uluran tangan Alfa dengan mata berkaca-kaca.


"Ya, aku juga."


Tiba-tiba Alfa menautkan kedua alisnya dan mencoba mengingat di mana ia meletakkan cincin berlian yang dulu ingin ia berikan kepada Cecilia. Padahal cincin itu sudah Alfa lemparkan ke tengah laut di desa Muara Asri, tepat setelah Alfa melihat perselingkuhan yang dilakukan oleh Cecilia bersama Mateo.


"Apa kalian tahu di mana aku menyimpan cincin berlian yang aku beli untuk Cecilia?" tanya Alfa kepada Mommy dan Daddy-nya.

__ADS_1


Kedua orang tuanya menggelengkan kepala. Mereka bahkan tidak tahu menahu soal cincin itu. "Jika cincin itu hilang, kita bisa membelinya lagi, Nak. Yang penting sekarang, kamu fokus pada kesehatanmu dulu. Biar kita bisa pulang," sahut Nyonya Kharisma sambil tersenyum kecut.


Alfa pun mengangguk pelan.


Sementara itu di Desa Nelayan Muara Asri.


"Aku harus kemana?" Dea yang sudah berada di jalan besar, bingung harus kemana. Desa Muara Asri adalah desa kelahirannya dan ia sama sekali belum pernah keluar dari desa itu sekali pun.


Tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah mobil pick up yang melaju ke arahnya. Dea mencoba melambaikan tangannya dan berharap pengemudi mobil tersebut bersedia membawanya pergi dari kampung tersebut.


Pemilik mobil itu menepi dan menghentikan mobilnya tepat di samping tubuh Dea. "Mau kemana, Neng?" Seorang lelaki paruh baya melongakkan kepalanya dari kaca mobil.


"Oh, boleh-boleh, Neng. Silakan masuk."


"Terima kasih, Pak."


Beruntung pemilik mobil tersebut baik hati dan mengijinkan Dea menumpang di mobilnya. Perlahan Dea masuk dan duduk tepat di samping bapak itu.


"Ngapain ke kota, Neng? Ada keluarga di sana?"


Dea menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak ada, Pak. Saya hanya mencoba-coba nyari peruntungan. Siapa tahu dapat kerjaan di sana," lirih Dea dengan kepala tertunduk.

__ADS_1


"Oh, begitu. Tapi jika sudah berada di kota nanti, Bapak sarankan agar jangan terlalu percaya sama orang yang baru kamu temui. Karena tidak semua orang di sana bersifat baik. Mereka bisa saja hanya memanfaatkanmu," sahut Bapak itu.


Dea mengangguk. "Ya, Pak. Terima kasih. Saya pasti akan lebih berhati-hati."


Beberapa jam kemudian.


"Neng, kita sudah sampai." Bapak itu Menggoyang-goyangkan pundak Dea yang tertidur pulas.


Dea mengerjapkan matanya dan melihat ke sekeliling. "Ini sudah di kota ya, Pak?"


"Ya. Dan maaf, Bapak hanya bisa mengantarkanmu sampai sini," jawab lelaki itu.


Dea pun tersenyum kemudian bersiap keluar dari mobil bapak tersebut. "Terima kasih banyak ya, Pak."


"Sama-sama, Nak."


Dea pun segera keluar dan melangkah gontai menelusuri jalan di kota besar tersebut. Sementara bapak pemilik mobil pick up itu terus menatap Dea dengan tatapan sedih.


"Kasihan, gadis polos seperti dia pasti banyak yang ingin memanfaatkan. Semoga saja Tuhan selalu bersamanya," gumam lelaki itu.


...***...

__ADS_1


__ADS_2