Benih Sang Pewaris

Benih Sang Pewaris
Bab 53


__ADS_3

Setelah melepaskan pelukannya bersama Cecilia, Alfa pun segera memasangkan cincin itu ke jari manis Cecilia. Sedikit longgar, tetapi Cecilia sama sekali tidak protes. Malah sebaliknya, ia begitu senang karena ia tahu berapa harga cincin tersebut.


"Apa kamu menyukai cincin ini, Cecilia?"


"Tentu saja, Sayang. Aku sangat menyukainya dan aku ucapkan terima kasih banyak karena sudah memberikan cincin secantik ini untukku," sahut Cecilia sambil memperlihatkan cincin cantik yang kini menghiasi jari manisnya.


"Apapun untukmu, Cecilia. Cincin yang cantik ini memang cocok dipasangkan di jari manis wanita cantik seperti dirimu." Alfa meraih tangan Cecilia kemudian menciumnya.


Cecilia kembali bergairah. Melihat penampilan Alfa yang nyaris sempurna saat itu, membuat hasratnya kembali bangkit. Ya, Cecilia bisa disebut sebagai wanita yang hyper. Hasratnya bisa bangkit kapan saja, di mana saja, dan dengan siapa saja yang menurutnya tampan dan menggairahkan, termasuk Mateo.


Ya, karena tidak bisa menahan diri saat melihat tubuh macho Mateo Louis, lelaki yang menjadi pelatih pribadinya di tempat gym, membuat Cecilia dan lelaki itu terlibat dalam skandal panas yang mengikat keduanya.


Cecilia menggigit bibir bawahnya sambil menatap Alfa dengan tatapan nakalnya. Ia menarik tangan lelaki itu pelan dan menuntun lelaki itu menuju kamarnya. Kamar yang sudah ia persiapkan untuk menyambut malam panasnya bersama Alfa.


Sebagai seorang lelaki normal, Alfa pun tidak bisa menolak. Ia mengikuti wanita itu selangkah demi selangkah menuju ruangan tersebut sambil menatap tajam ke arah Cecilia.


"Kamu menginginkannya, Cecilia?"

__ADS_1


Cecilia mengangguk pelan sambil mengerling nakal. "Yah, puaskan aku malam ini ya, Sayang. Dan jangan kecewakan aku seperti kemarin."


"Ya, tentu saja."


Alfa tersenyum dan ia yakin malam ini akan menjadi malam yang indah untuknya dan Cecilia. Setibanya di kamar tersebut, Cecilia segera mengunci pintu kamarnya. Setelah memastikan pintunya telah terkunci sempurna, Cecilia pun kembali menuntun Alfa ke atas tempat tidurnya.


Ia mendorong tubuh Alfa hingga terjengkang di atas tempat tidur nan mewah itu. Posisi Alfa yang seolah tidak berdaya membuat hasrat Cecilia semakin tidak terkendali. Dengan gesitnya, wanita itu melepaskan satu persatu kancing kemeja milik Alfa kemudian melepaskannya.


"Sebentar! Hampir saja aku lupa," ucap Cecilia sembari beranjak dari tempat tidur tersebut. Ia menghampiri nakas kemudian mengambil dua buah minuman yang sudah ia persiapkan sebelumnya. Untuknya dan juga untuk Alfa.


"Minumlah, Sayang. Aku ingin malam ini benar-benar menjadi malam terindah untuk kita berdua hingga kita sulit untuk melupakannya." Cecilia menyodorkan segelas minuman itu ke hadapan Alfa.


"Minuman yang akan membuat kita bermain sampai pagi. Mengerti 'kan apa maksudku?" Lagi-lagi Cecilia mengerling nakal kepada Alfa.


Alfa pun menganggukkan kepalanya. Ia mengerti apa maksud Cecilia saat itu. "Baiklah, aku mengerti."


Mereka pun meminum minuman itu sampai habis. Setelah Cecilia berhasil menghabiskan minuman miliknya, ia pun bergegas menuju kamar ganti pakaian. Sementara Alfa menunggu dengan sabar di atas tempat tidur Cecilia.

__ADS_1


"Tunggu sebentar, Sayang. Aku ingin memberikanmu sedikit kejutan," ucap Cecilia sebelum beranjak.


"Baiklah, tapi jangan lama-lama. Jangan buat aku kepanasan di sini," jawab Alfa, seolah enggan ditinggalkan oleh Cecilia.


"Aku berjanji tidak akan lama."


Di dalam ruang ganti.


Cecilia mengganti dress seksinya dengan setelan lingerie. Lingerie berwarna merah transparan, yang memperlihatkan dengan jelas seluruh area pribadinya. Tidak lupa, Cecilia pun membawa berbagai alat-alat yang dapat membuat permainan panasnya bersama Alfa semakin panas dan menggairahkan.


Sementara itu di dalam kamar. Minuman yang masuk ke dalam perut Alfa mulai bereaksi. Tubuhnya terasa sangat panas dan juniornya pun bangkit tanpa diberi rangs*ng*n terlebih dahulu.


Alfa segera melepaskan celananya karena si junior yang berukuran jumbo tersebut terjepit di dalam sana. Setelah celananya terlepas, kini yang tersisa hanya celana boxernya saja. Itu pun tidak mampu menampung si anaconda sepenuhnya. Bagian kepalanya menyembul keluar dan terus bergerak-gerak.


Tidak berselang lama, Cecilia keluar dari ruang ganti. Ia melangkah pelan sambil memainkan tali lingerie-nya sambil terus tersenyum nakal menatap Alfa yang sudah kepanasan.


"Ce-Cecilia ... kamu cantik sekali," ucap Alfa dengan terbata-bata. Tampak Alfa beberapa kali menelan salivanya, melihat penampilan Cecilia yang begitu seksi.

__ADS_1


"Tentu saja," jawab Cecilia yang terus melangkah maju dan kini ia pun berdiri tepat di hadapan Alfa yang terbengong-bengong dan tak berkedip sedikit pun melihat area pribadi Cecilia yang terpampang jelas di matanya.


...***...


__ADS_2