Benih Sang Pewaris

Benih Sang Pewaris
Bab 97


__ADS_3

Hari pernikahan


Di kediaman Susi terlihat sangat ramai dengan para tamu undangan yang sudah berdatangan sejak pagi-pagi sekali. Mereka begitu antusias menikmati acar pernikahan Dea dan Alfa yang sengaja diselenggarakan secara besar-besaran.


Sama seperti keinginan Susi kepada Alfa, ia ingin pergelaran pesta pernikahan yang sangat meriah. Mengalahkan kemeriahan pesta pernikahan Julian dan Reva sebelumnya.


Benar saja, keinginan Susi pun dituruti oleh Alfa. Bahkan Pergelaran acara pernikahan tersebut berlangsung hingga 7 hari 7 malam dengan berbagai acara yang akan meramaikan desa tersebut.


Selain itu, berbagai menu hidangan akan terus tersedia hingga 7 hari mendatang dan cukup untuk dinikmati seluruh warga desa Muara Asri.


Akhirnya Susi bisa mengangkat kepalanya dan berbangga. Sebab ia bisa membuktikan kepada semua orang di desa itu bahwa apa yang ia koar-koarkan selama ini menjadi kenyataan dan bukan hanya omong kosong belaka.


Susi yang sudah tampil cantik dengan setelan kebaya mahalnya, berdiri di samping pelaminan bersama Herman. Ia memperhatikan seluruh tamu undangan dan mencari sosok-sosok yang selama ini terus mengusik kehidupannya.


Siapa lagi kalau bukan keluarga Julian yang sekarang bungkam dan tak berani menampakkan batang hidungnya di pernikahan termegah di desa Muara Asri tersebut.


Herman yang sejak tadi memperhatikan perilaku aneh Susi, akhirnya penasaran kemudian bertanya kepada wanita itu.


"Kamu cari apa sih, Sus? Sejak tadi kuperhatikan terus celingak-celinguk seperti itu," tanya Herman dengan alis yang saling bertaut.


"Aku mencari sosok keluarga Julian, siapa tahu salah satu dari mereka datang ke pesta pernikahan ini." Susi masih saja celingak-celinguk, memperhatikan sekeliling tempat itu.


"Halah, tidak mungkin mereka bersedia hadir di pesta ini. Mereka pasti malu, Sus. Bagaimana tidak, selama ini mereka selalu merendahkan kita," sahut Herman.

__ADS_1


Susi tertawa pelan. "Iya sih, tapi kalau salah satu saja dari mereka berhadir di sini, aku 'kan bisa bikin mereka skakmat karena selalu merendahkan kita."


"Ah, sudah lah, Susi. Jangan cari masalah lagi. Biarkan Tuhan yang membalas semua perbuatan mereka," sahut Herman.


Susi tersenyum miring sambil memasang wajah malas.


Tepat di saat itu Alfa tiba di sana dengan tampilan yang sangat memukau. Lelaki itu mengenakan setelan tuxedo berwarna silver dengan kombinasi hitam, selaras dengan warna dekorasi yang menghiasi segenap penjuru.


Herman tersenyum. Ia bergegas menyambut kedatangan Alfa kemudian menuntunnya hingga menuju pelaminan megah yang berdiri di salah satu sudut tempat itu.


Jika Alfa sudah selesai dirias, Dea masih berada di dalam kamarnya. Tinggal sedikit lagi, maka Dea pun siap melenggang menuju singgasananya bersama Alfa.


"Kamu cantik sekali, Non. Pantas saja Tuan Alfa tergila-gila kepada Anda," celetuk Pria bertulang lunak yang bertugas menjadi MUA-nya hari ini.


Ia tampak puas dengan hasil kerjanya. Lelaki bertulang lunak itu tak henti-hentinya memandang wajah cantik Dea yang tampak seperti boneka barbie.


"Oh ya, Tuhan! Ini pertama kalinya aku benar-benar merasa puas dengan hasil karyaku!" celetuknya sembari meraih tangan Dea.


"Mari, Nona. Saya antar hingga ke pelaminan," ucapnya sambil tersenyum hangat menatap Dea. Dea pun mengangguk pelan kemudian mengikuti langkah MUA tersebut hingga naik ke atas singgasananya.


Kehadiran Dea di tempat itu, membuat seluruh mata terfokus kepadanya. Bahkan para tamu undangan yang tengah sibuk dengan hidangannya, ikut terpelongo melihat kecantikan Dea saat itu.


Namun, ada satu orang yang begitu terpesona melihat kecantikan Dea. Sampai-sampai kakinya saja bergetar tanpa bisa ia kontrol. Siapa lagi kalau bukan Alfa.

__ADS_1


Herman bergegas menghampiri Dea lalu menuntun gadis itu hingga ke singgasana megahnya. Alfa tersenyum menyambut kedatangan Dea sembari mengulurkan tangannya ke hadapan calon istrinya itu.


Dea sempat terdiam untuk beberapa detik sebelum ia menyambut tangan Alfa yang terasa begitu dingin.


"Maafkan aku. Aku sangat gugup, Dea," ucap Alfa sembari membantu Dea untuk duduk di singgasana mereka.


Dea masih diam dan enggan menanggapi ucapan Alfa saat itu. Namun, setelah beberapa detik berikutnya, Dea tiba-tiba berucap dengan raut wajah sendu.


"Aku merindukan Nadia," lirihnya.


Alfa sontak menoleh kepada Dea. "Nadia? Siapa dia?"


"Sahabatku," jawab Dea dengan kepala tertunduk.


"Kenapa kamu tidak bilang padaku! Aku bisa meminta seseorang untuk menjemputnya, Dea. Ngomong-ngomong, kenapa kamu tidak menghubunginya? Apa dia tidak punya ponsel," tanya Alfa dengan wajah heran.


Dea mengangkat kepalanya kemudian menatap Alfa dengan wajah cemberut.


"Apa kamu sudah lupa, Tuan Muda Alfa? Kamu menculikku kemudian membawa aku kembali ke sini tanpa membawa apa pun. Bahkan barang-barangku masih berada di kontrakan milik Nadia, termasuk ponselku. Jadi, bagaimana caranya aku bisa menghubunginya, sementara aku tidak ingat nomor ponsel gadis itu," jawab Dea.


Alfa tersenyum kecut sambil mengelus tengkuknya. "Kenapa tidak bilang padaku. Aku 'kan bisa membantumu."


...***...

__ADS_1


__ADS_2