
"Apa itu benar, Dea? Apa yang dikatakan oleh lelaki ini benar?" tanya Herman dengan tubuh bergetar. Ia menatap lekat Dea yang masih terdiam dan tidak berani menjawab pertanyaannya.
"Dea! Jawab pertanyaanku!" Herman mulai berteriak. Ia juga mengguncang-guncang tubuh Dea dengan kasar.
Perlahan Dea menganggukan kepala. "Ya, Kak."
"Kurang ajar!" Napas Herman memburu. Tangannya mengepal sempurna dan rahangnya pun ikut menegas.
Alfa mengangkat kepalanya. Ia menatap wajah Herman yang memerah dan mempersiapkan diri untuk menahan serangan yang pasti akan dilancarkan oleh lelaki itu.
Benar saja, sepersekian detik berikutnya sebuah kepalan tangan Herman mendarat di wajah tampan Alfa.
Bugkh!
Seketika hidung dan sudut bibir Alfa mengeluarkan darah segar. Namun, lelaki itu tetap pada tempatnya dan menunggu serangan-serangan lain yang pasti akan meluncur ke wajah dan tubuhnya.
Dea panik sekaligus ketakutan. Ini pertama kalinya ia melihat Herman semarah itu. Ia mencoba menghentikan aksi Herman, tetapi kakak lelakinya itu tidak menggubris dan mencoba melakukan penyerangan untuk yang ke-dua kalinya.
"Sudah, Kak! Jangan lakukan itu, kumohon," lirih Dea.
Herman menepis tangan Dea dengan kasar kemudian berteriak kepada Alfa. Ia kembali melancarkan pukulan demi pukulan ke tubuh dan wajah Alfa.
__ADS_1
"Dasar lelaki bejat!"
Alfa tetap diam dengan kepala tertunduk, bahkan hingga ia jatuh tersungkur di halaman depan rumah Susi dengan kondisi wajah penuh lebam serta tubuh yang diinjak-injak oleh Herman.
Sementara Herman terus mengamuk, Dea mencoba menenangkan kakak lelakinya itu, Susi hanya diam sambil memperhatikan pertarungan itu dengan santainya.
Hingga akhirnya beberapa warga datang dan menghampiri Herman.
"Ada apa ini, Herman?"
"Lelaki ini! Lelaki bajingan ini sudah menghancurkan hidup Adikku hingga ia hamil!" kesal Herman yang sudah tidak bisa menahan rasa kesalnya.
Tatapan para warga kini tertuju pada perut Dea dan ya, mereka melihat perut Dea yang dulunya rata sekarang terlihat lebih menonjol. Mereka pun ikut tersulut emosi dan akhirnya ikut menyerang Alfa di tempat itu.
Walaupun sejujurnya ia sangat membenci perbuatan Alfa, tetapi melihat lelaki itu dikeroyok habis-habisan membuat naluri Dea sebagai sesama manusia pun tergerak. Bukan hanya itu, Dea pun takut terjadi apa-apa kepada Herman, jika suatu saat keluarga Tuan Harrison Alexander Graham menuntut kakaknya itu.
Perlahan Dea menghampiri Susi dan memohon untuk membantunya menenangkan Herman dan juga meleraikan para warga yang masih mengeroyok Alfa.
"Kak Susi. Kumohon bantu aku melerai mereka, terutama Kak Herman. Kasihan Tuan Alfa, Kak."
Susi mendelik sebal. "Kasihan katamu! Memangnya lelaki itu juga merasakan hal yang sama saat mengerjaimu pada malam itu, ha? Tidak, 'kan?!"
__ADS_1
Dea kembali memelas. "Memang benar, Kak. Tapi apa Kakak mau Kak Herman dipenjara gara-gara menjadi dalang atas pengeroyokan terhadap Tuan Alfa? Kakak tidak tahu siapa lelaki itu. Dia orang kaya dan mereka bisa melakukan apa saja dengan uang yang mereka miliki. Aku yang menjadi korban pun bisa saja dijadikan tersangka hanya karena uang! Apa lagi Kak Herman," jelas Dea, mencoba meyakinkan Susi.
Susi terdiam sejenak dan ia mulai mencerna penjelasan Dea barusan. Setelah beberapa detik berikutnya, ia pun bergegas menghampiri Herman dan menarik tubuh lelaki itu dari kerumunan warga.
"Sudah, Mas! Sudah, cukup!"
"Tidak bisa, Susi! Lelaki ini harus diberi pelajaran kalau tidak, dia tidak akan pernah jera!" kesal Herman yang masih ingin menyerang Alfa, tetapi ditahan oleh Susi.
"Kak, dengarkan aku! Tuan Alfa ke sini karena dia ingin mempertanggung jawabkan semua yang sudah ia lakukan kepadaku! Jika Kakak tetap bersikeras menghukumnya seperti ini, Bisa-bisa ia mati dan akhirnya Kakak menjadi tersangka. Kumohon, Kak! Hentikan," lirih Dea sembari menangkupkan kedua tangannya di dada.
Herman menatap lekat kedua bola mata Dea yang tampak berkaca-kaca. Sekarang hati Herman pun mulai terbuka dan akhirnya ia kembali berteriak.
"Hentikan, Pak! Hentikan."
Mendengar teriakkan Herman para warga pun menghentikan aksi mereka. Sementara Alfa sudah berada di antara sadar dan tidak. Tubuhnya lemah tak berdaya. Bahkan untuk membuka matanya saja, ia tidak mampu. Kedua matanya membengkak. Begitu pula bibir dan pipi lelaki itu.
Herman meminta warga untuk membubarkan diri dan membiarkan Alfa tergeletak di halaman tersebut. Sementara Herman sendiri memilih masuk ke dalam rumahnya bersama Susi.
Dea menghampiri Alfa dan mencoba membantunya bangkit dari tempat itu.
"Tuan Alfa, sini! Biar aku bantu," ucap Dea sembari meraih tangan Alfa dan mencoba membantu lelaki itu.
__ADS_1
Alfa menyunggingkan senyuman kepada Dea setelah tahu bahwa ternyata gadis itu masih peduli dengannya. Antara kesal dan kasihan, Dea menatap wajah Alfa yang terlihat aneh dengan senyuman yang terus mengembang di sana.
...***...