Benih Sang Pewaris

Benih Sang Pewaris
Bab 126


__ADS_3

"Kamu dengar itu, Sayang?"


Nyonya Kharisma menepuk pelan pundak sang suami. Saat itu mereka baru saja tiba di Rumah Sakit tersebut dan kedatangan mereka ternyata sudah disambut oleh tangisan pertama bayi lelaki Alfa dan Dea.


"Ya, aku dengar. Itu cucu kita! Oh ya, Tuhan! Terima kasih banyak," sahut Tuan Harry dengan mata berkaca-kaca.


Nyonya Kharisma dan Tuan Harry pun bergegas menghampiri ruang bersalin dan tepat pada saat itu seorang perawat baru saja keluar dari ruangan tersebut. Mereka segera menghampiri sang perawat kemudian menanyakan bagaimana kondisi menantu serta cucu mereka.


"Itu cucu saya 'kan, Sus? Bagaimana kondisinya? Dia baik-baik saja, 'kan?" tanya Nyonya Kharisma dengan wajah cemas menatap sang perawat.


"Ya, Nyonya. Proses kelahirannya berjalan lancar. Baik Nona Dea maupun bayi laki-lakinya sehat dan selamat tanpa kurang apa pun," jawab Suster.


"Oh, syukurlah! Terima kasih, Tuhan."


"Oh ya, Sus. Boleh kami masuk?" tanya Tuan Harry yang sudah tidak sabaran ingin menjenguk menantu dan cucunya.


Perawat itu tersenyum sambil menggeleng pelan. "Untuk saat ini, sebaiknya Tuan dan Nyonya menunggu di luar saja. Setelah Nona Dea dan bayinya sudah siap, nanti kami akan beritahu Anda."


"Oh, baiklah kalau begitu."


Setelah perawat itu pergi, Nyonya Kharisma yang tidak bisa menahan rasa bahagianya segera memeluk Tuan Harry sambil menitikkan air matanya.


"Hari ini aku bahagia sekali, Sayang."


"Ya, aku juga," jawab Tuan Harry sembari membalas pelukan sang istri.


Beberapa menit kemudian.


Ceklek! Pintu terbuka.

__ADS_1


"Tuan dan Nyonya, silakan masuk," ucap seorang perawat kepada Tuan dan Nyonya Kharisma yang masih sabar menunggu di luar ruangan.


"Ayo, Sayang! Aku sudah tidak sabar lagi melihat wajah tampan cucuku," ucap Nyonya Kharisma sembari melangkah dengan cepat memasuki ruangan itu.


Baru saja Nyonya Kharisma menginjakkan kakinya di ruangan itu, Alfa sudah menyambutnya bersama si bayi mungil yang kini ada di pelukannya.


"Hello, Grandma! Lihatlah, Devano sudah lahir!" ucap Alfa sembari menyerahkan bayi mungilnya kepada Nyonya Kharisma.


"Ya, Tuhan ... Cucuku!" Nyonya Kharisma menyambut bayi mungil itu dengan tangan gemetar. Ia menciumi kedua pipi Devano yang masih kemerahan tersebut sambil menangis haru.


"Lihatlah, Grandpa! Cucumu tampan sekali, bahkan melebihi Daddy-nya yang badung ini."


"Ya, ampun. Kamu benar, Sayang. Dia sangat tampan," sahut Tuan Harry yang tidak kalah bahagianya.


Alfa menekuk wajahnya. "Kalian benar-benar tega! Jika tahu begini, lebih baik aku sembunyikan dulu si Devano," kesal Alfa.


"Ish! Mana boleh begitu. Lagi pula Mommy itu bicara apa adanya. Ya 'kan, Sayang?" Nyonya Kharisma melirik Tuan Harry.


Ia duduk di sana menggantikan posisi Alfa sebelumnya. Sementara Alfa malah asik berbincang bersama Tuan Harry. Membicarakan si mungil Devano Alexander Graham.


"Terima kasih banyak ya, Nak. Mommy dan Daddy bahagia sekali. Pokoknya kebahagiaan kami hari ini tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata," ucap Nyonya Kharisma sambil mengelus puncak kepala Dea.


"Sama-sama, Mom. Aku pun tidak mungkin sekuat ini tanpa adanya dukungan dari kalian berdua yang begitu tulus menyayangiku," sahut Dea.


Nyonya Kharisma kembali menitikkan air mata haru. "Mommy sayang kamu, Dea. Bahkan melebihi rasa sayangku kepada Alfa."


"Mom! Aku dengar itu!" Tiba-tiba Alfa menyahut sambil melirik ke arah sang mommy dengan wajah masam.


"Bukan begitu maksud Mommy. Kami menyayangi Dea sama seperti kami menyayangimu, begitu."

__ADS_1


"Hehhh, aku dengar barusan tidak seperti itu," ucap Alfa.


Pletak!


Sebuah sentilan kecil mendarat di kening Alfa.


"Sudah! Jangan petakilan lagi, Alfa. Ingat! Sekarang kamu sudah menjadi seorang Ayah yang harus menjadi tauladan untuk anakmu kelak," ucap Tuan Harry mencoba mengingatkan anak lelakinya itu.


"Nah, dengar itu!" sambung Nyonya Kharisma.


"Iya-iya. Akan kuingat itu."


***


Menjelang malam.


Ruangan Dea semakin ramai dengan hadirnya Ervan dan Nadia serta Herman dan keluarga kecilnya.


Mereka berkumpul di sana untuk menjenguk Dea dan bayi mungilnya. Secara bergantian mereka menjenguk Devano yang sedang tertidur nyenyak di dalam keranjang bayi yang ada di samping tempat tidur Dea.


Nadia tersenyum menatap Ervan kemudian mengelus perutnya. "Semoga kita secepatnya menyusul mereka ya, Mas. Aku sudah tidak sabar ingin memiliki bayi mungil seperti Devano."


"Ya. Aku juga," jawab Ervan sambil merengkuh pundak istrinya itu.


Bukan hanya keluarga Tuan Harry, Herman pun tidak kalah bahagianya. Ia bahagia melihat keponakannya lahir dengan selamat dan sempurna. Ia dan keluarga kecilnya bahkan rela datang jauh-jauh dari desa, demi bisa melihat wajah tampan keponakannya.


"Selamat ya, Dek. Kakak turut bahagia," ucap Herman kepada Dea.


"Terima kasih banyak, Kak."

__ADS_1


...***...


__ADS_2