
Keesokan harinya.
"Itu Alfa sudah datang, tapi ingat! Jangan buru-buru bahas soal pernikahannya, ok?" ucap Tuan Harry kepada Nyonya Kharisma yang sudah tidak sabar ingin menemui anak lelakinya itu.
Nyonya Kharisma mengangguk. "Ya, baiklah."
Setelah memarkirkan mobilnya, Alfa pun bergegas masuk. Wajahnya terlihat lebih cerah dari hari sebelumnya. Rencana pernikahannya yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat, membuat lelaki itu sungguh bersemangat.
"Kamu sudah pulang, Nak?" sapa Nyonya Kharisma sembari menyambut dan menghampiri Alfa yang baru saja menginjakkan kakinya di rumah mereka.
"Ya, Mom." Alfa memeluk kemudian mencium kedua belah pipi Nyonya Kharisma.
"Oh ya, Mom, aku ke kamar dulu ya, mau mandi. Sudah gerah soalnya," ucap Alfa sembari melerai pelukannya bersama sang mommy.
Alfa kembali melenggang dan meninggalkan Nyonya Kharisma yang masih berdiri di ruangan itu dengan raut wajah yang tampak kecewa.
Tuan Harry tersenyum tipis kemudian menghampiri istrinya itu. "Sabar, mungkin dia masih lelah," ucap Tuan Harry.
"Baiklah. Aku akan mencoba menemuinya di kamar."
Belum sempat Tuan Harry membalas ucapannya, Nyonya Kharisma sudah melenggang pergi menuju kamar Alfa. Ketika ia tiba di kamar tersebut, ternyata pintunya tidak terkunci. Nyonya Kharisma bergegas masuk kemudian mencari keberadaan Alfa yang tak terlihat batang hidungnya di ruangan itu.
"Alfa sayang, kamu di mana?" panggilnya.
Alfa yang sedang asik membersihkan dirinya di kamar mandi terkejut mendengar panggilan dari sang mommy.
__ADS_1
"Mommy? Tumben," gumamnya dengan wajah heran.
"Ya, Mom. Aku di sini!" sahut Alfa dengan berteriak.
"Oh, ya sudah. Biar aku tunggu di sini saja." Nyonya Kharisma duduk di tepian ranjang Alfa sambil memperhatikan sekeliling ruangan kamar tersebut.
Tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah koper yang dibawa oleh Alfa sewaktu pergi ke desa Muara Asri untuk menemui Herman sekeluarga. Koper itu masih belum tersentuh dan masih tergeletak di samping nakas.
Nyonya Kharisma yang penasaran kemudian meraih koper milik Alfa tersebut. "Maafkan Mommy, Alfa. Mommy tidak bisa menahan rasa penasaran Mommy," gumam Nyonya Kharisma.
Perlahan ia membuka koper milik Alfa tersebut kemudian memeriksa isinya. Wanita paruh baya itu hanya menemukan beberapa setel pakaian serta barang-barang keperluan milik Alfa dan tak ada yang lain. Hingga akhirnya ia menemukan sebuah berkas yang tersimpan rapi di bawah lipatan kemeja terakhir.
"Berkas apa ini?" gumam Nyonya Kharisma sembari memperhatikan berkas-berkas tersebut.
Nyonya Kharisma tersenyum dengan mata berkaca-kaca. Ia menemukan beberapa lembar fotokopi KTP milik Dea yang terselip di antara beberapa berkas lainnya.
Ketika Nyonya Kharisma masih asik memperhatikan berkas-berkas itu, tiba-tiba terdengar suara Alfa yang tengah mematikan shower. Nyonya Kharisma bergegas merapikan berkas-berkas itu kemudian mengembalikannya ke tempat semula.
Setelah meletakkan kembali koper milik Alfa, wanita paruh baya itu duduk di tepian ranjang dengan wajah yang sangat tenang. Seolah tidak terjadi apa pun di dalam ruangan itu.
Ceklek! Pintu kamar mandi terbuka.
Alfa yang sudah terlihat lebih segar, tersenyum kepada Nyonya Kharisma kemudian duduk di samping wanita itu sambil mengeringkan rambutnya dengan menggunakan handuk kecil.
"Ada apa, Mom?" tanya Alfa.
__ADS_1
"Ehmm, Alfa. Katakan dengan jujur sama Mommy. Sebenarnya kamu itu dari mana dan untuk apa?" tanya Nyonya Kharisma dengan tatapan lekat menatap Alfa yang masih tersenyum kepadanya.
"Kan aku sudah bilang, Mom. Aku mengunjungi salah satu teman lamaku dan ini masih soal bisnis," sahut Alfa, mencoba meyakinkan sang mommy.
Nyonya Kharisma membuang napas berat. "Benar, hanya itu?" tanya wanita itu penuh selidik.
"Ya, Mom. Hanya itu! Memangnya kenapa? Mommy tidak percaya dengan kata-kataku, ya?"
Alfa bangkit dari posisinya kemudian meraih baju kaos serta celana santai untuk ia kenakan. Sementara Alfa masuk ke dalam ruang ganti, Nyonya Kharisma masih duduk di tepian tempat tidur Alfa dengan wajah yang cemberut.
Ia kesal karena anak lelakinya itu tidak ingin berkata jujur soal rencana pernikahannya itu. "Ish, anak itu! Memang apa alasan dia menyembunyikan pernikahan ini dari kami sebagai orang tuanya? Apa dia takut kalau kami tidak merestui pernikahan mereka?"
Tidak berselang lama, Alfa pun keluar dari ruang ganti dan kini ia sudah terlihat keren dengan setelan santainya. Lelaki itu berdiri di depan cermin sembari merapikan rambutnya yang tampak berantakan.
"Alfa!" panggil Nyonya Kharisma lagi.
"Yes, Mom."
"Kamu kapan menikah?"
"Hah?!" pekik Alfa dengan wajah heran.
"Ya, menikah! Kapan kamu akan menikah dan memberikan Mommy cucu?" lanjut Nyonya Kharisma dengan wajah kesal menatap Alfa yang sok tidak mengerti dengan apa yang ia maksudkan.
"Ya ampun, Mommy." Alfa tersenyum kecut sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
__ADS_1
...***...