
"Dasar bodoh! Masa dengan hanya memegang punggungnya saja hasratku bisa bangkit seperti ini? Dasar memalukan!" gumam Alfa dalam hati.
Sembari memijat punggung Dea dengan lembut, Alfa terus berperang dengan hasratnya yang bergejolak. Seandainya saja saat itu Dea adalah kekasihnya, mungkin punggung itu akan penuh dengan tanda kepemilikan darinya.
"Sudah, cukup. Punggungku sudah mulai terasa hangat," ucap Dea sembari menurunkan kemejanya yang sempat terangkat.
Alfa pun tersenyum kemudian menyerahkan kembali minyak kayu putih tersebut kepada Dea. "Syukur lah kalau begitu. Jadi ... bisakah kita melanjutkan perjalanan kita ke desa Muara Asri?"
Dea mengangguk seraya meraih botol minyak kayu putih tersebut dari tangan Alfa. "Terserah padamu. Tapi, jangan paksa aku untuk duduk di depan kalau tidak ingin mobilmu kotor dengan air liurku," sahut Dea.
Alfa terkekeh pelan. "Baiklah. Aku tidak akan memaksamu."
Alfa segera keluar dari mobil kemudian masuk lagi lewat pintu depan dan duduk di kursi depan kemudi. "Baiklah, Nona Alexander Graham, saatnya kita berangkat!"
"Siapa yang kamu sebut dengan Nona Alexander Graham?" protes Dea dengan wajah menekuk.
"Kamu lah, siapa lagi?" jawab Alfa sambil terkekeh.
"Ish, jangan pernah sebut aku dengan panggilan seperti itu lagi! Mengerti?" kesal Dea.
"Iya, baiklah." Alfa kembali terkekeh. Semakin Dea menampakkan wajah marahnya, semakin cantik saja gadis itu di mata Alfa. Sesekali ia melirik gadis itu dari kaca spion dan seolah candu, ia tidak bosan-bosan melihat wajah Dea.
__ADS_1
Di sepanjang perjalanan, Dea terus saja menciumi minyak kayu putih yang kini ada di genggamannya. Tatapan gadis itu tertuju ke arah samping dan ia sama sekali tidak peduli dengan Alfa yang terus mencuri pandang.
Hingga akhirnya Dea pun merasakan rasa kantuk yang amat sangat. Sudah beberapa kali ia kehilangan kesadarannya. Namun, dengan sekuat tenaga ia mencoba menahannya agar tidak tidur. Ia masih belum percaya kepada Alfa. Ia takut lelaki itu kembali melakukan hal yang tidak senonoh kepadanya.
Dan ... Dea pun akhirnya tertidur. Ia sudah tidak kuat menahan rasa kantuk yang saat itu menyerangnya.
Sementara itu.
Di kediaman Susi dan Herman.
Keluarga kecil Herman tengah menikmati makan siang mereka di atas meja makan sederhana yang terbuat dari kayu tersebut. Baik Virna maupun Susi, tampak begitu antusias menikmati santapan mereka.
Susi memperhatikan sikap Herman lalu menghembuskan napas kesal. "Kamu kenapa lagi, sih, Mas? Keinget sama Dea lagi, iya? Lihatlah dirimu! Setelah Dea pergi dari rumah ini, tubuhmu semakin kurus saja!"
Huft! Terdengar hembusan napas berat dari mulut Herman. Ia meletakkan kembali sendok dan garpu yang sejak tadi ia pegang ke tempatnya semula.
"Aku merindukan Dea, Sus. Biar bagaimana pun Dea adalah adik perempuanku satu-satunya. Sebelum Ibu meninggal, aku sudah berjanji pada beliau bahwa aku akan selalu menemani Dea, hingga ia menikah dan punya suami yang dapat membimbingnya dengan baik," ucap Herman sembari mengusap wajahnya kasar.
Susi memutarkan bola matanya. Tampak jelas bahwa saat itu ia benar-benar jenuh membahas soal Dea. Gadis yang menurut Susi selalu membawa kesialan untuk dirinya dan juga keluarga kecilnya.
"Dia itu sudah besar, Mas! Dia pasti bisa menjaga dirinya sendiri. Lagi pula dia 'kan sudah pernah menikah, itu artinya kamu sudah menepati janji kepada mendiang Ibumu."
__ADS_1
"Memangnya Tante Dea pergi kemana sih, Bu?" sela Virna sambil menguyah makanannya.
"Ke kota. Sudah, jangan ikut ngomong! Sebaiknya kamu makan saja yang banyak, biar cepat besar!" ucap Susi sambil mengacak puncak kepala Virna.
Kembali kepada Dea dan Alfa yang ternyata sudah tiba di desa itu.
"Dea! Dea, kita sudah sampai. Sekarang tunjukan, di mana rumahmu?" ucap Alfa sembari menggoyang-goyangkan tubuh Dea dengan sangat lembut.
Dea tersentak kaget dan refleks menyilangkan tangannya ke dada. Matanya melotot menatap Alfa dan menjauh beberapa centi dari posisinya semula.
"Apa yang kamu lakukan? Kamu berbuat tidak senonoh lagi ya, sama aku?!" pekik Dea yang mulai ketakutan.
Alfa menggeleng dengan cepat. "Tidak, Dea. Percayalah padaku, aku tidak melakukan apa-apa padamu. Aku hanya ingin memberitahu bahwa kita sudah sampai. Sekarang katakan padaku, di mana rumahmu?"
Dea memperhatikan sekelilingnya dan ternyata apa yang dikatakan oleh Alfa benar. Mereka sudah tiba di desa kelahirannya. Dea tersenyum lebar dan ia benar-benar bahagia karena bisa menginjak desa itu.
"Sedikit lagi, kira-kira 100 meter lagi dari sini."
"Ok, baiklah kalau begitu."
...***...
__ADS_1