Benih Sang Pewaris

Benih Sang Pewaris
Bab 105


__ADS_3

Dea mengerjapkan matanya sambil melihat sekeliling ruangan nan megah itu. Hingga netranya terhenti pada sebuah jam mewah yang menggantung di salah satu dinding kamar.


"Ya ampun! Aku terlambat," pekik Dea.


Dea menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya kemudian bergegas keluar dari tempat tidur mewah itu.


"Wah, gawat!" gumamnya lagi dengan langkah tergesa-gesa menuju kamar mandi.


Alfa yang tadinya tengah tertidur pulas di atas sofa, kini menggeliatkan tubuhnya. Kedua bola mata lelaki itu langsung tertuju pada sosok manis yang tengah berjalan dengan tergesa-gesa menuju kamar mandi.


"Kamu mau ke mana, Dea?" tanya Alfa yang kini dalam posisi duduk. Ia memperhatikan Dea sambil sesekali mengucek mata karena pandangan lelaki itu masih kabur.


"Eh!" Dea menghentikan langkahnya kemudian berbalik menatap Alfa.


"Ke kamar mandi." Dea terdiam sesaat sambil memperhatikan Alfa dengan seksama.


"Besok malam, biar aku saja yang tidur di sofa. Kamu bisa tidur di tempat tidurmu ini," sambung Dea sambil menunjuk ke arah tempat tidur mewah itu.


"Tidak apa-apa, Dea. Kamu tidak usah sungkan. Lagi pula aku memang sudah terbiasa tidur di sofa. Aku bahkan lebih sering tertidur di sini daripada di tempat tidur," tutur Alfa.


"Tidak! Pokoknya besok malam aku yang tidur di sofa. Aku tidak ingin tidur di tempat tidurmu itu lagi sebab terlalu berbahaya!" tegas Dea.


Alis Alfa berkerut. "Berbahaya, maksudnya?"

__ADS_1


"Seumur hidupku, aku tidak pernah bangun terlambat dan ini pertama kalinya aku bangun kesiangan. Jika kak Susi tahu, dia pasti akan menghukumku!" jelas Dea dengan mata membulat.


Alfa tersenyum kecut kemudian mengelus lembut pundak Dea. "Kamu sudah tidak tinggal bersama Mbak Susi lagi, Dea. Di rumah ini kamu bisa menjadi dirimu sendiri tanpa harus terikat pada aturan kakak iparmu. Sekarang kembalilah tidur, ini masih terlalu pagi untuk beraktivitas."


Dea terdiam sejenak. Ia baru sadar bahwa saat itu dirinya sudah tidak tinggal bersama kakak dan kakak iparnya lagi.


"Yuk!" Alfa menuntun Dea yang masih terdiam ke tempat tidurnya lagi.


"Tidurlah lagi." Setelah Dea kembali berbaring, ia mengelus lembut puncak kepala gadis itu sebentar, kemudian melenggang pergi.


Alfa kembali ke sofa kemudian mencoba memejamkan matanya yang memang masih terasa berat dan dalam hitungan menit, ia pun kembali terlelap dalam tidurnya. Dea berbaring miring dan tatapan gadis itu tertuju pada Alfa. Entah kenapa tiba-tiba terbesit rasa iba di hatinya terhadap lelaki itu.


"Ya Tuhan, kasihan Tuan Alfa. Apa aku sudah keterlaluan, ya? Biar bagaimanapun sekarang ini dia sudah sah menjadi suamiku," gumam Dea dalam hati.


Dea masih terdiam sambil terus memperhatikan wajah Alfa yang tampak begitu tenang. Hingga akhirnya ia pun memutuskan untuk menghampiri sofa, di mana Alfa tengah tertidur nyenyak di tempat itu.


Tubuh besar itu kembali menggeliat. Ia merenggangkan otot-otot tangan dan kakinya dengan mata yang masih terpejam. "Ya, Mom! Apa lagi," gumam Alfa antara sadar dan tidak.


"Aku bukan Mommy. Ini aku, Dea."


Samar-samar Alfa mendengar nama Dea disebutkan dan hal itu membuat ia sadar, bahwa saat ini ia berada di satu kamar bersama gadis itu.


"De-Dea! Maafkan aku," jawab Alfa sambil mengumpulkan nyawanya kembali.

__ADS_1


"Sebaiknya kamu tidur di tempat tidur saja. Biar aku di sini," bujuk Dea.


Alfa menggelengkan kepalanya sambil tersenyum menatap Dea dengan mata beratnya. "Tidak apa. Biar aku di sini saja. Kamu tidurlah lagi," jawab Alfa.


Dea terdiam untuk beberapa saat. "Begini saja, Alfa. Kita tidur bersama-sama di tempat tidur, tapi ehm ... itu ...." Dea menghentikan ucapannya sambil meremass-remass kedua tangannya secara bergantian.


Mata Alfa yang tadinya terasa begitu berat, tiba-tiba menjadi terang benderang. Rasa ngantuknya tiba-tiba sirna entah ke mana.


"Benarkah? Aku boleh tidur di atas tempat tidur bersamamu?" tanya Alfa dengan wajah berbinar.


"Tapi untuk yang satu itu ... aku masih belum siap, Alfa."


Alfa mengangguk dengan cepat sambil tersenyum lebar. "Ya, tidak masalah. Aku akan ikat celanaku dengan erat. Kalau perlu aku kasih gembok, agar aku tidak khilaf."


Dea menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Aduh! Semoga keputusanku tidak salah," gumamnya pelan.


Alfa yang begitu bahagia, segera meraih tangan Dea kemudian mengajaknya ke tempat tidur dengan penuh semangat. Bak mendapat durian runtuh, seperti itulah kebahagiaan yang Alfa rasakan pada saat ini.


"Mari kita tidur." Alfa menjatuhkan dirinya di samping Dea yang sudah berada di atas kasur empuk tersebut.


Dea mengangguk pelan kemudian meletakkan sebuah guling di antara mereka. "I-ini batas kita. Aku berjanji tidak akan melewati batasku," ucap Dea sambil menepuk pelan guling itu.


Alfa kembali tersenyum sambil mengedipkan matanya. "Ok! Aku juga."

__ADS_1


...***...


💕💕💕 Hari ini kalo sempat Author Up 3 bab seperti biasanya. Tapi kalo enggak, mungkin hanya 2 bab aja. Soalnya Author mau santai dulu 🤭🤭🤭 Menikmati hari minggu ...


__ADS_2