Benih Sang Pewaris

Benih Sang Pewaris
Bab 115


__ADS_3

Malam pun menjelang.


"Bagaimana cara mengatakannya ya, agar Dea tidak tersinggung dengan ucapanku?" gumam Alfa sambil menatap bayangannya di cermin. Sebab saat itu ia baru saja selesai mandi dan baru selesai mengenakan setelan piyamanya.


"Dea, bolehkah malam ini aku menyentuhmu?" Alfa terdiam sejenak setelah mengucapkan hal itu. Ia merasa penuturannya kali itu terlalu blak-blakan. Ia takut Dea malah ketakutan dan menghindar darinya.


"Ah, tidak-tidak! Itu terlalu to the point. Aku takut Dea syok setelah mendengarnya," gumam Alfa lagi.


Di saat Alfa masih asik memikirkan rangkaian kata yang tepat untuk Dea, tiba-tiba gadis itu muncul dari balik pintu kamar mandi. Ia menatap Alfa kemudian tersenyum kecil.


Alfa memperhatikan Dea dengan seksama, dari ujung kepala hingga ke ujung kaki. Tak ada yang terlewat sedikit pun, termasuk perutnya yang menonjol di balik handuk yang melilit di tubuh gadis itu.


"Ada apa, Mas?" tanya Dea dengan wajah heran.


"Ehm, tidak apa-apa. Hanya saja kamu terlihat sangat cantik malam ini," ucapnya pelan, tetapi terdengar dengan jelas di telinga Dea.


Dea tersenyum tipis kemudian berjalan menghampiri meja rias. Ia berdiri di sana sambil menatap bayangannya di cermin. Alfa datang menghampiri lalu berdiri tepat di belakang istrinya itu. Ia membelai kedua belah tangan Dea sambil sesekali mengecup dan menciumi tengkuknya.


"Mas." Dea bergidik dan seketika bulu-bulu halus di tubuhnya ikut berdiri karena sentuhan lembut Alfa di area tengkuknya.


"Dea, bolehkah aku minta sesuatu darimu?" Alfa menatap bayangan Dea dari balik cermin sambil tersenyum getir.

__ADS_1


"Apa itu, Mas?"


"Jika kamu tidak ingin melakukanya, katakan saja tidak. Aku tidak akan memaksa," lanjut Alfa.


Dea pun mengangguk. "Baiklah."


"Bolehkah aku menyentuhmu malam ini? Eh, tapi aku tidak memaksa loh, Dea. Jika kamu tidak bersedia melakukannya, tidak apa-apa. Kita bisa melakukannya nanti jika kamu sudah siap," ucap Alfa dengan gugup.


Dea terdiam untuk sesaat. Tampak jelas di raut wajahnya saat itu, bahwa ia tengah berpikir dengan keras.


"Akhirnya Mas Alfa mempertanyakan hal itu. Aku harus bagaimana sekarang? Jika aku menolak, maka aku akan berdosa." gumam Dea dalam hati.


Setelah menimbang-nimbang akhirnya Dea pun mengambil keputusan.


Dea mengangguk pelan walaupun sebenarnya ia masih ragu akan jawabannya tersebut. "Baiklah, Mas. Aku bersedia. Lagi pula, tidak ada alasan untukku menolak keinginannya Mas. Apa lagi Mas Alfa adalah suamiku," ucap Dea pelan dengan kepala tertunduk malu.


Alfa membulatkan matanya dengan sempurna setelah mendengar penuturan dari Dea barusan. "Serius?!"


Dea mengangguk pelan sambil tersenyum menatap Alfa yang masih tidak percaya dengan kata-katanya. "Ya, aku serius, Mas."


"Yuhuuu!" Saking bahagianya Alfa bahkan sampai melompat-lompat kegirangan.

__ADS_1


"Ya, ampun, Mas! Jangan berteriak-teriak, nanti kedengaran mommy dan daddy," pekik Dea dengan wajah cemas menatap Alfa yang masih kegirangan. Seolah baru mendapatkan duren runtuh.


"Tidak apa, Sayang! Kamar ini kedap suara. Walaupun aku berteriak sekeras mungkin, mommy dan daddy tidak akan pernah mendengarnya," ucap Alfa sembari memeluk tubuh Dea dengan erat.


Alfa mengangkat tubuh Dea yang masih terlilit handuk kemudian membawanya ke atas tempat tidur.


"Aku berjanji akan melakukannya dengan lembut," ucap Alfa sembari meletakkan tubuh Dea ke atas tempat tidur dengan perlahan.


Setelan piyama yang baru saja Alfa kenakan, kini ia lepas kembali. Ia melemparkan setelan piyama tersebut ke samping tempat tidur. Jika Alfa begitu bersemangat ingin mengetes kejantanannya bersama sang istri, berbeda dengan Dea. Gadis itu tampak gugup dan dengan sekuat tenaga ia mencoba menyingkirkan kenangan-kenangan buruk pada malam naas itu dari kepalanya.


Perlahan Alfa meraih handuk yang masih menempel di tubuh Dea kemudian menariknya dengan lembut. Sedikit demi sedikit hingga akhirnya tubuh putih mulus itu terpampang jelas di depan mata kepalanya.


Seketika junior-nya pun bangkit. Benda itu mengeras dan menegang hingga membuat kain tipis yang masih menutupinya terlihat menggelembung.


Alfa begitu senang. Bahkan tanpa di sentuh, benda keramatnya itu sudah 'on' terlebih dahulu.


"Baiklah, Junior. Tunggu sebentar, biar aku lepaskan celanaku ini biar kamu bisa bergerak dengan bebas," gumam Alfa pelan sembari menurunkan celana tipis tersebut dari bokongnya.


Setelah berhasil melepaskan celana boxernya, Alfa pun kembali berbisik pada benda keramatnya itu sambil mengelus-elusnya dengan lembut.


"Ayo, Junior! Buktikan bahwa kamu masih jantan dan jangan permalukan aku. Ok?!" gumam Alfa.

__ADS_1


...***...


__ADS_2