
"Aku benar-benar tidak mengerti apa yang dimaksud oleh gadis itu. Menghancurkan hidupnya, pernikahannya dan dia juga menyebutkan bayi dalam kandungannya. Apakah saat ini Dea tengah hamil?" gumam Alfa yang sedang menunggu di luar ruangan ketika Dea masih ditangani oleh para tim medis.
"Ervan adalah kunci utama dan aku harus segera menemuinya," lanjut Alfa sembari mengintip ke dalam ruangan Dea. Di mana gadis itu masih belum sadarkan diri.
Selang beberapa saat kemudian.
Seorang Dokter yang menangani gadis itu, keluar dan menghampiri Alfa sambil tersenyum hangat.
"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya Alfa kepada Dokter yang kini datang ke arahnya.
"Istri Anda baik-baik saja, Tuan. Dia hanya shok, tapi ... kalau bisa kejadian ini jangan sampai terulang lagi. Hal ini bisa membahayakan janin dalam kandungannya," tutur Dokter.
Alfa terdiam sejenak. "Ternyata benar, gadis itu tengah mengandung. Lalu siapa Ayah dari bayi itu? Ya, Tuhan! Aku bahkan lupa mengecek status perkawinan Dea," gumam Alfa dalam hati.
"Baik, Tuan. Saya permisi dulu. Masih ada pasien yang harus saya tangani. Jika Anda butuh sesuatu, jangan sungkan untuk memanggil saya," ucap Dokter tersebut sambil tersenyum sebelum pergi meninggalkan Alfa di ruangan itu.
"Baik, Dok. Terima kasih."
Setelah Dokter pergi, Alfa segera masuk ke dalam ruangan Dea. Ternyata masih ada seorang perawat yang berjaga di ruangan itu. Ia tersenyum menyambut kedatangan Alfa dan mempersilakannya untuk menghampiri tempat tidur gadis itu.
__ADS_1
"Sus, boleh aku minta sesuatu?" tanya Alfa kepada Suster tersebut.
"Ya, Tuan. Tentu saja," sahut Perawat itu.
"Bisakah kamu menjaga Dea selama aku pergi? Usahakan agar ia tetap berada di sini hingga aku kembali. Aku ingin menemui temanku sebentar dan aku berjanji tidak akan lama," ucap Alfa.
"Tentu saja, Tuan."
Alfa menghampiri tempat tidur Dea kemudian menyentuh pipi gadis itu dengan lembut. "Aku akan mencari kebenarannya, Dea. Dan jika benar apa yang kamu katakan, aku berjanji akan mempertanggung jawabkan seluruh perbuatanku kepadamu," ucapnya sebelum ia pergi meninggalkan Dea di tempat itu.
Alfa segera beranjak dari Rumah Sakit tersebut dan menuju kediaman Ervan, masih menggunakan mobil milik David yang ia pinjam sejak tadi pagi. Setibanya di kediaman sahabatnya itu, ia segera memarkirkan mobil tersebut di samping mobil milik Ervan.
"Ada Ervan?" tanya Alfa kepada salah satu penjaga keamanan yang berjaga di depan rumah sahabatnya itu.
"Baiklah."
Alfa mengikuti lelaki itu dari belakang menuju ruang depan, di mana Ervan tengah bersantai di sana.
"Apa yang kamu tempel di depan gerbang barusan?" tanya Alfa kepada lelaki itu. Ya, saat memasuki halaman, Alfa melihat lelaki itu tengah menempelkan selebaran di depan pintu gerbang milik Ervan.
__ADS_1
"Oh, itu. Lowongan pekerjaan, Tuan. Tuan Ervan membutuhkan seseorang untuk membantunya melakukan aktifitasnya sehari-hari."
"Lagi?!" pekik Alfa dengan alis yang saling bertaut.
Lelaki itu terkekeh pelan. "Ya, lagi."
Alfa bingung, entah sudah berapa banyak yang bekerja bersama Ervan, tetapi akhirnya selalu berakhir dengan pemecatan. Entah pelayan yang seperti apa yang diinginkan oleh Ervan, hanya Ervan yang tahu.
Kini Alfa tiba di ruangan itu, di mana Ervan tengah bersantai di sana dengan ditemani secangkir kopi. Ervan tersenyum hangat menyambut kedatangan Alfa dan segera meminta sahabatnya itu untuk duduk bersamanya di ruangan itu. Sementara penjaga keamanan yang mengantarkan Alfa, kembali ke tempatnya.
"Duduk lah, Alfa."
"Terima kasih. Oh ya, Ervan. Aku to the point saja dan aku harap kamu bersedia menjelaskannya kepadaku tanpa ada yang harus ditutup-tutupi."
"Apa maksudmu, Alfa?" Ervan bingung.
"Aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada malam itu. Kenapa kita bisa kecelakaan dan apa yang terjadi sebelum kecelakaan itu menimpa kita," sambung Alfa.
Ervan menatap lekat kedua bola mata Alfa kemudian mengembuskan napas panjang. "Jadi kamu benar-benar lupa soal kejadian itu, Alfa?"
__ADS_1
"Ya. Dan aku butuh penjelasan yang masuk akal soal itu!"
...***...