
Selama Dea dan Susi berada di kamar mandi untuk melakukan test kehamilan tersebut, Herman memilih menunggu di depan pintu ruangan dengan harap-harap cemas.
"Semoga itu tidak terjadi. Semoga Dea tidak hamil." Kata-kata itu terus meluncur dari bibir Herman.
Sementara itu di dalam kamar mandi.
"Bagaimana hasilnya, Kak?" tanya Dea dengan wajah memucat menatap Susi yang masih memegang benda kecil tersebut.
Susi tidak menjawab, ia masih memperhatikan benda kecil itu dengan seksama. Perlahan, tapi pasti. Garis merah yang tampak di alat test kehamilan tersebut kini bertambah jumlahnya. Yang tadinya hanya ada satu garis merah, tiba-tiba menjadi dua.
"Ya, Tuhan!" pekik Susi sambil menutup mulutnya dengan tangan.
"Bagaimana hasilnya, Kak? Kumohon, katakan padaku! Jangan buat aku penasaran," tanya Dea sekali lagi karena kakak iparnya itu tiba-tiba saja keluar dari kamar mandi tanpa menjawab pertanyaannya.
Susi bergegas menghampiri Herman dan menyerahkan alat test kehamilan tersebut kepada suaminya itu.
"Coba kamu lihat ini, Mas! Sekarang kita harus bagaimana?!" pekik Susi sambil mengacak rambutnya dengan kasar.
__ADS_1
Herman memperhatikan alat itu dengan seksama dan kini tatapannya tertuju pada dua garis merah yang ada di tengah-tengah alat tersebut. Tangan lelaki itu gemetar dan perlahan tubuhnya pun jatuh ke lantai sambil bersandar di dinding ruangan.
"Ya Tuhan, cobaan apa lagi ini?" gumam Herman dengan mata berkaca-kaca.
"Akh, aku pusing! Aku benar-benar pusing! Sekarang apa yang harus kita lakukan, Mas? Membiarkan Dea di sini hingga ia melahirkan anak haramnya itu? Tidak! Aku tidak bisa! Aku tidak ingin mendapatkan masalah lebih berat lagi, pokoknya Dea harus keluar dari rumah ini dan biar ia membawa anak haram itu kemanapun ia mau!" geram Susi yang kini duduk di kursi makan kemudian menggebrak mejanya dengan cukup keras.
Dea yang baru saja keluar dari kamar mandi langsung syok melihat reaksi kedua kakaknya itu. Terlebih Herman yang masih larut dalam kesedihannya. Dea menangis tersedu-sedu menghampiri Herman. Ia duduk di samping kakaknya itu sembari memeluknya.
"Kak, jangan usir aku. Aku mohon," lirih Dea di sambil memeluk tubuh Herman. "Bukankah Kakak tau, aku hanya punya Kakak. Aku tidak punya siapapun lagi selain kalian," lanjutnya.
Herman tetap diam. Mulutnya terkunci rapat dan tak sepatah kata pun keluar dari bibirnya itu. Dea mengangkat kepalanya dan menatap wajah Herman dengan seksama.
"Dea, seperti yang kukatakan sebelumnya. Sekarang kemasi barang-barangmu dan pergi dari rumah ini!"
Kini Susi berdiri tepat di hadapannya bersama Herman. Dea menengadah, mencoba mengiba kepada kakak iparnya itu. Namun, sepertinya tidak ada lagi rasa iba di hati wanita itu. Ia malah semakin geram melihat wajah memelas Dea saat itu.
"Berilah aku kesempatan sekali lagi, Kak. Biarkan aku tinggal bersama kalian."
__ADS_1
"Dan membiarkan kamu melahirkan anak haram tanpa ayah itu di rumah ini! Tidak, Dea. Rumah ini sudah cukup sial dengan kehadiran dirimu dan sekarang kamu ingin aku menambah kesialan di dalam rumah ini dengan membiarkan kamu melahirkan anak haram itu?"
Sekali lagi cobaan yang begitu berat menghampiri gadis itu. Hatinya kembali tercabik-cabik untuk yang kesekian kalinya. Dea kembali menatap Herman dan kali ini lelaki itu menenggelamkan wajahnya di antara kedua lutut yang sengaja ditekuk.
"Kak Herman! Kak," lirih Dea sambil mengguncang-guncang tubuh Herman.
Karena Dea tidak juga berkemas, Susi bergegas masuk ke dalam kamar gadis itu dan mulai memasukkan barang-barang milik Dea ke dalam sebuah tas besar yang terbuat dari kain. Dengan tergopoh-gopoh, Dea menyusul wanita itu masuk ke dalam kamarnya. Ia memperhatikan Susi yang begitu bersemangat mengemasi barang-barang miliknya.
Dea pun akhirnya pasrah. Ia ikut mengemasi barang-barangnya dan memasukkannya ke dalam tas. Tidak lupa, ia juga membawa Berkas-berkas penting miliknya seperti KTP, ijazah, serta lainnya. Tidak lupa, uang tabungan dari hasil kerja serabutan. Uang yang rencananya akan ia gunakan untuk membayar hutang piutangnya kepada keluarga Julian. Walaupun jumlahnya tidak banyak, tetapi masih bisa ia gunakan untuk bertahan hidup beberapa hari di kota antah berantahnya nanti.
"Sekarang pergi dan jangan pernah kembali lagi. Kamu dengar itu, Dea?" ucap Susi sembari menyerahkan tas itu dengan kasar kepada Dea.
Dengan gemetar, Dea menyambut tas tersebut kemudian menjinjingnya. Ia melangkah gontai dan keluar dari kamar sempit serta pengap tersebut. Herman masih dalam posisinya, lelaki itu sama sekali tidak bergerak. Perlahan Dea menghampiri Herman dan berjongkok di hadapan lelaki itu.
"Kak, aku pergi."
Herman masih diam dan hanya punggungnya yang terlihat bergetar saat itu. Setelah melabuhkan ciuman hangatnya di kepala Herman, Dea pun segera meneruskan langkahnya.
__ADS_1
Susi mengikuti langkah Dea dari belakang hingga gadis itu benar-benar menghilang dari pandangannya.
...***...