Benih Sang Pewaris

Benih Sang Pewaris
Bab 128


__ADS_3

Beberapa hari kemudian.


"Ini uang jajan untukmu, Virna. Jangan lupa menabung, ya!" ucap Susi kepada Virna sembari menyerahkan sejumlah uang untuk anak gadisnya itu.


"Baik, Bu. Aku berangkat dulu, ya!" Setelah mengambil uang itu, Virna pun segera berangkat ke sekolahnya dengan menggunakan sepeda baru.


Herman menghampiri Susi sembari memperhatikan Virna yang sudah berangkat meninggalkan pekarangan rumah mereka.


"Kamu masih membiarkan Virna memakai perhiasan emasnya, Sus?" tanya Herman dengan wajah heran.


"Ya. Memangnya kenapa?" jawab Susi tampak kesal dengan pertanyaan Herman barusan.


Susi melenggang pergi kemudian memasuki kios yang berada tepat di depan teras rumahnya. Herman yang masih penasaran, mengikuti Susi dan berdiri di depan pintu kios.


"Bukan kah ibu guru Virna pernah memintamu agar perhiasan milik Virna tersebut dilepaskan saja?"


"Sudah lah, Mas Herman. Tidak usah mencemaskan hal yang tidak-tidak. Lagi pula sekolah Virna 'kan tidak jauh dari sini. Jadi aap yang harus dikhawatirkan coba?" kesal Susi.


Herman menghembuskan napas berat. "Ya, sudahlah kalau begitu. Aku mau berangkat, anak buahku pasti sudah menunggu," ucap Herman kemudian sembari melenggang pergi.


"Ya, pergilah. Jaring ikan yang banyak! Dari pada di rumah, kerjaannya ngedumel mulu seperti ibu-ibu," gumam Susi setelah Herman pergi meninggalkannya.


Sementara itu.


Virna baru saja tiba di sekolah. Sementara Virna tengah sibuk memarkirkan sepedanya, beberapa teman sekelas gadis itu sedang asik membicarakan dirinya.


"Eh, sekarang Virna banyak uang, ya. Lihat saja, sekarang dia beli sepeda baru. Semuanya serba baru, tas, sepatu, seragam," ucap salah satu temannya.


"Bukan hanya itu, uang jajannya pun banyak sekali. Tiga kali lipat uang jajanku, loh!" sambung lainnya.


"Kata ibuku itu semua karena tantenya. Tantenya 'kan menikah sama orang kaya, makanya Virna pun ketularan kaya."

__ADS_1


"Hush, sudah diam. Virna datang," sahut yang lain.


"Hai, semuanya. Selamat pagi!" sapa Virna sambil melemparkan sebuah senyuman hangat kepada teman-temannya.


"Pagi."


Tak terasa, jam pelajaran pun di mulai. Bu guru yang mengajar di kelas Virna kembali menggelengkan kepalanya melihat penampilan Virna.


"Virna, kemari lah."


Virna menghela napas kasar. Ia tahu bahwa ibu gurunya itu pasti ingin membahas soal perhiasannya lagi. Virna bangkit dari kursinya kemudian berjalan menghampiri meja bu guru.


"Ya, Bu?" Virna berdiri tepat di depan meja.


"Nak, bukankah sudah beberapa kali Ibu minta agar kamu melepaskan perhiasanmu itu. Sekarang kenapa masih saja digunakan, Nak?" tanya Bu Guru yang tampak mulai putus asa memberitahu Virna soal itu.


"Kata Ibu Virna tidak apa-apa, Bu," jawab Virna.


Bu guru itu kembali menggelengkan kepalanya. "Katakan sama ibumu, besok Ibu ingin bicara dengannya."


"Sudah, katakan saja sama ibumu seperti itu," sahut Bu Guru.


Lagi-lagi Virna menghela napas kasar. Ia melenggang pergi dari hadapan Bu Guru dan kembali ke kursinya.


***


Beberapa jam kemudian.


"Aku pulang duluan, ya!" ucap Virna kepada teman-temannya.


"Ya!" sahut mereka ramai-ramai.

__ADS_1


Virna kembali mengayuh sepeda barunya dengan penuh semangat. Sementara teman-temannya hanya berjalan kaki menuju kediaman mereka.


Di tengah perjalanan, Virna melihat sebuah mobil berwarna hitam sedang terparkir di pinggir jalan. Tanpa curiga sedikit pun, Virna terus mengayuh sepedanya melewati mobil tersebut.


Ketika melewati mobil itu, seorang lelaki dari dalam mobil memanggil Virna sambil tersenyum hangat.


"Dek, sebentar! Kakak ingin bertanya," ucapnya dengan setengah berteriak.


Virna menghentikan sepedanya kemudian menoleh ke arah mobil tersebut. "Ya, Kak. Ada perlu apa?"


"Kemarilah dulu. Kakak berjanji tidak akan lama," ucap lelaki itu lagi sambil menggerakkan tangannya agar gadis kecil itu datang mendekat.


Tanpa menaruh rasa curiga, Virna pun memutar sepedanya dan menghampiri mobil tersebut.


"Ada perlu apa, Kak?"


Ternyata di dalam mobil tersebut ada beberapa orang lelaki. Satu duduk di depan kemudi dan beberapa lainnya memilih keluar dari mobil tersebut sambil memperhatikan sekeliling.


"Apa benar ini desa Muara Asri?" tanya lelaki itu, masih dengan senyuman hangatnya menatap Virna.


"Benar, Kak. Memangnya Kakak sedang mencari alamat siapa?"


Sementara lelaki itu tengah asik mengajak Virna berbincang, beberapa lelaki lainnya saling memberi kode. Salah satu dari lelaki itu menghampiri Virna dari belakang kemudian membekap mulutnya dengan sebuah sapu tangan yang sudah diberikan obat bius.


Virna terkejut dan mencoba berontak. Namun, kekuatannya sama sekali tidak ada artinya bagi lelaki itu. Ia terus membekap wajah Virna hingga akhirnya gadis itu kehilangan kesadarannya.


"Cepat bawa masuk! Sebelum ada yang lihat!" titah lelaki yang tadi mengajak Virna bicara.


Lelaki itu pun segera membawa masuk Virna ke dalam mobil. Sementara sang sopir segera melajukan mobil tersebut setelah berhasil menculik gadis itu.


"Huh, tidak sia-sia kita mengintainya beberapa hari ini. Benar 'kan?!"

__ADS_1


"Ya, kamu benar. Setelah ini kita tinggal menunggu duit turun dari langit!" sambung yang lainnya.


...***...


__ADS_2