Benih Sang Pewaris

Benih Sang Pewaris
Bab 40


__ADS_3

Keesokan harinya.


Nadia mengajak Dea sarapan bersama sebelum ia berangkat kerja. Sarapan sederhana, hanya dengan nasi sisa kemarin yang dibuat menjadi nasi goreng serta telur dadar.


"Rencananya kamu mau ke mana setelah ini, Dea?" tanya Nadia kepada Dea yang kembali tampak bingung.


"Entahlah. Mungkin berkeliling lagi, siapa tahu aku dapat pekerjaan," jawab Dea.


"Kalau boleh aku tahu, kamu lulusan apa, Dea?" Nadia menyuap nasi goreng sederhana buatannya kemudian mengunyahnya.


"Aku lulusan SMA."


"Memangnya kamu mau kerja apa, kalau boleh aku tahu?" tanya Nadia lagi dan kali ini wajahnya tampak begitu serius menatap Dea.


"Apa saja, selama itu halal."


"Wah, kebetulan! Perusahaan tempatku bekerja sedang mencari karyawan baru. Apa kamu berminat bekerja di sana? Tapi ... cuma sebagai seorang Office Girl, sih," ucap Nadia dengan sangat antusias.

__ADS_1


"Kamu serius, Nadia? Iya, aku mau." Dea mengangguk cepat. Walaupun ia sama sekali tidak memiliki pengalaman kerja, tetapi hal itu tidak menyurutkan tekadnya untuk mendapatkan pekerjaan tersebut. Dea ingin membuktikan pada orang-orang yang sudah mendzolimi dirinya bahwa ia masih bisa bertahan hidup di kota nan besar itu.


"Sebenarnya aku punya kenalan. Dia seorang calo. Jika kamu ingin cepat diterima kerja, dia bisa menguruskan semuanya. Tapi ... ya itu. Kamu harus membayar jasanya dengan harga yang cukup mahal," jelas Nadia, mencoba mencarikan solusi yang lebih mudah untuk Dea.


Dea terdiam sejenak sambil memikirkan apa yang dikatakan oleh Nadia barusan. "Sebenarnya aku ingin. Tapi, jika aku menggunakan uangku untuk membayar jasanya, lalu bagaimana nasibku selama sebulan nanti?" lirih Dea dengan kepala tertunduk.


Nadia menepuk pundak Dea. "Eh, kalau soal itu sebaiknya tidak usah kamu pikirkan. Kamu bisa tinggal bersamaku untuk sementara. Yang penting kamu benar-benar serius ingin bekerja. Nanti jika kamu sudah gajian, kita bisa kongsi bayar rumah kontrakan ini, bagaimana? Dan soal makan, kamu tidak usah khawatir. Pokoknya selama kamu tidak pilih-pilih makanan, kamu pasti tidak akan kelaparan selama tinggal bersamaku," ucap Nadia sambil terkekeh pelan.


Mata Dea berkaca-kaca setelah mendengar penuturan Nadia. Ia begitu terharu ternyata di kota besar masih ada orang sebaik dan setulus Nadia. Padahal mereka baru saja kenal. "Terima kasih banyak, Nad. Aku tidak tahu bagaimana cara membalas semua kebaikanmu ini," ucap Dea.


"Tapi syaratnya kamu harus kerja yang benar! Karena hidup itu tidak gratis, Teman. Semuanya butuh duit dan duit," lanjut Nadia.


"Sipp! Sebaiknya kita cepat. Aku takut terlambat," ucap Nadia sembari mempercepat sarapan paginya.


Beberapa menit kemudian.


"Yuk, Dea!" ajak Nadia setelah mengunci pintu rumahnya.

__ADS_1


Dea pun mengangguk kemudian mengikuti langkah Nadia menuju perusahaan, di mana Nadia bekerja. Jarak antara perusahaan tempat Nadia bekerja dengan kontrakannya itu tidak terlalu jauh. Mereka masih bisa jalan kaki menuju perusahaan tersebut.


"Nah, Dea! Ini lah perusahaan yang selama ini menjadi tumpuan hidupku." Dengan bangga Nadia memperkenalkan sebuah perusahaan besar yang selama ini memberikannya gaji sesuai UMR.


"Algra group? Nama yang keren," sahut Dea sambil memperhatikan sebuah bangunan besar dan megah, yang berdiri kokoh di hadapannya.


"Ya, Algra ... Alexander Graham Group! Nama yang keren, sekeren gajinya! Pokoknya kamu tidak akan rugi kerja di perusahaan ini," celetuk Nadia sambil tertawa pelan.


"Ya, semoga saja aku diterima bekerja di sini," jawab Dea.


"Amin."


Seperti janjinya, Nadia mengajak Dea menemui seorang Calo yang akan mempermudah urusannya untuk menjadi karyawan di perusahaan itu. Seorang laki-laki paruh baya yang memang selalu stand by di depan perusahaan besar tersebut untuk merekrut pekerja baru yang ingin bekerja di tempat itu.


"Nah, itu dia Pak Joni. Beliau calo di sini. Sini, ikuti aku. Biar aku bantu bicara dengannya," ajak Nadia.


Nadia mengajak Dea menemui Pak Joni kemudian bicara bersama lelaki itu. Cukup lama mereka bicara di sana sembari bernegosiasi masalah uang jasa yang akan dibayarkan oleh Dea nantinya. Hingga akhirnya kesepakatan pun diraih.

__ADS_1


...***...


__ADS_2