
"Tapi, Dad!"
"Apa kamu ingin Daddy mati dulu baru bersedia mengabulkan permintaan Daddy. Iya?"
Alfa terdiam sejenak sambil memikirkan permintaan Sang Daddy. Sebenarnya bukan masalah setuju atau tidak setuju. Hanya saja ia merasa tidak memiliki bakat bergelut di dunia bisnis. Saat kuliah saja ia sering sekali bolos.
"Daddy, sebenarnya aku tidak bermaksud menolak keinginanmu. Hanya saja ... aku tidak yakin akan kemampuanku. Bagaimana jika aku tidak becus mengurus perusahaan itu dan akhirnya hanya membuatnya bangkrut?" sahut Alfa kemudian dengan wajah cemas.
Tuan Harry terkekeh pelan sambil memijit pelipisnya. "Bukankah masih ada Om David yang akan membantumu?"
Alfa melirik David yang sedang berdiri tidak jauh dari posisinya. Lelaki itu mengangguk pelan sambil tersenyum kepadanya.
"Jika tidak dimulai dari sekarang? Lalu kapan lagi, Alfa? Apa kamu tahu, banyak pengusaha muda yang sukses di usia muda mereka. Bahkan usia mereka ada yang masih di bawahmu," tutur Tuan Harry mencoba meyakinkan Alfa.
Alfa menghembuskan napas panjang. "Baiklah kalau begitu. Aku akan coba mulai bulan depan," jawab Alfa.
"Bulan depan?!" pekik Tuan Harry dengan mata membulat sempurna. "Apa kamu yakin Daddy masih hidup hingga bulan depan, Alfa? Tidak-tidak! Minggu depan, bukan bulan depan. Titik!"
Alfa menepuk jidatnya pelan. "Ah, terserah Daddy saja, lah," ucap Alfa sembari bangkit dari posisinya. Ia berniat meninggalkan ruangan itu dan kembali ke kamarnya.
"Ingat ya, Om! Jangan pernah bosan jika nantinya aku banyak bertanya kepadamu," sambung Alfa ketika ia melewati David yang sedang membungkuk hormat kepadanya.
"Tentu saja, Tuan Muda."
"Sepertinya kamu harus mempersiapkan stok sabarmu, David. Aku yakin, Alfa akan menjadi seseorang yang sangat menyebalkan," tutur Tuan Harry setelah Alfa keluar dari kamarnya.
__ADS_1
"Tentu saja, Tuan. Apa pun akan saya lakukan untuk Tuan Muda Alfa."
***
Beberapa hari kemudian, tepatnya sehari sebelum Alfa menginjakkan kakinya di perusahaan Algra Group.
Di perusahaan Algra Group.
"Kamu kenapa, Dea? Kenapa wajahmu pucat sekali?" Nadia menghampiri Dea yang sedang duduk bersandar di dinding sebuah toilet karyawan dengan wajah memucat.
Sejak tadi Nadia mencari keberadaan Dea dan ternyata gadis itu malah berada di dalam kamar mandi dengan kondisi yang cukup memprihatinkan. Terlihat lemah dan wajahnya pun memucat.
"Kamu sakit, ya?" Nadia menyentuh kening Dea untuk merasakan suhu badan gadis itu dan ternyata suhu badannya masih normal.
Dea menepis tangan Nadia dengan lembut sambil menyunggingkan sebuah senyuman hangat, sama seperti biasanya. "Tidak apa-apa, Nadia. Aku rasa maagku kambuh, itu saja."
"Ya. Percayalah," jawab Dea.
"Sebaiknya aku antar kamu ke klinik. Biar kamu bisa beristirahat dan mendapatkan pengobatan dari petugas kesehatan yang bertugas di sana," ajak Nadia sambil membantu Dea bangkit dari posisinya.
Dea tampak enggan karena ia takut diperiksa oleh petugas kesehatan di klinik tersebut. Ia takut kehamilannya diketahui oleh mereka. Selama ini Dea terus menyembunyikan kehamilannya. Bahkan Nadia pun belum tahu bahwa saat ini dirinya tengah mengandung.
"Sebaiknya tidak usah, Nad. Aku tidak apa-apa, kok. Sungguh," ucap Dea mencoba meyakinkan sahabatnya itu.
"Apanya yang tidak apa-apa? Coba lihat wajahmu, pucat begitu!" pekik Nadia.
__ADS_1
"Serius, aku tidak apa-apa."
Karena Dea terus bersikeras bahwa dirinya baik-baik saja, akhirnya Nadia pun mengalah. Nadia mengajak Dea keluar dari ruangan itu kemudian duduk di sebuah kursi yang berada tidak jauh dari ruangan tersebut.
"Kamu sudah tahu 'kan kalau besok Tuan Harrison Alexander Graham, pemilik perusahaan ini akan mengundurkan diri dari jabatannya. Dan posisi Tuan Harry akan digantikan oleh anak semata wayangnya," ucap Nadia dengan sangat antusias.
Dea mengangguk pelan. Ia memang mendengar berita itu. Hampir seluruh karyawan di perusahaan terus membicarakan berita tersebut.
"Ya. Tapi aku tidak tahu siapa nama Boss kita nanti. Katanya dia masih sangat muda dan juga sangat tampan, ya," sahut Dea.
Nadia tersenyum-senyum centil. Ia memukul lengan Dea dengan gemas. "Ish! Seandainya kamu lihat wajahnya, hmmm ...."
Dea tersenyum tipis. Entah mengapa ia tidak tertarik akan ketampanan seorang laki-laki. Ketiga laki-laki yang sudah menghancurkan hidupnya pun tidak kalah tampan. Terutama lelaki yang sudah berhasil merenggut kesuciannya. Lelaki itu bak iblis berwajah malaikat, begitu tampan dan rupawan.
"Memang wajahnya kenapa?"
"Aku pernah lihat dia sekali. Dia datang ke perusahaan ini untuk menemui Ayahnya, Tuan Harry. Ya, Tuhan! Aku hampir kehilangan nyawaku pada saat itu. Dia benar-benar sangat tampan, Dea!" pekik Nadia lagi.
"Ya, ampun!" Dea menggelengkan kepalanya pelan sambil tersenyum.
"Eh, aku serius! Aku yakin, kamu pun pasti akan terpelongo jika melihatnya."
"Tidak akan," sahut Dea.
"Ish, kita buktikan besok, ya! Awas jika nanti kamu terpelongo dan akhirnya kehilangan kata-kata saat melihat ketampanannya," ucap Nadia.
__ADS_1
...***...