
"Dea, Kakak ingin bicara bersama Kak Susi, hanya berdua saja. Bisakah kamu meninggalkan kami sebentar?" pinta Herman kepada Dea dengan sangat pelan.
Dea pun mengangguk pelan kemudian segera bangkit dari posisinya. Ia melangkah keluar menuju halaman depan rumah sederhana itu.
Sepeninggal Dea.
"Katakan padaku, Susi. Dari mana kamu mendapatkan uang sebanyak ini? Jujur, aku tidak percaya jika semua ini adalah hasil tabunganmu. Jangankan untuk menabung, untuk kebutuhan kita sehari-hari saja kamu sering mengeluh bahwa gajiku tidak cukup," ucap Herman dengan sedikit lebih tegas.
Susi mendengus kesal. "Sudah kubilang ini adalah hasil tabunganku. Jika kamu tidak percaya, ya sudah! Itu urusanmu, bukan urusanku!"
"Aku curiga, jangan-jangan kamu mendapatkan semua uang itu dari Tuan Alfa. Apakah itu benar, Susi? Jawab pertanyaanku," kesal Herman. Wajahnya sudah mulai memerah.
"Bu-bukan!" sahut Susi dengan terbata-bata. Ia bahkan tidak berani menatap mata Herman sedikit pun.
"Aku berani bersumpah bahwa ini adalah hasil tabunganku sendiri," sambung Susi mencoba meyakinkan. Namun, wanita itu tetap tidak berani membalas tatapan Herman.
Herman yang sudah tidak bisa menahan rasa kesalnya, bergegas menghampiri Susi lalu memegang kedua bahu wanita itu dengan erat.
"Lihat aku, Susi! Tatap mataku! Jika benar semua ini adalah hasil tabunganmu maka balas lah tatapanku!" tegas Herman sembari mengguncang-guncang tubuh Susi dengan kasar.
__ADS_1
Susi tidak berani menjawab. Bibirnya masih terkunci rapat. Namun, ekspresi wajahnya yang terlihat memucat saat itu, membuat Herman yakin bahwa apa yang ia pikirkan saat ini adalah benar.
"Benar 'kan apa kataku! Aku tidak sebodoh itu, Susi. Memangnya kamu pikir aku tidak tahu berapa harga kalung, gelang serta cincin yang kini melingkar di tubuhmu itu, ha?!"
Herman melepaskan pegangannya di pundak Susi kemudian kembali ke tempat duduknya. Ia duduk di sana sembari mengusap wajahnya dengan kasar. Ia benar-benar kecewa dengan sikap Susi.
"Jika itu benar, memang kenapa? Apakah salah jika Tuan Alfa memberiku sedikit rejekinya? Lagi pula lelaki itu baik, dia sudah menganggap aku seperti Kakaknya sendiri," sahut Susi kemudian sembari menetralkan kembali napasnya yang sempat memburu.
Herman kembali mendengus kesal. "Baik katamu? Ya, menurutmu dia baik karena dia sudah menyuapmu dengan banyak uang. Aku yakin, Dea pun akan sangat marah jika ia mendengar hal ini. Ini sama artinya kamu sudah menjual harga diri Dea kepada lelaki itu!"
"Kamu terlalu berlebihan, Mas!" kesal Susi.
Sementara itu.
Dea melangkah menelusuri jalan di desa itu sambil menikmati semilirnya angin yang bertiup dan menerpa wajahnya dengan lembut. Ia tidak peduli walaupun saat itu para warga desa yang ia lewati tengah berbisik-bisik, membicarakan aibnya.
Tiba-tiba langkah Dea terhenti. Tatapannya fokus pada sebuah bangunan yang letaknya menghadap ke arah bibir pantai. Wajahnya tampak sendu saat ia teringat akan impian-impian yang pernah ia sematkan di tempat itu.
Di mana ia pernah berharap bisa hidup bahagia bersama Julian dan anak-anaknya di tempat itu. Rumah impian yang dibangun oleh Julian untuknya. Namun, semua itu kini tinggal kenangan yang tidak akan pernah menjadi nyata.
__ADS_1
Dea masih terdiam di tempatnya berdiri dengan tatapan yang masih tertuju pada bangunan tersebut. Ada yang berbeda dari bangunan itu. Terakhir kali Dea melihatnya, bangunan itu sudah hancur dan tidak layak huni. Namun, sekarang bangunan itu kini kembali berdiri dengan gagahnya.
Tak ada lagi kaca yang pecah, pintu yang rusak atau jendela yang hampir terlepas. Semuanya kembali seperti sedia kala. Tampak sempurna seperti sebelum kejadian itu, bahkan bisa dikatakan jauh lebih bagus dan lebih indah dari sebelumnya.
"Bagaimana menurutmu, Dea? Rumah ini terlihat lebih bagus dan lebih mewah dari sebelumnya, 'kan?"
Terdengar suara yang sangat tidak asing di telinga Dea. Suara yang berasal dari balik punggungnya. Suara seorang laki-laki pernah mengisi hati, sekaligus membuatnya kecewa. Sangat-sangat kecewa.
Dea perlahan berbalik dan ternyata benar, lelaki itu adalah Julian. Ia menatap lekat wajah Julian yang kini tengah menyunggingkan sebuah senyuman tipis kepadanya.
Julian menghembuskan napas panjang kemudian kembali menatap bangunan yang berdiri kokoh di hadapannya.
"Senang bisa bertemu denganmu lagi, Dea. Aku pikir kamu tidak akan pernah kembali lagi ke desa ini." Julian kembali tersenyum sinis.
"Oh ya, kamu pasti sudah tahu bahwa acara pernikahanku bersama Reva akan digelar beberapa hari lagi. Jika kamu mau, kamu bisa saja hadir ke pesta pernikahan kami. Ehm, soal rumah ini ... aku harap kamu tidak akan marah, sebab rumah ini akan aku tempati bersama Reva setelah kami menikah," lanjut Julian.
"Lakukan lah apa pun yang kamu ingin lakukan karena aku sudah tidak peduli. Di antara kita sudah tidak ada hubungan apa pun lagi, jadi kenapa aku harus marah?" balas Dea.
Dea berbalik kemudian kembali melenggang pergi dari tempat itu. Meninggalkan Julian yang tampak kesal setelah mendengar jawaban dari gadis itu.
__ADS_1
...***...