Benih Sang Pewaris

Benih Sang Pewaris
Bab 88


__ADS_3

Beberapa hari kemudian, di desa Muara Asri.


Dea terdiam di depan kaca rumah sambil menatap ke arah luar dengan wajah kusut. Ini sudah yang kesekian kalinya Julian berdiri di depan rumahnya dengan penampilan acak-acakan.


Susi yang baru saja keluar dari kamarnya, segera menghampiri Dea.


"Kenapa, Dea? Julian datang lagi?" tanya Susi kepada Dea sembari ikut mengintip ke arah luar, tepatnya ke halaman depan rumahnya.


"Hmm, tidak salah lagi!" Susi mendengus kesal. "Sebenarnya apa yang terjadi pada lelaki itu? Tiap hari mabuk-mabukan dan setelah puas mabuk, ia datang dan membuat onar lagi di sini!" gerutu Susi mengerutuki kedatangan Julian untuk yang kesekian kalinya.


Susi melengos pergi dan menemui Herman yang masih berada di kamar mereka. "Mas Herman! Mas," panggil Susi sembari membuka pintu kamarnya.


"Ada apa lagi, Susi?"


"Coba kamu lihat di depan. Lelaki stress itu datang lagi dan aku takut ia kembali berbuat onar di sini," sahut Susi.


Herman yang tadinya berdiri membelakangi Susi sambil mengenakan baju kaosnya, segera berbalik dan menatap wanita itu lekat. "Siapa maksudmu? Julian?"


Susi mengangguk cepat. "Ya, siapa lagi kalau bukan Julian! Lelaki itu sepertinya benar-benar sudah gila. Mungkin dia kena karma karena seluruh keluarganya sudah mempermalukan dan menyebarkan aib kita," sahut Susi.


Tanpa mendengarkan kata-kata Susi, Herman bergegas keluar dari kamarnya kemudian berjalan menuju pintu utama, di mana Dea masih berdiri di sana dengan wajah cemas.

__ADS_1


"Tetaplah di sini dan jangan ikut keluar, mengerti?!" tegas Herman kepada Dea.


Dea mengangguk pelan, sementara Herman terus melangkah keluar dan menemui lelaki itu.


"Mau apa lagi kamu ke sini, Julian? Mau berbuat onar lagi?" tanya Herman dengan wajah kesal menatap Julian yang masih berdiri di halaman rumahnya.


Julian menggelengkan kepalanya. "Tidak, Mas. Saya ke sini hanya ingin bertemu Dea dan saya berjanji tidak akan pernah berbuat onar lagi, percayalah!" jawab Julian sambil mengiba kepada Julian.


Herman menghembuskan napas berat. "Sebaiknya kamu pulang saja, Julian. Aku sudah tidak ingin berurusan dengan keluargamu lagi. Sudah cukup keluarga kalian mempermalukan kami selama ini," balas Herman sembari menghampiri Julian dan mendorong pelan tubuhnya agar segera pergi dari tempat itu.


Namun, Julian enggan beranjak dari tempat itu. Ia bersikeras bertahan di sana walaupun Herman terus berusaha mengusirnya.


Namun, bukannya menggubris ucapan Herman, Julian malah berteriak dengan lantang memanggil Dea. "Dea! Aku tahu kamu di dalam. Sekarang keluar lah, Dea, dan dengarkan penjelasanku!"


"Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, Julian. Lagi pula, kamu sudah tidak mungkin kembali bersama Adikku karena Adikku sudah tidak memiliki perasaan apa pun lagi terhadapmu," kesal Herman sembari mendorong tubuh Julian dengan kasar, keluar dari pekarangan rumahnya.


"Itu bohong! Saya tidak percaya! Saya yakin Dea masih mencintai saya, sama seperti saya yang masih memiliki perasaan kepadanya," sahut Julian dengan sangat yakin.


Herman tertawa sinis mendengar penututan lelaki itu. "Bagaimana bisa kamu begitu yakin bahwa Dea masih mencintaimu, sementara kamu sudah menyakiti hatinya sedemikian rupa. Apa kamu sudah lupa akan hal itu, Julian? Dan satu hal lagi, kamu bilang bahwa kamu masih memiliki perasaan terhadap Dea, lalu kenapa dengan begitu mudah berpaling dan memutuskan untuk menikah dengan istri barumu."


"Karena itu lah, berikan aku waktu untuk bertemu dengan Dea dan menjelaskan semuanya. Berilah aku kesempatan sekali lagi untuk memperbaiki kesalahanku, Mas," lirih Julian dengan mata berkaca-kaca menatap Herman.

__ADS_1


"Tidak! Sekarang pergilah!" tegas Herman sembari menunjuk ke arah jalan agar Julian segera pergi dari tempat itu.


Julian pun akhirnya menyerah dan perlahan pergi dari tempat itu. Sementara Herman kembali masuk ke dalam rumah kemudian mengunci pintunya.


"Dea, kemarilah!" titah Herman sembari duduk di sofa ruang depan.


"Ada apa, Kak?" Dea pun duduk tak jauh dari sisi Herman, sementara Susi memilih duduk di samping suaminya itu.


"Begini, Dea. Jika lelaki dari kota itu benar-benar serius ingin bertanggung jawab atas dirimu dan juga bayimu, sebaiknya kamu terima saja lamarannya. Kakak khawatir, Dea. Kakak takut Julian akan semakin nekat dan membahayakan dirimu dan juga kandunganmu. Setidaknya dengan menikah dengan lelaki kota itu, kamu bisa pergi dari desa ini dan memulai hidup bersama lelaki itu," ucap Herman dengan wajah kusut menatap Dea.


Tentu saja ucapan Herman saat itu seperti angin segar untuk Susi. "Ya, itu benar sekali, Dea. Lagi pula ya, Mas. Tuan Alfa memang sudah mempersiapkan semuanya, tinggal menunggu persetujuan dari Mas saja dan semuanya beres," jawab Susi dengan wajah semringah.


Herman menghembuskan napas berat. "Bagaimana, Dea?" tanya Herman sambil menatap lekat adik perempuannya itu.


Walaupun tampak ragu, Dea pun akhirnya mengangguk. "Seperti yang aku katakan sebelumnya, Kak. Aku akan menerima lamarannya demi bayi ini," jawab Dea.


"Baiklah kalau begitu. Susi, hubungi lelaki itu dan suruh dia menemuiku. Aku ingin bicara empat mata dengannya," ucap Herman kemudian.


"Baik, Mas. Tentu saja," jawab Susi dengan sangat antusias.


...***...

__ADS_1


__ADS_2