
Beberapa hari kemudian.
"Om David, sebelum pulang, aku ingin kita mampir ke toko perhiasan langganan Mommy. Bisa 'kan?" tanya Alfa kepada David yang kini tengah fokus dengan kemudinya.
"Baik, Tuan. Tentu saja," jawab David.
Dan seperti permintaan Alfa, David menghentikan mobilnya tepat di depan sebuah toko perhiasan, yang selama ini menjadi tempat favorit Nyonya Kharisma membeli berbagai koleksi perhiasan mahalnya.
Setelah mobilnya terparkir rapi di halaman toko tersebut, Alfa pun bergegas memasuki bangunan megah itu. Baru saja ia menginjakkan kakinya di sana, kedatangan Alfa sudah disambut oleh dua orang karyawan berpenampilan rapih dan menarik yang kini menyapanya sambil tersenyum hangat.
"Selamat datang, Tuan. Ada yang bisa kami bantu?" tanya salah satu dari mereka.
"Aku ingin membeli cincin untuk kekasihku, bisakah kalian membantuku memilihnya?" jawab Alfa.
"Tentu saja, Tuan. Cincin yang seperti apa yang Anda inginkan? Cincin pertunangan atau--"
"Cincin pertunangan."
"Oh, baiklah."
Wanita itu pun menuntun Alfa ke sebuah sofa dan memintanya menunggu di sana. Sementara mereka mengambilkan koleksi cincin pertunangan terbaik yang dimiliki oleh toko tersebut dan membawanya kembali ke hadapan Alfa.
"Ini adalah koleksi cincin pertunangan terbaik yang kami miliki. Silakan dilihat-lihat."
__ADS_1
Wanita itu meletakkan sebuah kotak segi empat berukuran cukup besar ke atas meja, yang letaknya tepat di hadapan Alfa. Alfa memperhatikan cincin itu satu-persatu dengan wajah seriusnya. Hingga akhirnya ia menemukan sebuah cincin yang begitu menarik perhatiannya.
"Aku mau lihat yang ini."
Alfa meraihnya, lalu memasang cincin tersebut ke jari kelingkingnya. Lelaki itu tersenyum puas setelah memastikan bahwa ternyata ukuran cincin tersebut sangat pas di jari kelingkingnya.
"Pas sekali. Aku ambil yang ini," ucap Alfa sambil tersenyum lebar menatap para wanita itu.
"Baik, Tuan. Tentu saja," jawab salah satu dari wanita itu.
Setelah membayar cincin tersebut, Alfa pun kembali ke mobilnya. Ia meminta David untuk mengantarnya kembali ke kediaman mewahnya.
Di perjalanan.
David melirik benda berkilau itu melalui kaca spionnya kemudian tersenyum hangat. "Cincin yang sangat bagus. Pasti harganya mahal," sahut David.
"Tentu saja, Om. Tapi aku sama sekali tidak mempermasalahkan harganya, yang penting Cecilia menyukai cincin ini. Apa menurut Om, Cecilia akan menyukainya?" sambung Alfa sembari memperhatikan cincin itu dengan seksama.
"Tentu saja, Tuan Muda. Saya sangat yakin Nona Cecilia pasti akan sangat menyukainya," jawab David.
"Semoga saja. Aku sudah tidak sabar ingin melihat bagaimana reaksi Cecilia ketika aku memberikan cincin ini untuknya." Alfa menutup kembali kotak perhiasan itu kemudian menyimpannya ke dalam saku jas miliknya.
Tidak berselang lama, mobil yang dikemudikan oleh Daniv tiba di depan kediaman mewah milik Tuan Harry. Setelah mengucap terima kasih kepada David, Alfa pun bergegas masuk ke dalam rumah mewah itu.
__ADS_1
"Eh, Alfa. Kamu sudah pulang, Nak. Bagaimana pekerjaanmu hari ini," sapa Nyonya Kharisma ketika Alfa melewati dirinya yang sedang duduk di sofa ruang utama.
"Mommy?" Alfa bergegas menghampiri Nyonya Kharisma kemudian mencium kedua pipi wanita paruh baya itu dengan lembut.
"Sama seperti biasa, Mom. Bekerja itu membosankan," sahut Alfa sembari menjatuhkan dirinya di sofa, tepatnya di samping Nyonya Kharisma.
Alfa melonggarkan dasinya dan menyandarkan punggungnya di sandaran sofa. Wajahnya pun terlihat kusut, seolah menggambarkan bagaimana suasana hatinya saat itu.
"Ish, Alfa. Tidak boleh berkata seperti itu. Kalau bukan kamu yang meneruskan pekerjaan ini, lalu siapa lagi? Anakmu?" Nyonya Kharisma tertawa renyah setelah menggoda Alfa.
"Anak?" Alfa mengernyitkan dahinya. Tiba-tiba ia teringat akan cincin pertunangan yang akan ia berikan untuk Cecilia. Alfa meraih kotak perhiasan itu dari saku jasnya kemudian memperlihatkannya ke hadapan Nyonya Kharisma.
"Coba lihat ini, Mom. Cantik, bukan?"
"Apa ini, Alfa? Cincin ini untuk siapa?" tanya Nyonya Kharisma kepada Alfa dengan wajah heran.
"Untuk Cecilia, Mom. Apa menurut Mommy, Cecilia akan menyukainya?"
"Ya ampun, Alfa. Tak akan ada wanita yang menolak dikasih cincin sebagus ini dan Mommy tahu berapa harga cincin ini," celetuk Nyonya Kharisma.
Alfa terkekeh pelan. "Sudah, Mommy. Jangan disebutkan. Tidak penting berapa mahal harganya, yang penting Cecilia menyukainya," jawab Alfa.
"Oh, kamu manis sekali, Alfa." Nyonya Kharisma mencubit pelan hidung mancung Alfa sambil tersenyum hangat.
__ADS_1
...***...